LANGIT7.ID-Jakarta; Hamas sedang mengadakan negosiasi langsung dengan pemerintahan Amerika Serikat, demikian dikonfirmasi oleh seorang pejabat senior kelompok militan Palestina itu dalam wawancara dengan Al Arabiya English, yang semakin memperdalam kekhawatiran Israel terhadap keandalan sekutu terpentingnya.
“Kami, dalam beberapa kesempatan, mengadakan pembicaraan langsung dengan pemerintahan Amerika dan kami telah bertemu dengan beberapa perwakilan dari pemerintahan Amerika,” ujar Bassem Naim.
Salah satu pembicaraan itu termasuk pertemuan dengan utusan khusus AS untuk urusan sandera, Adam Boehler, yang digelar pada bulan Maret, jelasnya.
Baca juga: Serangan Udara Israel Tewaskan Ratusan di Gaza, Trump Akui Krisis Kelaparan Makin ParahKecurigaan terhadap kekuatan hubungan antara Israel dan AS pertama kali mencuat setelah pengumuman mengejutkan bahwa Washington akan menghentikan serangan terhadap milisi Houthi di Yaman.
Kecurigaan itu semakin kuat setelah Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa satu-satunya sandera Amerika yang masih hidup telah dibebaskan setelah kesepakatan yang dibuat dengan Hamas sebagai bagian dari upaya untuk membentuk gencatan senjata di Gaza — pembicaraan yang tidak melibatkan Israel.
Menurut Naim, pembebasan warga AS-Israel Edan Alexander adalah sebuah “gestur” yang dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa kelompok militan tersebut serius dalam mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan Israel, yang mencakup pertukaran tahanan Palestina dengan pembebasan sandera Israel, penarikan penuh tentara Israel, dan masuknya bantuan ke wilayah tersebut.
Baca juga: Israel kecam pejabat PBB atas seruan cegah genosida di Gaza“Dalam pembicaraan dan negosiasi ini, terdapat pemahaman yang jelas antara kami dan pihak Amerika bahwa ketika kami melakukan ini [membebaskan Alexander], Presiden Trump akan mengucapkan terima kasih kepada Hamas atas hal ini,” kata Naim.
“Tapi yang paling penting, dia — pada hari kedua — akan mewajibkan Israel untuk mengizinkan bantuan masuk ke Gaza, dan dia akan menyerukan pembicaraan gencatan senjata segera dengan tujuan mengakhiri perang ini, termasuk pertukaran tahanan,” tambahnya.
Namun, Trump gagal memenuhi bagian dari kesepakatan tersebut dan tidak mampu menekan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk menerima kesepakatan gencatan senjata dengan syarat-syarat yang ditetapkan oleh Hamas, lanjut Naim.
Baca juga: Prancis Umumkan Konferensi Solusi Dua Negara untuk Konflik Timur Tengah Digelar JuniMeskipun demikian, Hamas masih percaya bahwa pemerintahan Trump dapat membantu mewujudkan perdamaian jangka panjang antara Palestina dan Israel, tambahnya.
“Lihat, musuh kami hanya satu. Yaitu pendudukan Israel. Dan kami telah banyak mendengar tentang visi dan niat Presiden Trump untuk meredakan situasi di berbagai wilayah dunia. Dia melakukan ini di Ukraina. Dia melakukan ini di Yaman. Dia [melakukannya] dengan mengadopsi pendekatan negosiasi dengan Iran alih-alih menuju perang yang didasarkan pada keinginan Netanyahu,” kata Naim.
“Kami percaya bahwa Presiden Trump bisa melakukannya.”
Baca juga: Joaquin Phoenix hingga Pedro Pascal Kecam Genosida Gaza, Hollywood Mulai BersuaraNetanyahu telah berjanji untuk melanjutkan eskalasi kekuatan dalam perang Israel di Jalur Gaza demi mencapai tujuannya menghancurkan kelompok militan Hamas, yang menguasai wilayah tersebut.
Dalam pernyataan yang dirilis oleh kantor Netanyahu pada Selasa, perdana menteri menyatakan bahwa pasukan Israel tinggal beberapa hari lagi untuk memasuki Gaza “dengan kekuatan besar guna menyelesaikan misi ... Artinya menghancurkan Hamas.”
(lam)