LANGIT7.ID-Publik terbelalak melihat amplifikasi dan presesi serangan militer Iran. Membombradir Israel. Pada Rabu (18/6), Iran meluncurkan rudal supersonik dengan jenama Sejjil (Sijjil). Rudal tua yang dibuat hampir dua dekade lewat, sengaja dikeluarkan dari ruang bawah tanah. Sementara rudal-rudal anyar,masih disimpan apik untuk antisipasi jika perang berlangsung alot.
Sejak rudal Sijjil menerkam negeri Zionis itu. Saya pun selalu teringat bunyi Surah al-Fil ayat 5: tarmîhim biḫijâratim min sijjîl (yang melempari mereka dengan batu dari tanah liat yang dibakar). Kekuatan rudal Sijjjl tidak diproduksi ujug-ujug. Teknologinya didesain secara kontemplatif. Ada unsur sains, ideologi, dan spritualitas yang bersenyawa.
Ia adalah produk hibernasi. Bagai beruang kutub, masuk ke musim dingin yang harus tidur, menghemat energi, memperlambat detak jantung, konsolidasi kekuatan, dan menurunkan serendah mungkin panas tubuhnya supaya bisa bertahan hidup, tidak mati. Sehingga, si beruang bisa bangkit lagi setelah musim dingin berlalu.
Hibernasi Iran, berlangsung sejak 1979, tatkala ia diembargo AS dan sekutu-sekutnya. Ia tidak sekadar bertapa. Dia bersemedi, bagai bergerak dalam diam. Mengonsilidasi api kekuatan.
Iran tidak sekadar kisah Ashabul Kahfi di zaman sesudah Nabi Isa al Masih. Pemuda al Kahfi dipulaskan oleh Tuhan selama 309 tahun. Kata Tuhan, Kami tidurkan mereka dengan tidur yang sangat panjang, maka Kami bangunkan mereka dengan keadaan segar bugar. Tubuh mereka, sehat. Begitu pula dengan rambut dan kulit, tidak ada yang berubah.
Kekuatan Iran, sejatinya hanyalah pengulangan sejarah. Embargo memberi hikmah. Saya teringat Victor Hugo (1802-1885), pujangga, novelis, dan dramawan Prancis. Suatu ketika berkhotbah: “Apakah sejarah itu? Pengulangan masa lalu di masa depan; atau refleksi dari masa depan pada masa lalu.”
Intinya: Et l’histoire se répète…seperti lirik penyanyi country Amerika, Buddy Starcher (1906-2001). Lagunya History Repeat Itself, mengisahkan peristiwa aneh tapi nyata. Lagu alegoris yang mengisahkan: “Sejarah berulang dengan sendirinya”.
Rupanya, kepongahan zionis bisa drontokkan dengan bersemedi. Bersemedi, tidak sekadar berdiam diri, justru menyusun barisan rapi dan siasat. Ideologi, agama, ilmu, sains & teknologi, saling bersenyawa dan saling serbuk, menjadi magma dahsyat. Mirip kisah restorasi Meiji pada 1868 di Jepang yang menandai transformasi revolusioner.
Akhirnya, saya pun mendaras kalam Tuhan yang tertoreh pada QS Al Isra: "Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu, Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar' (ayat 4).
Kemudian ayat 5 menyebut: "Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang perkasa, lalu mereka menjelajah di seluruh rumah (negeri kamu); dan itulah suatu janji yang pasti berlaku .
Mukhaer Pakkanna (*Direktur Program Pascasarjana ITB Ahmad Dahlan Jakarta)
(lam)