LANGIT7.ID, Rembang - Pondok Bodho “Al-Frustasi” Caruban Lasem Jawa Tengah merupakan salah satu pondok pesantren unik yang ada di Tanah Air. Di pondok ini, umumnya para santri yang menimba ilmu merupakan pemuda-pemuda yang mengalami depresi, frustasi, atau orang-orang putus asa dengan beban hidup.
Pondok itu memiliki sistem pembelajaran yang berbeda dari pondok pesantren pada umumnya. Dilihat dari namanya memang unik, Pon-Bod (Pondok Bodho) Alfrustasiyah, namun kenyataannya begitu. Meski mayoritas santri mempunyai beban hidup berat, namun ada pula yang sekadar mencari berkah untuk masa depan mereka.
Mengutip laman resmi Alfrustasiyah, pondok ini terletak di dusun Caruban, Desa Gedongmulyo, Kec. Lasem, Kab. Rembang, Jawa Tengah. Tepatnya berada di sebelah barat komplek makam Nyai Ageng Maloka (kakak perempuan dari Sunan Bonang).
Ponbod Alfrustasiyah dirintis pada 1973-an oleh KHR. Hambali Abu Syuja’ Arruslani, seorang ulama nyentrik dari Demak dan Ibu Nyai Hj. Shofiah (putri KH Baidlowi Rembang). Setelah menikah, Mbah Hambali mendapat banyak tantangan hidup, termasuk dari mertua.
Sikapnya yang kontroversial menuai kecaman dari warga sekitar. Bahkan banyak kiai yang tidak cocok dengan sepak terjang beliau. Kondisi itu yang mendorong dia sowan ke Kiai Hamid Pasuruan. Dari situ dia mendapat arahan untuk mencari lokasi dan menetap di pesisir pantai utara dekat makam Nyai Ageng Maloka.
Mbah Hambali lalu mendirikan pondok di lokasi tersebut. Lokasi itu jauh dari keramaian kota, sehingga suasananya tenang dan nyaman. Awal mula merintis pondok, ia tak memiliki bekal materi yang cukup. Bahkan untuk tempat tinggal pribadi, ia memanfaatkan material seadanya. Namun berkat ketekunan dan kegigihan dalam berikhtiar, lambat laun berdiri bangunan megah seperti saat ini di lokasi tersebut.
Pada masa awal datang di dusun Caruban, Mbah Hambali tinggal di komplek makam yang terkenal angker. Tidak ada warga yang berani tinggal di tempat itu, meskipun sekadar beraktivitas. Namun keberadaan beliau di tempat itu, lambat laun kesan angker bergeser dan hilang sedikit demi sedikit.
Sistem Pembelajaran PondokMbah Hambali menerapkan sistem pembelajaran unik di pondok yang ia rintis. Kitabnya tanah dan penanya cangkul. Tanah diibaratkan lembaran-lembaran kertas yang dijadikan sarana menuntut ilmu para santri. Cangkul ibarat pena yang dimanfaatkan untuk mencatat (mengolah) pada hamparan tanah yang ada untuk kemaslahatan bersama.
Selain itu, para santri juga dididik berhubungan langsung dan berinteraksi langsung dengan alam dan lingkungan sekitar. Dia juga menekankan para santri untuk mengolah roso, belajar laku batin dengan cara riyadhoh dan mujahadah/istighosah untuk mendekatkan diri kepada sang Khaliq.
Mbah Hambali sosok kiai yang tidak pernah membeda-bedakan para santrinya, baik dari segi latar belakang maupun kondisi sosial. Semua mendapat perlakuan sama. Bahkan di tempat ini, para santri yang berasal kalangan terpandang seperti pejabat, artis, hingga golongan jenderal diperlakukan sama.
Setiap hari, para santri diajarkan menggarap sawah dan tambak yang disewa Mbah Hambali. Semua santri ikut tanpa terkecuali. Ia mendidik para santri bekerja keras agar mereka mengerti kesederhanaan.
Ada lagi yang unik di pesantren ini. kitab kuning yang biasanya menjadi kurikulum wajib pesantren, di pondok ini nyaris tidak ada. Dalam seminggu sekali, tiap malam Jumat, para santri berkumpul sekadar tahlil mendoakan para arwah ahli kubur dan dilanjutkan pembacaan maulid bersama.
Kegiatan pengajian ilmu-ilmu agama dilakukan secara umum dengan sistem ceramah. Para santri mendengarkan sambil meresapi pemaparan Mbah Hambali. Kegiatan ceramah ini tak mengenal waktu dan tempat, dimanapun dan kapanpun.
Pada dasarnya, kegiatan pengajian di Pondok Alfrustasiyah lebih banyak mengutamakan praktik daripada teori. Dengan metode ini, Mbah Hambali bercita-cita mencetak para santri untuk menjadi generasi mandiri dan tangguh lahir batin dalam berwirausaha yang memiliki dasar akidah serta agama yang kuat.
Praktik LapanganSuatu ketika, Mbah Hambali hendak mendirikan bangunan layak untuk tempat tinggal pengasuh dan santri. Rumah sederhana yang mula ia tempat direnovasi dijadikan asrama santri. Sementara ia membangun rumah sederhana tak jauh dari situ. Selain itu, dia juga mendirikan masjid.
Dalam proses pembangunan, Mbah Hambali tetap menerapkan sistem dan metode pembelajaran yang sama. Selain menggarap sawah, santri yang punya keahlian di bidang bangunan diperbantukan mendirikan bangunan pondok dan masjid.
Banyak cerita saat saat proses pembangunan, baik bangunan ndalem maupun masjid. Saat menggali lobang misalnya, para tukang dan santri sering menemukan tulang-belulang hingga tengkorak manusia. Para santri juga menemukan sungai kecil yang tembus ke laut. Demi kemaslahatan bersama, tulang-belulang dan tengkorak manusia dikuburkan dengan layak dan aliran sungai ditutup.
Saat memulai pembangunan masjid, selain penemuan tulang-belulang, pembangunan juga tidak seperti biasanya. Bangunan itu mengalami bongkar pasang puluhan kali. Bangunan yang belum sempurna dibongkar kembali rata tanah, kemudian dibangun lagi, dibongkar lagi. Tidak ada yang tahu maksud Mbah Hambali melakukan itu.
Namun ada yang menyebut Mbah Hambali tak ingin ada barang syubhat yang bercampur dalam pembangunan masjid dan pondok. Proses pembangunan masjid dan pondok ini memiliki pesan moral untuk para santri.
Misalnya material bongkaran tidak boleh dibuang, material itu harus dimanfaatkan kembali. Paku-paku yang bengkok diluruskan, potongan kayu dan papan dirangkai hingga bisa digunakan, bahkan cor dikumpulkan menjadi satu.
Awal-awal pendirian pondok, Mbah Hambali tidak melabeli pondoknya sebagaimana pondok pada umumnya. Masyarakat bahkan santri hanya menyebut ‘pondok’e Mbah Hambali’. Namun seiring berjalannya waktu, ia memberi nama pondok dengan sebutan Hikmatus Syari’ah kemudian berubah menjadi Hikmatus Sababain, dan diubah lagi menjadi Alfrustasi, dan terakhir Alfrustasiyah.
Tidak ada yang tahu maksud pemberian nama itu, namun sejak awal sudah banyak dikenal sebagai pondik orang-orang stress. Peralihan nama menjadi Pondok Bodho Al-Frustasiyah sampai sekarang banyak mengalami kemajuan dan dikenal masyarakat luas.
Nama itu mengandung harapan dan doa untuk para santri yang awalnya galau dan stress bisa berprestasi dan lebih berguna kepada masyarakat. Banyak masyarakat yang datang untuk sekadar konsultasi.
Intinya, ini merupakan pondok pesantren yang mampu menampung banyak santri dari berbagai kalangan yang mengalami stress, frustasi, putus asa, dan sebagainya.
“Maaf di sini tidak sombong dan tidak sesumbar, ini bukan pondok pesantren dan hanya pondok- pondokan (ponker-pondok kerja). Siap menampung orang sing podo kesasar, dan podo buyar. Selain itu juga menampung anak-anak yatim–piatu, juga orang-orang yang kurang mampu, serta orang yang terbeku. Terus terang di sini tempat tak terhajar dan tak usah membawa bahan bakar, asal siap ikhtiar dan Tawakal pada Tuhan yang Maha Besar," tutur Mbah Hambali Sang Pengasuh Pondok Al Frustasiyah.
(jqf)