LANGIT7.ID-Pada suatu masa, ketika komunitas Muslim awal di Hijaz masih bertanya-tanya tentang asal-usul dunia dan silsilah para nabi, lahirlah sekelompok pencerita yang bukan sekadar tukang kisah. Mereka adalah para
qushash—pengisah populer di mimbar-mimbar masjid yang mengisi celah antara wahyu dan sejarah. Kisah-kisah mereka memikat, menegangkan, kadang hiperbolik, tapi yang lebih penting: mereka membangun semacam narasi sejarah kenabian yang tak sempat dijelaskan
Al-Qur’an secara kronologis.
William Montgomery Watt, orientalis terkemuka dari Inggris, menyebut fenomena ini sebagai bentuk respons umat Islam awal terhadap kekaburan sejarah masa
pra-Islam.
Dalam
Titik Temu Islam dan Kristen: Persepsi dan Salah Persepsi (Penerbit Gaya Media Pratama, 1996), Watt menggarisbawahi bahwa masyarakat Arab sebelum Islam tidak memiliki kesadaran sejarah yang utuh. Mereka mengenal nama-nama nabi seperti Nuh, Ibrahim, dan Musa, namun tidak memahami kesinambungan historis di antara mereka.
"Al-Qur’an memberikan kesan bahwa masyarakat-masyarakat yang diberi risalah oleh para nabi itu terpisah satu sama lain dan tidak memiliki kontinuitas sejarah yang jelas," tulis Watt.
Baca juga: Membaca Kristen dari Madinah Menurut Montgomery Watt Namun kekosongan itu tak bertahan lama. Para
qushash mulai merangkai benang merah sejarah profetik, kadang dengan bantuan sumber-sumber Yahudi dan Kristen, terutama dari kelompok Yahudi yang memeluk Islam. Salah satu tokoh paling berpengaruh dalam penyebaran kisah-kisah para nabi adalah Ka’ab al-Ahbar, mantan rabi Yahudi dari Yaman yang wafat pada 638 M, dan Wahb ibn Munabbih, yang disebut-sebut membaca lebih dari tujuh puluh kitab kuno.
Melalui tangan-tangan mereka, lahirlah sebuah tradisi Isra’iliyyat—cerita-cerita dari kitab-kitab sebelumnya yang diserap ke dalam imajinasi Islam. Wahb ibn Munabbih bahkan menulis kitab monumental
al-Mubtada', yang kelak menjadi fondasi penting bagi penulisan Sirah Nabi Muhammad oleh Ibn Ishaq.
Gordon Darnell Newby, profesor agama dari Amerika, pada 1989 menerbitkan buku berjudul
The Making of the Last Prophet, yang sesungguhnya merupakan rekonstruksi bagian pertama Sirah Ibn Ishaq, kitab al-Mubtada’ yang telah hilang dari edisi Ibn Hisham. Buku ini menyajikan kisah para nabi dari penciptaan Adam hingga kedatangan Isa, disusun secara kronologis, lengkap dengan legenda-legenda non-Qur’ani seperti Sheba, Daniel, Hananiah, hingga pahlawan Kristen George.
"Ibn Ishaq tampaknya melakukan upaya serius untuk membuat sejarah kenabian sebagai satu alur waktu yang utuh," tulis Newby.
Narasi sejarah yang dibangun para pengisah ini ternyata tak sepenuhnya diterima kalangan ulama. Banyak dari mereka mencurigai kisah-kisah
qushash sebagai campuran antara kebenaran dan fantasi. Bahkan dalam sejumlah kesempatan, kalangan fakih meminta agar aktivitas para pendongeng dibatasi.
Baca juga: Montgomery Watt : Ayat-Ayat Al-Qur’an Amat Bersahabat tentang Umat Nasrani Namun di sisi lain, tanpa kontribusi mereka, umat Islam awal barangkali tak pernah punya gambaran naratif yang utuh tentang silsilah kenabian. Karena meskipun Al-Qur’an menyebut para nabi secara fragmentaris, umat tetap butuh kerangka besar tentang bagaimana semua itu saling terkait dalam sejarah.
Perlu dicatat, banyak dari kisah yang berkembang berasal dari tafsir-tafsir terhadap ayat-ayat yang ambigu. Misalnya, identifikasi Dzulqarnain dalam QS. 18:83-98 sebagai Alexander Agung, atau Al-Khidr sebagai nabi misterius pendamping Musa dalam QS. 18:65. Bahkan tempat kelahiran Isa disebut dalam tradisi
qushash sebagai Bethlehem di bawah pohon kurma, meskipun narasi ini tak secara eksplisit ada di dalam Al-Qur’an.
Perjalanan tafsir dan imajinasi ini bukan semata upaya historis, melainkan juga politis. Setelah penaklukan-penaklukan besar Islam pada abad ke-7 dan ke-8 M, umat Muslim mulai memandang sejarah sebagai arena penaklukan universal. Dari sana lahirlah konsep
dar al-Islam dan
dar al-harb, serta doktrin Muhammad sebagai "
khatam al-anbiya’" (penutup para nabi) yang difirmankan dalam QS. 33:40.
"Sebagian umat Islam awal menafsirkan ini bukan hanya penutupan risalah, tapi juga akhir dari sebuah zaman kenabian universal," tulis Watt. Dalam pandangan ini, sejarah menjadi arena kosmis: umat Islam adalah pelanjut misi profetik, dan kemenangan mereka menjadi pertanda dari sebuah takdir besar.
Baca juga: Persepsi Al-Qur'an tentang Yahudi Menurut Montgomery Watt Gagasan ini terus hidup bahkan setelah mundurnya kekuasaan Islam dari Spanyol pada 1492, dan bahkan mengilhami para pemimpin Islam modern seperti Imam Khomeini untuk membayangkan kebangkitan Islam sebagai siklus sejarah yang akan berulang.
Namun hari ini, ketika banyak umat Islam mulai menggali kembali narasi awal mereka dengan semangat kritis, kisah-kisah para nabi tak lagi cukup dijelaskan melalui dongeng dan
Isra’iliyyat. Kajian historis, arkeologi, dan hermeneutika Al-Qur’an menjadi medan baru yang menantang. Buku Watt dan Newby mengingatkan bahwa tradisi naratif yang diwariskan, betapapun kayanya, tetap perlu disaring ulang. Sebab di antara iman dan sejarah, ada jarak yang tak selalu bisa dijembatani oleh kisah.
(mif)