Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 30 Mei 2026
home sosok muslim detail berita

Gus Baha: Ulama Cerdas Didikan Otentik Pesantren, Hadiah untuk Ummat Islam

Muhajirin Kamis, 30 September 2021 - 16:03 WIB
Gus Baha: Ulama Cerdas Didikan Otentik Pesantren, Hadiah untuk Ummat Islam
KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau akrab disapa Gus Baha (foto: NU Online)
LANGIT7.ID - Salah satu Ulama yang dijadikan rujukan banyak orang di media sosial adalah Gus Baha. Video ceramahnya di YouTube rata-rata ditonton jutaan orang. Meski seorang Kiai Nahdlatul Ulama (NU), Gus Baha dicintai ummat Islam lintas ormas lintas golongan.

Ceramahnya yang punya perspektif unik, serta pembawaannya yang santai namun berbobot, memberikan pencerahan bagi banyak orang. Hadirnya Gus Baha di media sosial menjadi fenomena tersendiri. Sebab pengajiannya yang awalnya hanya untuk santrinya, kini bisa didengar luas masyarakat, bahkan digandrungi.

Tak berlebihan jika Gus Baha disebut sebagai hadiah bagi umat Islam Indonesia, sebab memberi pencerahan dengan cerdas ketika ummat membutuhkan bimbingan ulama.

Sebagai seorang ulama, cita-cita Gus Baha cukup simpel, tapi sangat bermakna. Ia hanya ingin menjadi pendakwah yang membuat para pendengarnya bahagia. Itu menjadi salah satu cara beliau mencegah orang-orang terjebak melakukan larangan Allah Ta’ala.

“Obsesi saya terbesar atau cita-cita saya terbesar, memang, setiap ngaji saya ingin orang mukmin semuanya itu bahagia. Karena dengan menjadi bahagia, orang-orang tidak akan mencari kebahagiaan melalui kemaksiatan,” demikian kutipan pernyataan Gus Baha, dilansir akun facebook Ngaji Tasawuf, kamis (30/9/2021).

Gus Baha memiliki nama lengkap KH Ahmad Bahauddin Nursalim. Ia menjadi salah sosok pendakwah yang banyak menghiasi jagad maya, terkhusus di media sosial seperti youtube dan facebook.

Gus Baha merupakan putra seorang ulama ahli Qur’an, KH Nursalim Al-Hafidz dari Narukan, Kragan, Rembang, Jawa Tengah, sebuah desa di pesisir utara pulau Jawa. KH Nursalim adalah murid dari KH Arwani Al-Hafidz Kudus dan KH Abdullah Salam Al-Hafidz Pati.

Dari silsilah keluarga ayah, dari buyut hingga generasi keempat merupakan ulama-ulama ahli Qur’an yang tak bisa diragukan keilmuannya di bidang Al-Qur’an. Sementara silsilah keluarga dari garis ibu, Gus Baha merupakan keluarga besar ulama Lasem, Bani Mbah Abdurrahman Basyaiban atau Mbah Sambu yang makamnya ada di area Masjid Jami Lasem.

Ulama Didikan Otentik Pesantren

Ulama yang hafal 30 juz Al-Qur’an itu merupakan salah satu ulama Tanah Air dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU) yang berasal dari Narukan, Kragan, Rembang, Jawa Tengah. Selain hafidz, ia dikenal sebagai ahli tafsir lantaran memiliki pengetahuan mendalam tentang kitab suci Al-Qur’an.

Melansir laman Ma’had Aly Jakarta, Gus Baha disebut-sebut sebagai ahli tafsir asli didikan ulama-ulama di Nusantara. Ia juga menjadi dewan ahli tafsir nasional yang berlatar belakang nonformal, dan ahli tafsir yang hanya mondok di Tanah Air.

Dalam jagat tafsir Al-Qur’an di Indonesia, Gus Baha termasuk pendatang baru dan satu-satunya dari jajaran Dewan Tafsir Nasional yang berlatar belang pendidikan nonformal dan nongelar. Meski begitu, kealiman dan penguasaan keilmuan Gus Baha sangat diakui oleh para ahli tafsir nasional.

Prof Quraisy Shihab pernah melontarkan pujian kepada Gus Baha. Ia menilai Gus Baha sebagai sosok yang sulit ditemukan karena mampu memahami dan menghafal detail-detail Al-Qur’an hingga detail-detail fikih yang tersirat dalam ayat-ayat kitab suci.

Gus Baha Kecil mulai mendalami ilmu dan menghafal Al-Qur’an di bawah asuhan sang ayah. Di usia yang sangat belia, ia telah mengkhatamkan Al-Qur’an beserta qiraah dengan literasi yang ketat dari sang ayah. Ini tidak terlepas dari karakteristik bacaan murid-murid Mbah Arwani yang menerapkan keketatan dalam tajwid dan makharijul huruf.

Saat remaja, Gus Baha menimba ilmu kepada KH Maimoen Zubair di Pondok Al Anwar Karangmangu, Sarang, Rembang. Di tempat ini, ia terlihat sangat menonjol dalam ilmu syariah seperti fikih, hadits, dan tafsir.

Saat mondok ia juga mengkhatamkan hafalan Shahih Muslim lengkap dengan matan, rawi dan sanad. ia juga mengkhatamkan hafalan kitab Fathul Muin dan kitab-kitab gramatika Arab seperti Imrithi dan Alfiah Ibnu Malik.

Tak heran jika Gus Baha mengemban beberapa amanat prestisius keilmiahan di Pondok Al Anwar seperti Rais Fathul Muin dan Ketua Maarif di jajaran kepengurusan PP Al Anwar. Sebab, ia disebut-sebut sebagai santri pertama yang memiliki hafalan terbanyak di Al Anwar pada eranya.

Dekat dengan Kiai

Tak banyak yang tahu, ternyata ia merupakan salah satu santri kesayangan almarhum ulama kharismatik, KH Maimoen Zubair (Mbah Moen) di Rembang.

Dalam berbagai kesempatan, ia kerap mendampingi Mbah Moen dalam berbagai keperluan. Mulai dari sekadar berbincang-bincang santai, urusan mencari tabir, hingga menerima tamu ulama besar yang datang ke Al Anwar.

Pada suatu ketika, Gus Baha dipanggil mencarikan tabir tentang persoalan oleh Mbah Moen. Saking cepatnya, ia mampu menemukan tabir tanpa membuka kitab referensi terlebih dahulu yang dimaksud. “Iyo ha’, koe pancen cerdas tenan,” kata Mbah Moen terharu, dikutip lama Ma’had Aly Jakarta.

Selain itu, Mbah Moen menjadikan Gus Baha sebagai contoh saat memberikan tausiyah di berbagai kesempatan tentang profil santri ideal. “Santri tenan iku yo koyo Baha iku,” katanya.

Semenjak kecil hingga mengasuh pesantren warisan sang ayah, Gus Baha hanya mengenyam pendidikan di dua pesantren, yakni pesantren ayahnya sendiri di Desa Narukan dan PP Al Anwar Karangmangu. Saat sang ayah menawarkan mondok di Rushaifah Mekkah atau Yaman, ia lebih memilih tetap di Indonesia.

Kehidupan Pribadi Gus Baha

Saat menyelesaikan pengembaraan ilmiah, Gus Baha menikah seorang gadis pilihan pamannya dari keluarga Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur. Ada cerita menarik yang menunjukkan kepribadian Gus Baha yang sederhana.

Setelah acara lamaran selesai, ia menemui calon mertua dan mengaku tak memiliki kehidupan mewah. Ia ingin calon mertua berpikir ulang atas rencana pernikahan tersebut, agar tidak kecewa di kemudian hari. Namun calon mertuanya hanya tersenyum dan menyatakan ‘klop’ alias ‘sami mawon kalih kulo’.

Saat berangkat ke Sidogiri untuk melangsungkan upacara akad nikah, Gus Baha berangkat sendiri ke Pasuruan dengan menumpang bus regular kelas ekonomi. Hingga kini, bahkan setelah terkenal, ia masih sering naik bus saat bepergian.

Setelah menikah, Gus Baha mencoba hidup mandiri dengan keluarga barunya dan menetap di Yogyakarta sejak 2003. Ia menyewa rumah berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain.

Pada 2005, KH Nursalim jatuh sakit. Gus Baha pulang sementara waktu ikut merawat sang ayah bersama keempat saudaranya. Namun, beberapa bulan kemudian KH Nursalim wafat. Ia tak lagi meneruskan perjuangannya di Yogya sebab mendapat amanat untuk melanjutkan tongkat estafet kepengasuhan di LP3IA Narukan.

Kiprah

Selain mengasuh pengajian, Gus Baha juga aktif di Lembaga Tafsir Al-Qur’an Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Ia juga diminta mengasuh pengajian tafsir Al-Qur’an di Bojonegoro, Jawa Timur. Ia juga masih aktif mengisi pengajian di Yogya pada pekan terakhir. Ia menjalani hal tersebut secara rutin sejak 2006 hingga kini.

Gus Baha merupakan Ketua Tim Lajnah Mushaf UII. Tim ini terdiri dari profesor, doktor, dan ahli-ahli Qur’an seperti Prof Quraisy Shihab, Prof Zaini Dahlan, Prof Shohib dan para anggota Dewan Tafsir Nasional lain. Gus Baha pernah ditawari gelar Doktor Honoris Causa dari UII, namun ia tak berkenan.

*diolah dari berbagai sumber

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 30 Mei 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)