Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 26 Mei 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Syaikh Utsaimin: Puasa Mempunyai Hikmah yang Agung dan Faedah yang Melimpah Ruah

miftah yusufpati Senin, 10 Maret 2025 - 04:00 WIB
Syaikh Utsaimin: Puasa Mempunyai Hikmah yang Agung dan Faedah yang Melimpah Ruah
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Foto/Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID--Di antara nama-nama Allah Ta’ala adalah Al-Hakim. Dan dzat yang hakim itu disifati dengan sifat hikmah. Sedangkan hikmah itu adalah bersikap bijaksana dalam urusan dan menempatkan sesuatu sesuai tempatnya. Dan konsekuensi dari salah satu nama di antara nama-nama Allah Ta’ala ini adalah bahwa semua apa yang Dia ciptakan dan Dia syariatkan itu untuk hikmah yang agung.

Hal ini akan diketahui oleh orang yang mengetahuinya sedangkan orang yang jahil maka dia tidak mengetahuinya.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam bukunya berjudul Fushul fi Shiyam menjelaskan adapun puasa yang telah Allah Ta’ala syariatkan dan wajibkan kepada hamba-Nya itu mempunyai hikmah yang agung dan mempunyai faedah yang melimpah ruah.

Menurut ulama era kontemporer ahli dalam sains fiqh dan lebih dikenal dengan nama Syaikh Ibn 'Utsaimin atau Syaikh 'Utsaimin ini di antara hikmah puasa adalah: puasa merupakan ibadah yang dipergunakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Rabbnya, dengan meninggalkan hal-hal yang dia sukai seperti makan, minum, dan hubungan badan, supaya dengan amalan ini ia bisa menggapai keridaan dari Rabbnya dan mendapatkan kemenangan di negeri kemuliaan-Nya.

Baca juga: Dampak Pada Anak Jika Puasa Tanpa Sahur

"Maka dari itu akan menjadi jelas bagi seseorang yang mengutamakan kecintaannya kepada Rabbnya daripada kecintaan terhadap dirinya sendiri, dan lebih mengutamakan negeri akhirat daripada kehidupan dunia," jelasnya.

Puasa merupakan sebab untuk meraih ketakwaan, kata Syaikh Al-Utsaimin, jika seseorang melaksanakan karena meyakini wajibnya hukum berpuasa tersebut.

Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.”(QS. Al-Baqarah: 183)

Maka orang yang berpuasa itu diperintahkan agar bertakwa kepada Allah Ta’ala, yaitu dengan menjalankan puasa semata-mata ikhlas karena-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dan ini merupakan tujuan terbesar dari ibadah puasa. Dan bukanlah tujuan puasa itu untuk menyiksa orang yang berpuasa dengan meninggalkan makan, minum, dan berhubungan badan.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Barang siapa yang tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan palsu, serta kebodohan, maka Allah Ta’ala tidak butuh kepada puasanya meski ia meninggalkan makan dan minum.”(HR Bukhari)

Ucapan palsu adalah setiap ucapan yang diharamkan, di antaranya seperti berdusta, ghibah, mencela, dan yang lainnya dari jenis ucapan-ucapan yang diharamkan.

Sedangkan perbuatan palsu adalah melakukan perbuatan yang diharamkan, seperti memusuhi manusia dengan bersikap khianat, mencela, memukul badan, mengambil harta dan lain sebagainya. Dan masuk dalam kategori ini adalah mendengarkan sesuatu yang diharamkan, seperti mendengarkan nyanyian-nyanyian dan ma’azif yang diharamkan.

Baca juga: Siapa Saja yang Bayar Fidyah untuk Puasa Ramadhan?

Al-ma’azif yaitu semua alat yang sia-sia. Dan arti kebodohan adalah ketololan, yaitu tidak lurus dalam ucapan dan perbuatan. Maka apabila seorang yang berpuasa itu berjalan sesuai dengan konsekuensi dari ayat dan hadis ini, niscaya puasanya menjadi mediator untuk mentarbiyah diri pribadi dan mendidik akhlaknya, dan agar istiqamah dalam menempuhnya.

Dan tidaklah dia keluar dari bulan Ramadan itu melainkan dalam keadaan benar-benar mendapatkan dampak (pengaruh) yang dalam (dari puasanya), di mana pengaruh ini tampak pada diri, akhlak dan kehidupannya.

Menurut Syaikh Al-Utsaimin, termasuk dari hikmah berpuasa adalah:

Pertama, orang yang kaya mengetahui kadar kenikmatan yang telah Allah Ta’ala berikan kepadanya dalam bentuk kekayaan. Allah Ta’ala telah memudahkan baginya untuk mendapatkan hal yang ia inginkan dari makanan, minuman, berhubungan badan yang telah Allah Ta’ala perbolehkan menurut timbangan syar’i, dan Allah Ta’ala juga telah memberikan kemudahan berupa kemampuan untuk mendapatkannya.

Oleh sebab itulah ia bersyukur kepada Rabbnya atas nikmat-nikmat ini. Dia akan selalu mengingat-ingat saudaranya yang fakir yang tidak mulus jalan yang ia tempuh untuk mendapat yang seperti itu. Maka ia akan mewujudkan rasa syukurnya tersebut dengan cara bersedekah dan berbuat kebaikan.

Kedua, melatih untuk mengekang hawa nafsu dan mengendalikannya, hingga ia mampu menyetirnya dan mengerahkannya kepada hal-hal yang akan mendatangkan kebaikan dan kebahagiaan baginya, baik di dunia maupun akhirat.

Baca juga: Ibu Hamil Berpuasa Harus Seimbangkan Nutrisi saat Sahur dan Berbuka

Berpuasa juga akan menjauhkan dirinya dari menjadi sifat manusia yang berperangai seperti binatang yang tidak mampu mengekang diri dalam menuruti kelezatan syahwat, padahal dalam perbuatan ini mengandung kemaslahatan bagi dirinya.

Ketiga, mendapat faedah kesehatan yang merupakan buah dari berhentinya makan sehingga berhenti pula pencernaan dalam jangka waktu tertentu, dan mengurangi zat-zat yang berlebihan dan zat-zat yang membahayakan terhadap tubuh atau yang lainnya.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 26 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:53
Ashar
15:14
Maghrib
17:47
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)