LANGIT7.ID-Dalam dunia yang sibuk mengejar sehat secara fisik, Islam mengajukan satu istilah yang lebih luas: afiat. Kesehatan bukan sekadar bebas dari penyakit, tapi juga selamat dari tipu daya.
Ketika dunia medis sibuk mengklasifikasikan kesehatan dalam kategori fisik, mental, dan sosial, Al-Qur’an dan hadis mengajukan istilah yang jauh lebih menyeluruh: afiat.
Dalam buku
Wawasan Al-Qur’an,
Prof Dr M Quraish Shihab membedakan antara
"sehat" dan "afiat"—dua kata yang dalam bahasa Indonesia sering digandengkan tanpa disadari maknanya berbeda.
Menurut pakar tafsir ini, kata “afiat” dalam khazanah Islam klasik bukan hanya berarti “sehat” dalam arti medis, tetapi juga menunjuk pada perlindungan menyeluruh dari bencana dan kerusakan fungsi tubuh, lahir maupun batin.
Dalam kamus Arab, afiat berarti terhindar dari musibah dan tipu daya. Dengan kata lain, afiat adalah keberfungsian tubuh sesuai tujuan penciptaannya. Mata yang afiat, misalnya, bukan sekadar yang dapat melihat jelas, tetapi yang mampu menghindari pandangan dari yang haram.
Baca juga: Menjenguk Non-Muslim yang Sakit Menurut Ajaran Islam Paradigma ini menggugat reduksi modern terhadap kesehatan yang hanya berfokus pada fisik. Dalam tradisi Islam, sehat bukan hanya urusan rumah sakit dan obat-obatan, melainkan juga ibadah, moralitas, dan kebersihan hati. Sehat menjadi bagian dari kesalehan.
Kesehatan dalam Kerangka KeimananDi tengah gaya hidup modern yang menjadikan tubuh sebagai proyek kosmetik—dirawat, dilatih, dipoles untuk citra, bukan untuk fungsi spiritual, gagasan afiat terasa subversif. Ia menempatkan kesehatan dalam kerangka keimanan dan kebermaknaan.
Ini pula yang membuat Islam begitu sarat dengan tuntunan kesehatan: dari larangan makan berlebihan hingga anjuran tidur awal dan bangun pagi. Bahkan, tujuan pokok Islam menurut Shihab adalah memelihara lima hal: agama, jiwa, akal, jasmani, harta, dan keturunan—tiga di antaranya langsung terkait kesehatan.
Namun, ironisnya, negeri berpenduduk Muslim terbesar justru mengalami krisis gizi, maraknya penyakit degeneratif, serta gaya hidup yang jauh dari nilai afiat. Makanan disucikan dengan label halal, tetapi lupa pada hikmah kesederhanaan. Obat diburu, namun pencegahan dan kebersihan hati dilupakan.
Baca juga: Menjenguk Orang Sakit: Begini Jampi dan Doa yang Diajarkan Rasulullah SAW Di titik inilah pesan Shihab menjadi relevan: sehat tidak cukup. Kita butuh afiat. Sebab sehat adalah tubuh yang utuh, tapi afiat adalah tubuh yang terarah. Ia bukan cuma persoalan tidak sakit, tapi juga tentang menjauhkan diri dari hal yang merusak jiwa.
(mif)