LANGIT7.ID-
Muhammad Husain Haekal mengatakan perlunya menyelidiki apa yang menjadi penyebab munculnya permusuhan sengit dan peperangan dahsyat yang dimulai oleh pihak
Kristen terhadap
Islam.
"Menurut hemat kami, kurangnya pemahaman masyarakat Barat terhadap hakikat ajaran Islam dan sejarah Nabi Muhammad adalah faktor utama yang memicu permusuhan tersebut," tulis Muhammad Husain Haekal dalam bukunya berjudul "
Sejarah Hidup Muhammad".
Menurutnya, ketidaktahuan ini menimbulkan sikap kaku dan fanatisme yang mendalam dan kompleks. "Dari abad ke abad, ketidaktahuan itu semakin menumpuk, lalu berubah menjadi semacam berhala dalam jiwa generasi berikutnya," lanjutnya.
Untuk menghapusnya, kata Haekal lagi, tentu diperlukan kekuatan jiwa yang besar, sebagaimana kekuatan yang lahir pada masa awal kemunculan Islam.
Baca juga: Islam dan Kristen: Perbedaan Asasi yang Jadi Perdebatan Hebat semasa Nabi Kristen Tidak Sesuai dengan Watak BaratHaekal mengatakan ada sebab lain di luar kurangnya pengetahuan itu yang mendorong fanatisme pihak Barat hingga berulang kali memicu peperangan terhadap Islam dan umat Muslim.
"Kita tidak berbicara semata-mata soal politik dan ambisi kekuasaan untuk mengeksploitasi bangsa lain—sebab itu hanyalah akibat, bukan sebab utama. Fanatisme ini telah merasuki bahkan ke dalam ranah ilmu pengetahuan dan penyelidikan ilmiah," katanya.
Menurut Haekal, penyebab utamanya adalah karena ajaran Kristen—yang menekankan sikap menjauhi kehidupan duniawi, memaafkan, mengampuni, dan menjunjung tinggi nilai-nilai rohani—tidak selaras dengan watak masyarakat Barat.
Watak Barat, yang terbentuk dalam lingkungan politeisme selama ribuan tahun dan dipengaruhi kondisi geografis yang keras, menuntut perjuangan berat melawan iklim dingin dan berbagai kesulitan hidup.
Ketika sejarah memaksa Barat untuk menerima ajaran Kristen, mereka tidak mampu mempertahankan sifat dasar ajaran itu yang penuh kelembutan dan keseimbangan rohani.
Agama itu pun akhirnya harus terseret ke dalam arus perjuangan keras, meninggalkan jati dirinya, dan kehilangan peran harmonis yang menjadi inti kesempurnaan ajaran Islam—yaitu kesatuan antara rohani dan jasmani, antara perasaan dan akal, antara emosi dan rasio, baik dalam skala individu maupun universal, yang semuanya berjalan selaras dalam hukum alam dan dalam ruang-waktu yang tak terbatas.
Baca juga: Kisah Sufi Jalaludin Rumi: Saudagar dan Darwis Kristen "Menurut hemat kami, inilah akar dari fanatisme Barat yang memusuhi Islam—sikap yang bahkan membuat kaum Kristen Abisinia merasa jijik, sebagaimana terjadi ketika kaum Muslimin mencari perlindungan pada masa awal dakwah Nabi Muhammad," katanya.
Inilah pula yang menjadi penyebab munculnya berbagai ekses dan tindakan berlebihan di kalangan Barat, baik dalam kehidupan beragama maupun dalam ateisme.
Fanatisme yang ekstrem, perjuangan tanpa belas kasihan, dan ketidakmampuan memberi ampun, semuanya tumbuh dari akar itu. Meski sejarah mencatat keberadaan orang-orang suci di antara mereka yang mengikuti ajaran Isa Al-Masih, sejarah juga mencatat pertentangan dan perang berkepanjangan di antara bangsa-bangsa Barat, baik atas nama politik maupun agama.
Paus-paus, pemimpin gereja, dan penguasa duniawi pun kerap saling berebut kekuasaan. Ketika salah satu kelompok menang, kelompok lain akan mengambil alih di kemudian hari. Kemenangan terakhir di abad ke-19 berada di tangan kekuasaan duniawi, yang kemudian berupaya memusnahkan kehidupan rohani atas nama ilmu pengetahuan. Mereka mengira bahwa ilmu pengetahuan dapat menggantikan iman dalam kehidupan manusia.
Baca juga: Umat Kristen Masa Nabi Muhammad Adalah Golongan Nestorian dan Monofisit Namun, setelah melalui perjuangan panjang, kini mereka menyadari bahwa anggapan itu keliru. Apa yang mereka cita-citakan ternyata mustahil tercapai. Saat ini, di berbagai tempat di Barat terdengar seruan untuk kembali mencari pegangan rohani yang telah lama hilang. Mereka mencarinya, baik di dalam teosofi maupun di luar itu.
Sekiranya ajaran Kristen memang selaras dengan naluri perjuangan hidup yang dibentuk oleh hukum alam dalam masyarakat Barat, niscaya setelah gagalnya materialisme dalam memberi makna rohani, mereka akan kembali kepada ajaran Isa anak Mariam—jika pun Tuhan belum menuntun mereka kepada Islam. Maka mereka tidak perlu pergi ke India atau ke tempat lain untuk mencari pegangan hidup rohani. Sebab kebutuhan akan pegangan itu sama pentingnya dengan kebutuhan bernapas, dan merupakan bagian tak terpisahkan dari kodrat dan jiwa manusia.
(mif)