Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 17 April 2026
home masjid detail berita

Saat Angin Menjadi Pedang: Kisah Kejatuhan Kaum Ad di Padang Al-Ahqaf

miftah yusufpati Senin, 23 Juni 2025 - 16:30 WIB
Saat Angin Menjadi Pedang: Kisah Kejatuhan Kaum Ad di Padang Al-Ahqaf
Kaum Ad akhirnya diazab Alllah taala. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Sejarah kaum ‘Ad bukan sekadar dongeng padang pasir. Ia adalah peringatan abadi bahwa kesombongan kolektif, ketika kebenaran ditolak karena alasan tradisi, dan iman dikalahkan oleh sistem sosial—mampu membuat satu peradaban disapu angin dalam satu malam.Dan ketika berhala telah menjelma sistem, maka kehancuran hanyalah soal waktu.

Al-Ahqaf—jazirah antara Yaman dan Oman—dahulu bukan sekadar hamparan pasir. Di bawah terik matahari gurun, berdiri pilar-pilar batu menjulang, saksi atas kejayaan kaum raksasa: Kaum ‘Ad.Tubuh mereka besar, otot mereka sekeras besi. Di bentang langit gurun yang lapang, mereka mendirikan kota megah: Iram, kota tiang-tiang tinggi yang belum pernah disamai peradaban manapun.Mereka bukan bangsa biasa. Mereka pewaris peradaban pasca-Nuh. Bangkit dari reruntuhan banjir semesta, kaum ‘Ad hidup dengan kekuatan dan kemewahan yang sulit tertandingi. Namun satu hal mereka lupakan: merunduk kepada langit.

“Siapakah yang lebih kuat dari kami?” kata mereka, membusungkan dada.Al-Qur’an menjawab dengan lugas: “Tidakkah mereka tahu bahwa Allah yang menciptakan mereka, lebih kuat dari mereka?” (Fushshilat: 15)

Baca juga: Iram: Kota Pilar yang Terkubur dan Kaum yang Membangkang

Tiga Patung di Tengah Gurun

Menurut Ibnu Katsir dalam Qashash al-Anbiya’, selepas azab banjir Nabi Nuh, kaum ‘Ad menjadi bangsa pertama yang kembali menyembah berhala. Tapi ini bukan sekadar penyembahan—mereka memuliakan, memahat, dan memaknai berhala sebagai lambang kejayaan.Nama-nama berhala mereka disebutkan: Sadd, Shamud, dan Hera—atau dalam versi lain: Sada, Samud, dan Heba.Berhala bukan hanya batu. Ia adalah ingatan kolektif, simbol peradaban, dan sistem keyakinan yang tertanam dalam jantung sosial mereka. Dan dalam sistem itu, lahirlah seorang penentang dari tengah kaumnya: Nabi Hud ‘alaihissalam.Nabi Hud menyeru kaumnya dengan suara bening: “Sembahlah Allah! Tidak ada Tuhan bagi kalian selain Dia.”Kaumnya mengejek. “Kami melihatmu gila. Dan kami kira kau pendusta.”Hud menjawab: “Aku hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya. Aku utusan dari Tuhan semesta alam. Mengapa kalian heran bahwa Tuhan mengutus seseorang dari kaum kalian sendiri?”Tapi mereka tidak membalas dengan akal. Mereka membalas dengan kesombongan tradisi: “Apakah kau ingin kami tinggalkan sesembahan nenek moyang kami?”Tradisi, bagi mereka, adalah kitab suci kedua. Meski kebenaran datang, mereka lebih percaya pada nama-nama yang diwarisi, ketimbang Tuhan yang menciptakan.Hud berseru getir “Jika begitu, tunggulah. Aku pun akan menunggu bersama kalian.”

Baca juga: Mencari Bahtera di Tubuh Gunung: Misteri Durupinar dan Jejak Nabi Nuh


Angin yang Mencabut Sampai ke Akar

Allah Taala menjawab. Bukan dengan gempa atau banjir, melainkan angin—dingin, kencang, mematikan. “Maka Kami binasakan mereka dengan angin yang sangat dingin dan kencang.” (al-Haqqah: 6)Angin itu mencabik tubuh-tubuh besar mereka, melemparkan mereka seperti batang pohon lapuk. Pilar-pilar Iram patah. Kota mereka hilang dalam pusaran badai. Yang tersisa hanyalah pasir dan mitos.Ibnu Katsir mencatat, azab yang menimpa mereka bisa berupa suara mengguntur, badai, atau gabungan semuanya. Namun satu hal pasti: mereka dibinasakan bukan karena lemah, melainkan karena congkak.Ironis. Hari ini nama Firaun lebih akrab di telinga umat manusia, sementara ‘Ad—kaum pertama yang menantang Allah setelah banjir Nuh—hampir terlupakan. Padahal kisah mereka diabadikan dalam banyak surat Al-Qur’an.Tubuh besar mereka membuktikan bahwa kekuatan fisik tak menyelamatkan jiwa. Kota Iram menjadi saksi bahwa peradaban tak menjamin keselamatan.

“Dan Kami selamatkan Hud dan orang-orang yang beriman bersamanya dengan rahmat Kami. Dan Kami binasakan hingga ke akar-akarnya orang-orang yang mendustakan.” (Al-A’raf: 72)

Baca juga: Kisah Lamik Keturunan Nabi Idris Ternyata Ayah Nabi Nuh

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 17 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:04
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)