LANGIT7.ID - Selalu ada hal-hal unik yang jadi kenangan saat menjadi santri. Selain momen mencari tempat merenung karena rindu kepada orang tua, suka duka tinggal di pesantren sulit terlupakan. Teman yang usil, tugas hafalan yang menumpuk, dihukum, antri wudhu untuk tahajud, tidak kebagian makanan, dan lain sebagainya.
Momen merindukan juga banyak terjadi saat akhir pekan tiba. Biasanya santri merasa bahagia lantaran bisa sedikit bernafas lega dari tugas pondok yang menumpuk, namun ada pula yang merencanakan berbagai hal untuk merayakan akhir pekan ala santri. Ada pula yang mencoba melobi ustadz agar bisa diberi izin pulang ke rumah.
Bagi kalian yang pernah
mondok, berikut LANGIT7.ID rangkum 7 momen yang bikin kangen saat
nyantri.
1. Kepulangan

Santri berbeda dengan siswa di sekolah-sekolah umum yang bisa pulang ke rumah setiap hari. Sehingga, momen pulang kampung seumpama hadiah terindah usai menjalani berbagai macam aktivitas.
Terlebih lagi izin untuk pulang kampung sangat susah. Kadang pengurus pondok menerapkan deretan persyaratan yang harus dipenuhi jika ada santri yang ingin pulang kampung. Syarat sudah dipenuhi pun belum tentu bisa mendapatkan kado terindah bernama izin itu.
Maka waktu pulang kampung atau kepulangan merupakan momen yang sangat dinantikan. Bahkan terkadang santri menempel potongan kalender di dinding lemari untuk menandai hari libur.
Selama satu tahun penuh, umumnya santri hanya boleh pulang kampung dua atau tiga kali, yakni pada saat Idul Fitri, Idul Adha, dan libur semester, itu pun kalau ada.
Momen kepulangan ini sangat berkesan. Biasanya sehari sebelumnya santri sudah merencanakan banyak hal. Pikiran sudah melayang-layang ke sana kemari membayangkan aktivitas yang akan dilakukan jika pulang nanti. Ada pula yang ingin balas dendam dengan tidur seharian.
2. Patungan untuk Beli Makanan 
Sudah menjadi rahasia umum jika santri tak bisa makan sebanyak-banyaknya. Makanan mereka dijatah. Hanya ada sarapan, makan siang, dan malam. Menunya pun sangat khas. Di kebanyakan pesantren, tahu tempe menjadi lauk wajib.
Maka tak heran jika santri suka patungan untuk membeli bahan makanan untuk memasak sendiri. Itu pun hanya pada momen-momen tertentu.
Namun percayalah, makanan dari hasil patungan ini merupakan menu ternikmat dan terlezat yang pernah ada di dunia. Apalagi jika sudah sampai pada makanan terakhir, semua mata tertuju berharap bisa mendapat keberkahan dari sisa-sisa terakhir itu.
3. Kunjungan Orang Tua

Salah satu momen paling membahagiakan saat menjadi santri adalah saat mendapat kunjungan orang tua. Rindu yang terpendam seperti meledak. Senyum merekah. Hal paling penting, setidaknya hari itu ada perbaikan gizi.
Orang tua yang berkunjung ke pondok biasanya membawa makanan. Jika orang tua berhasil melobi pengurus pondok, santri bisa keluar menghirup udara segar sambil menikmati makanan enak di luar pesantren.
Selain perbaikan gizi, santri yang mendapat kunjungan akan menjadi orang kaya mendadak. Ia bisa bernafas lega saat berada di depan kantin. Setidaknya tahu tempe tak menjadi menu makan siang dan malam untuk beberapa hari ke depan.
Tak hanya santri yang mendapat kunjungan, santri lain pun ikut senang. Terutama teman sekamar. Paling tidak indera penciuman mendapat angin segar dan ada harapan lidah bisa mencicipi masakan khas rumah.
4. Ghosob
Ada istilah yang entah dari mana asalnya, belum sah jadi santri jika belum pernah di-ghosob. Ghosob berarti meminjam tanpa izin. Barang paling banyak jadi korban ghosob adalah sandal. Apalagi kalau cuma sandal jepit, siap-siap saja gonta-ganti kaki, meski sang pemilik sudah menjerit berjalan tanpa alas.
Ghosob sangat lumrah di kalangan santri. Seolah tak merasa bersalah jika berhasil meng-ghosob sandal teman dan melihatnya menderita berjalan berjinjit.
Banyak pula kejadian, sandal yang di-ghosob adalah sandal kiai. Pada kasus ini, santri seolah disambar petir. Tak tahu kaki mana lagi yang harus menerima ‘nasehat’ bertubi-tubi. Tapi intinya, ghosob selalu menjadi bahan tertawaan saat acara reuni santri.
5. Mati Lampu

Bagi kebanyakan orang, mati lampu adalah momen paling mengesalkan. Namun tidak bagi santri, mati lampu adalah momen perayaan kemenangan. Saat mati lampu, jadwal belajar jadi berantakan. Tak jarang pula ustadz membatalkan beberapa pembelajaran untuk menunggu lampu menyala. Jika tidak menyala, kemenangan terasa sangat panjang. Setidaknya ada waktu bisa tidur pulas.
6. Cuci MataSantri putra dan putri memiliki pondok berbeda. Bahkan ada yang berjarak puluhan kilometer. Sehingga, bagi santri putra, melihat santri putri seolah melihat bidadari. Sangat mengagumkan. Biasanya santri sudah menentukan spot-spot tertentu untuk melihat sang bidadari lewat. Baik spot saat masuk kelas, maupun ke masjid.
Kreativitas santri putra akan terlihat jika kelas digabung dan hanya dipisah tabir pemisah. Lubang seukuran pulpen akan menempat spot tertentu. Paling tidak bisa melihat jendela jika mengintip.
7. Antri Kamar Mandi

Mengantri makan dan mandi adalah satu paket yang tak bisa dipisahkan. Antrian mandi biasanya akan terjadi saat pagi hari dan sore hari. Pesantren dengan jumlah santri sampai ribuan dan hanya puluhan kamar mandi tentu menjadi penyebab utama. Meski kadang membuat bete dan kesal, namun momen sangat indah jika reuni tiba.
(jqf)