LANGIT7.ID–Jakarta; Militer Iran mengklaim telah meluncurkan serangan rudal ke pangkalan udara milik Amerika Serikat, al-Udeid, yang berada di Qatar pada Senin, menyusul ledakan yang terdengar di ibu kota Doha. Serangan ini dilakukan sebagai balasan atas serangan udara AS terhadap fasilitas nuklir Iran.
Menurut militer Iran, serangan tersebut bersifat "menghancurkan dan kuat". Namun, pejabat AS menegaskan bahwa tidak ada korban jiwa atau luka dari pihak mereka dalam serangan yang menyasar pangkalan terbesar milik AS di Timur Tengah itu.
Sumber kawasan menyebutkan bahwa Iran sebenarnya telah memberi tahu AS melalui dua jalur diplomatik beberapa jam sebelum serangan, dan juga sudah memberi tahu pemerintah Qatar.
Baca juga: PBB Sebut Serangan Israel di Iran Bisa Langgar Hukum Perang InternasionalQatar mengonfirmasi bahwa sistem pertahanannya berhasil mencegat rudal-rudal yang diarahkan ke al-Udeid, pangkalan militer terbesar AS di wilayah tersebut.
Iran sebelumnya mengancam akan membalas serangan Amerika, setelah AS menjatuhkan bom bunker buster seberat 30.000 pon ke fasilitas nuklir bawah tanah milik Iran di akhir pekan lalu. Serangan itu dilakukan bersamaan dengan kampanye udara Israel terhadap Teheran. Bahkan, Presiden Donald Trump sempat menyebut kemungkinan pergantian rezim di Iran.
Beberapa saat sebelum serangan terjadi, seorang diplomat Barat mengatakan kepada Reuters bahwa ada ancaman serius terhadap pangkalan militer AS di negara-negara Teluk, sebagai dampak dari serangan udara besar-besaran terhadap program pengayaan uranium Iran.
Sumber Reuters lainnya menyebut bahwa Qatar telah menutup wilayah udaranya setelah menerima peringatan dini dari Iran soal serangan yang akan diluncurkan.
Bahrain, negara Teluk lain yang letaknya di utara Qatar, juga menutup wilayah udaranya usai serangan rudal Iran ke al-Udeid.
Sementara itu, pangkalan udara AS Ain al-Asad di Irak juga sudah mengaktifkan sistem pertahanannya karena khawatir akan diserang. Hal yang sama terjadi di pangkalan militer AS di Suriah, yang kini siaga penuh terhadap kemungkinan serangan dari Iran atau milisi yang berpihak pada Iran.
Qatar sendiri sudah mengumumkan penutupan wilayah udaranya demi keselamatan penduduk dan para pengunjung. Kedutaan Besar AS di Doha juga telah mengeluarkan imbauan agar warga Amerika tetap berada di dalam rumah demi alasan keamanan.
Dua pejabat AS menyebutkan bahwa Washington sedang menilai potensi serangan Iran terhadap pasukan AS di Timur Tengah, meskipun jalur diplomatik masih dicoba untuk mencegah eskalasi.
Di hari yang sama, Israel menggempur penjara politik Evin di Teheran, sebagai sinyal bahwa mereka siap menyerang bukan hanya fasilitas militer dan nuklir, tapi juga simbol kekuasaan politik Iran.
Meski Iran mengancam akan mengganggu pengiriman minyak dari kawasan Teluk, harga minyak justru turun 4 persen dalam perdagangan yang fluktuatif—menandakan pasar ragu Iran akan benar-benar melakukan hal yang bisa mengguncang pasokan global.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dilaporkan bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskow, guna mencari dukungan dari sekutu kuat terakhir mereka dalam menentukan langkah selanjutnya.
Israel mengonfirmasi bahwa serangan mereka ke penjara Evin dan sejumlah target lain di Teheran memang bertujuan menghantam jantung kekuasaan Iran.
“Viva la libertad!” tulis Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, di media sosial X, sambil membagikan video ledakan di sebuah bangunan bertanda masuk penjara Evin.
Televisi pemerintah Iran, IRIB, menayangkan video petugas penyelamat mengangkat korban dari reruntuhan bangunan penjara. Media resmi kehakiman Iran, Mizan, mengatakan tindakan darurat sedang dilakukan untuk menjamin keselamatan para narapidana.
Penjara Evin sendiri dikenal sebagai tempat menahan tahanan politik dan keamanan di Iran. Beberapa warga asing dengan kasus profil tinggi juga ditahan di sana.
Militer Israel juga menyerang pusat komando Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang bertanggung jawab atas keamanan dalam negeri di wilayah Teheran.
“Kami saat ini sedang menggempur pusat kekuasaan dan badan penindasan pemerintah di jantung Teheran dengan kekuatan yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz.
Sebagian besar warga Teheran, yang populasinya mencapai 10 juta jiwa, sudah meninggalkan kota setelah 10 hari dibombardir. Kantor berita Tasnim melaporkan serangan juga menghantam stasiun listrik di dekat penjara Evin. Perusahaan listrik Tavanir melaporkan bahwa beberapa wilayah ibu kota mengalami pemadaman.
Sejak Trump bergabung dalam serangan Israel dengan menjatuhkan bom raksasa ke situs nuklir Iran pada Minggu pagi, Iran terus mengancam akan membalas.
“Mr. Trump, si penjudi, Anda mungkin memulai perang ini, tapi kami yang akan mengakhirinya,” kata juru bicara pusat komando militer Iran, Ebrahim Zolfaqari, dalam video berbahasa Inggris yang dirilis pada Senin.
Pemerintahan Trump sendiri menyatakan bahwa tujuannya hanyalah untuk menghancurkan program nuklir Iran, bukan untuk memulai perang besar. Tapi dalam unggahan media sosialnya pada Minggu, Trump juga sempat menyinggung kemungkinan menggulingkan penguasa garis keras Iran yang menjadi musuh utama AS sejak Revolusi Islam 1979.
(lam)