Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 18 April 2026
home masjid detail berita

Profil dan Sejarah Masjid Kampus UGM, Dibangun di Bekas Makam Keturunan Tionghoa

haris budiman Kamis, 27 Februari 2025 - 15:16 WIB
Profil dan Sejarah Masjid Kampus UGM, Dibangun di Bekas Makam Keturunan Tionghoa
Masjid Kampus UGM. (Google/Yunita Setiawati)
LANGIT7.ID-Salah satu masjid kampus terkenal di Yogyakarta adalah Masjid Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM).

Sejarah dan pembangunan Masjid Kampus UGM ini pun melahirkan sejumlah kisah menarik. Salah satunya lokasi masjid adalah bekas kuburan atau pemakaman warga keturunan Tionghoa.

Ada sekitar 1.800 makam yang harus dipindah untuk pembangunan masjid di kawasan lahan seluas 2,8 hektare tersebut.

Selain itu, ditemukan juga dua buah makam yang berada di bawah pohon kamboja di luar pagar kompleks makam.

Dari hasil penelusuran informasi, diperoleh keterangan bahwa makam tersebut merupakan makam Kiai Mbulak dan Nyai Sumur, dua tokoh yang oleh masyarakat sekitar dianggap sebagai leluhur lokasi Bulaksumur saat ini.

Sejarah Masjid Kampus UGM

Pembangunan Masjid Kampus UGM diinisiasi Prof. Koesnadi Hardjasumantri yang menjabat Rektor UGM kala itu. Pembangunan dimulai pada tanggal 21 Mei 1998, tepat pada saat Presiden Soeharto lengser.

Pencarian lokasi Masjid Kampus dilakukan oleh Prof. Koesnadi Hardjasoemantri bersama dosen muda Syaukat Ali dan pada pencarian pertama menemukan lokasi di sebelah Utara Fakultas Teknik.

Di lahan tersebut tengah dibangun sebuah masjid baru (saat ini telah menjadi masjid Siswa Graha). Sehingga diputuskan untuk kembali mencari lokasi lain.

Pencarian kedua mendapatkan lokasi komplek makam Tionghoa yang ada di sebelah Timur UGM. Status lahan tersebut ternyata masih merupakan tanah Kraton (Sultan Ground).

Kondisi lahan tersebut membawa dua konsekuensi, yang pertama terkait dengan penggunaan lahan sebagai makam Tionghoa sehingga harus memindahkan makam. Yang kedua terkait dengan status tanah Keraton sehingga panitia harus mengurus perizinan.

Untuk merealisasikan gagasan pendirian masjid ini, Prof. Koesnadi mengumpulkan beberapa mahasiswa arsitek untuk membuat desain masjid. Setelah desain masjid selesai dan perencanaan lebih siap, Prof. Adnan sebagai Rektor berikutnya, mengeluarkan SK kepanitiaan yang menunjuk Prof. Koesnadi Hardjasoemantri sebagai ketua panitia pembangunan masjid kampus.

Walaupun persiapan dan panitia pembangunan masjid sudah matang, realisasinya tidak mudah dimulai terutama karena persoalan yang menyangkut lokasi di pekuburan Tionghoa .

Pemindahan makam keturunan Tionghoa

Dikutip dari website ugm.ac.id, makam Tionghoa tersebut kemudian dipindahkan di daerah Piyungan. Setelah lahan lokasi pemindahan makam didapatkan, dimulai pencarian ahli waris untuk mendapat persetujuan pemindahan makam. Jumlah makam yang harus dipindahkan oleh panitia pada tanah seluas 2,8 hektar tersebut adalah 1.800 makam.

Untuk menghindari masalah hukum yang akan timbul dalam proses tersebut, kegiatan pemindahan makam dimulai dalam iklan pada surat kabar Bernas dan Sinar Harapan.

Iklan tersebut ditayang sebanyak tiga kali dalam jangka waktu tiga bulan. Isi iklan adalah pemberitahuan kegiatan pemindahan dan mengumumkan pada ahli waris yang menyerahkan proses pemindahan pada pihak UGM tidak akan dipungut biaya apa pun.

Terdapat 14 tim (satu tim terdiri dari enam orang) yang bertugas menggali makam dan mengambil jenazah. Kegiatan penggalian dan pengambilan jenazah dilakukan oleh tim yang berbeda.

Tim tersebut berasal dari para group pemakaman yang sebagian besar berdomisili di Sagan. Sempat terjadi negosiasi tarif yang alot antara pihak UGM dan pekerja penggalian.

Proses pengangkutan jenazah ke Piyungan menggunakan truk dengan dua tingkat dan kapasitas angkut sekali jalan sebanyak 25 peti. Dengan kapasitas tersebut. proses pemindahan memakan waktu sekitar dua bulan.

Di akhir pemindahan, ditemukan dua buah makam yang berada di bawah pohon kamboja di luar pagar kompleks makam.

Dari hasil penelusuran informasi, diperoleh keterangan bahwa makam tersebut merupakan makam Kiai Mbulak dan Nyai Sumur, dua tokoh yang oleh masyarakat sekitar dianggap sebagai leluhur lokasi Bulaksumur saat ini.

Penamaan Masjid Kampus UGM

Proses pemberian nama Masjid Kampus UGM memiiiki kisah tersendiri. Awalnya, pemberian nama Masjid Kampus UGM akan dilakukan dengan cara mengumpulkan referensi, menyaringnya, dan kemudian memilih mana yang paling baik dan mengandung makna yang baik pula.

Sempat pula terlintas akan dinamai sebagai Masjid Al-lkhlas. Akan tetapi ketika disampaikan pada Rektor UGM yang kala itu dijabat oleh Ichlasul Amal, beliau tidak menyetujui karena ada kemungkinan muncul stigma bahwa penamaan dipengaruhi oleh dirinya.

Akhirnya Ichlasul mengajukan usulan agar penamaan masjid kampus cukup dengan Masjid Kampus UGM. Ini didasari pada pengamatan bahwa di Timur Tengah, masjid biasanya tidak memiliki nama seperti di Indonesia, tetapi penamaan masjid merujuk pada lokasi tersebut.(*)

(hbd)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 18 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)