LANGIT7.Id, Jakarta - - Di antara kewajiban suami terhadap istrinya dan istri terhadap suami adalah tidak memburuk-burukkannya di depan orang lain. Keduanya wajib menjaga nama baik masing-masing, sebagaimana dalam al-Qur'an dinyatakan bahwa suami adalah pakaian untuk istri dan istri adalah pakaian untuk suami.
"Diibaratkannya suami istri seperti pakaian, apa maknanya, pertama pakaian menjadi kebanggan. Artinya, seorang suami harus bisa menjadi kebanggan istri begitupun sebaliknya, jangan kemudian disesali, karena kalau marah kan suka berucap yang tidak terkontrol," kata almarhum KH Zainuddin MZ dalam salah satu ceramahnya, dikutip Jumat (24/9).
"Sebab kalau kebanggaan hilang, maka wibawa akan hilang, kalau kewibawaan sudah hilang maka rumah tangga sudah sulit untuk dipertahankan," imbuhnya.
Baca juga:
Kangen Zainuddin MZ: Jadikan Agama Motivasi Pilih Pasangan HidupKedua, makna dari pakaian adalah menutup aurat. Artinya kalau seorang istri mempunyai kekurangan, maka suamilah yang menutupi, begitupun kalau seorang suami mempunyai kekurangan, maka istri juga yang harus menutupi.
"Jangan kekurangan suami diceritakan di pasar umum atau kekurangan istri dibuka dimana-mana. Itu artinya suami-istri tidak berfungsi sebagai pakaian, malah justru saling membuka aurat masing-masing," ujarnya.
Kewajiban lain bagi seorang suami adalah tidak berpisah dengan istri kecuali di rumah. Maksudnya jika suatu hari seorang suami marah kepada istrinya, maka seorang suami jangan menyuruh istri pulang ke rumah orang tuanya. Cukup pisahkan dari tempat tidurnya.
"Pada prinsipnya, kewajiban yang menyangkut masalah sandang, pangan, menjaga kehormatan, dan ketenangan di rumah tangga adalah persoalan internal keluarga. Jangan apa-apa orang tua dipanggil, mertua di bel, cobalah kita selesaikan intern dulu, jika belum ada titik temu barulah undang orang tua," kata dia.
Baca juga:
Kangen Zainuddin MZ: Hiduplah Bermakna karena Kiamat Rahasia AllahSementara kewajiban istri merupakan hak untuk suami. Melalui hadits riwayat Ibnu Majjah bagi seorang mukmin selain takwa kepada Allah, tidak ada yang dapat membawa manfaat selain istri yang salehah. Istri salehah adalah istri yang mampu menjalankan kewajibannya.
"Kewajiban istri yang pertama adalah taat pada suaminya, sampai-sampai Nabi mengatakan jikalau boleh aku memerintahkan manusia sujud kepada suaminya, aku perintahkan istri sujud kepada suaminya," tuturnya,
"Kedua, ibadah sunnah yang tidak mendapatkan ridha suami bukan saja tidak mendapatkan pahala, tapi bisa saja mendatangkan dosa. Apalagi amalan yang mubah dan tidak ada dasar hukumnya, selama perintah suami tidak bertentangan dengan perintah Allah, maka istri wajib taat kepada suami," sambungnya.
Selain itu, jika istri dipandang suaminya, dia pandai membahagiakan hati suaminya. Ketika Rasulullah pernah gelisah setelah mendapatkan wahyu melalui malaikat Jibril dan pulang dengan keadaan gemetar, Khadijah dapat menenangkannya dengan menyebutkan bahwa Allah yang langsung menjadi pelindung.
"Seorang istri kalau suami punya penyakit tidak betah di rumah, maka siap-siap dimadu. Maka, caranya sambut suami dengan senyum ketika pulang ke rumah dengan senyum pepsodent, bukan monyong bin masam," katanya berkelakar.
(asf)