LANGIT7.ID-Jakarta; Prancis, Inggris, dan Jerman pada Rabu kemarin mendesak Israel agar membuka jalan untuk bantuan kemanusiaan ke Gaza tanpa hambatan. Mereka juga memperingatkan agar bantuan makanan dan obat-obatan tidak dijadikan alat politik dalam konflik yang sedang berlangsung.
Setelah gencatan senjata sejak 19 Januari yang memungkinkan bantuan masuk ke Gaza, Israel pada hari Minggu mengumumkan penutupan jalur bantuan sampai Hamas menyetujui syarat perpanjangan gencatan senjata.
"Kami meminta pemerintah Israel untuk mematuhi kewajiban internasionalnya dalam menjamin pengiriman bantuan kemanusiaan yang cepat, aman, dan lancar untuk penduduk Gaza," tulis ketiga negara dalam pernyataan bersama mereka.
"Penghentian barang dan pasokan yang masuk ke Gaza seperti yang diumumkan Israel bisa melanggar hukum kemanusiaan internasional," tambah mereka.
"Bantuan kemanusiaan tidak boleh dikaitkan dengan gencatan senjata atau dipakai sebagai alat politik."
Ketiga negara Eropa tersebut menggambarkan kondisi kemanusiaan di Gaza saat ini sebagai "sangat memprihatinkan."
Kesepakatan gencatan senjata fase pertama berakhir akhir pekan lalu setelah enam minggu keadaan relatif tenang. Selama periode itu, terjadi pertukaran sandera Israel yang ditawan saat Hamas menyerang Israel pada 7 Oktober 2023 dengan tahanan Palestina yang ditahan di penjara Israel.
Sementara Israel ingin memperpanjang fase pertama hingga pertengahan April, Hamas ngotot ingin masuk ke fase kedua kesepakatan yang harusnya mengarah pada pengakhiran perang secara permanen.
Dari 251 sandera yang ditawan pada serangan tersebut, 58 masih berada di Gaza, termasuk 34 orang yang menurut militer Israel sudah meninggal.
"Sangat penting gencatan senjata terus berlanjut, semua sandera dibebaskan, dan jalur bantuan kemanusiaan ke Gaza tetap terjamin," kata ketiga negara Eropa itu.
"Semua sandera harus dibebaskan tanpa syarat dan Hamas harus hentikan perlakuan yang merendahkan dan menghinakan," tambah mereka.
(lam)