LANGIT7.ID-Sejarah
kaum ‘Ad bukan sekadar dongeng padang pasir. Ia adalah peringatan abadi bahwa kesombongan kolektif, ketika kebenaran ditolak karena alasan tradisi, dan iman dikalahkan oleh sistem sosial—mampu membuat satu peradaban disapu angin dalam satu malam.Dan ketika berhala telah menjelma sistem, maka kehancuran hanyalah soal waktu.
Al-Ahqaf—jazirah antara Yaman dan Oman—dahulu bukan sekadar hamparan pasir. Di bawah terik matahari gurun, berdiri pilar-pilar batu menjulang, saksi atas kejayaan kaum raksasa: Kaum ‘Ad.Tubuh mereka besar, otot mereka sekeras besi. Di bentang langit gurun yang lapang, mereka mendirikan kota megah: Iram, kota tiang-tiang tinggi yang belum pernah disamai peradaban manapun.Mereka bukan bangsa biasa. Mereka pewaris peradaban pasca-Nuh. Bangkit dari reruntuhan banjir semesta, kaum ‘Ad hidup dengan kekuatan dan kemewahan yang sulit tertandingi. Namun satu hal mereka lupakan: merunduk kepada langit.
“Siapakah yang lebih kuat dari kami?” kata mereka, membusungkan dada.Al-Qur’an menjawab dengan lugas:
“Tidakkah mereka tahu bahwa Allah yang menciptakan mereka, lebih kuat dari mereka?” (Fushshilat: 15)
Baca juga: Iram: Kota Pilar yang Terkubur dan Kaum yang MembangkangTiga Patung di Tengah Gurun
Menurut Ibnu Katsir dalam
Qashash al-Anbiya’, selepas azab banjir Nabi Nuh, kaum ‘Ad menjadi bangsa pertama yang kembali menyembah berhala. Tapi ini bukan sekadar penyembahan—mereka memuliakan, memahat, dan memaknai berhala sebagai lambang kejayaan.Nama-nama berhala mereka disebutkan: Sadd, Shamud, dan Hera—atau dalam versi lain: Sada, Samud, dan Heba.Berhala bukan hanya batu. Ia adalah ingatan kolektif, simbol peradaban, dan sistem keyakinan yang tertanam dalam jantung sosial mereka. Dan dalam sistem itu, lahirlah seorang penentang dari tengah kaumnya: Nabi Hud ‘alaihissalam.Nabi Hud menyeru kaumnya dengan suara bening:
“Sembahlah Allah! Tidak ada Tuhan bagi kalian selain Dia.”Kaumnya mengejek.
“Kami melihatmu gila. Dan kami kira kau pendusta.”Hud menjawab:
“Aku hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya. Aku utusan dari Tuhan semesta alam. Mengapa kalian heran bahwa Tuhan mengutus seseorang dari kaum kalian sendiri?”Tapi mereka tidak membalas dengan akal. Mereka membalas dengan kesombongan tradisi:
“Apakah kau ingin kami tinggalkan sesembahan nenek moyang kami?”Tradisi, bagi mereka, adalah kitab suci kedua. Meski kebenaran datang, mereka lebih percaya pada nama-nama yang diwarisi, ketimbang Tuhan yang menciptakan.Hud berseru getir
“Jika begitu, tunggulah. Aku pun akan menunggu bersama kalian.”
Baca juga: Mencari Bahtera di Tubuh Gunung: Misteri Durupinar dan Jejak Nabi Nuh
Angin yang Mencabut Sampai ke Akar
Allah Taala menjawab. Bukan dengan gempa atau banjir, melainkan angin—dingin, kencang, mematikan.
“Maka Kami binasakan mereka dengan angin yang sangat dingin dan kencang.” (al-Haqqah: 6)Angin itu mencabik tubuh-tubuh besar mereka, melemparkan mereka seperti batang pohon lapuk. Pilar-pilar Iram patah. Kota mereka hilang dalam pusaran badai. Yang tersisa hanyalah pasir dan mitos.Ibnu Katsir mencatat, azab yang menimpa mereka bisa berupa suara mengguntur, badai, atau gabungan semuanya. Namun satu hal pasti: mereka dibinasakan bukan karena lemah, melainkan karena congkak
.Ironis. Hari ini nama Firaun lebih akrab di telinga umat manusia, sementara ‘Ad—kaum pertama yang menantang Allah setelah banjir Nuh—hampir terlupakan. Padahal kisah mereka diabadikan dalam banyak surat Al-Qur’an.Tubuh besar mereka membuktikan bahwa kekuatan fisik tak menyelamatkan jiwa. Kota Iram menjadi saksi bahwa peradaban tak menjamin keselamatan.
“Dan Kami selamatkan Hud dan orang-orang yang beriman bersamanya dengan rahmat Kami. Dan Kami binasakan hingga ke akar-akarnya orang-orang yang mendustakan.” (Al-A’raf: 72)
Baca juga: Kisah Lamik Keturunan Nabi Idris Ternyata Ayah Nabi Nuh(mif)