LANGIT7.ID-, -
Film "Superman" besutan James Gunn mengalami kendala di
India. Bukan aksinya, melainkan karena romansanya.
Dilansir Variety, Rabu (16/7/2025), Badan Sertifikasi Film Pusat India (CBFC) menghapus dua adegan ciuman, khususnya adegan ciuman di udara berdurasi 33 detik, karena dianggap "terlalu sensual,".
Menurut laporan setempat, sensor terpaksa dilakukan untuk mendapat peringkat UA (13+) sebelum
sertifikasi film tersebut pada 7 Juli.
Baca juga: Film Superman Diserang Israel, Warganet: Kena Sindir Ya?Pemotongan adegan ciuman kemudian memicu reaksi keras atas praktik sensor yang tidak konsisten dan konservatif.
Salah satu yang mengkritik pemotongan tersebut adalah aktor Shreya Dhanwanthary (SonyLIV "Scam 1992," Prime Video "The Family Man").
"Jika ini benar, ini MENGGELIKAN!!! Ada hal-hal konyol yang terjadi setiap hari. Setiap. Hari. Sial. Tentu ini bukan kekhawatiran utama kami, tetapi apakah ada yang dilakukan untuk hal lainnya? Ada hal-hal konyol yang terjadi setiap hari. Setiap. Hari. Sial.." kata Shreya dalam unggahan media sosial menanggapi sensor film Superman.
Hal yang sama juga dicuitkan oleh kreator digital Amol Jamwal yang menulis lewat platform X.
"Kalian boleh punya lelucon cabul yang bermakna ganda di Housefull 5. Pemenggalan kepala & kekerasan berdarah di Jaat. Tapi.... Superman mencium Lois Lane adalah batasannya." cuit Amol Jamwal.
Sementara warganet lain di X ikutan mengomentari
sensor film Superman oleh CBPFC.
"CBFC akan mengizinkan adegan kekerasan dan
penyerangan seksual yang mengerikan dalam film bersertifikasi U yang boleh ditonton anak-anak secara bebas, tetapi tidak akan mengizinkan ciuman suka sama suka dalam film komik U/A yang harus ditonton anak-anak di bawah pengawasan orang dewasa." katanya.
Baca juga: Film Superman Baru Picu Kontroversi, Dinilai Sindir Israel dan Kekerasan di GazaSebagai informasi, praktik sensor bukan kasus pertama di tahun ini. Sebelumnya emoji jari tengah "F1" diganti dengan kepalan tangan. Begitu juga dengan umpatan di film "Thunderbolts", yang tayang di India, harus diredam.
Pola berulang ini memicu kembali perdebatan tentang kebebasan berekspresi dan kewenangan luas CBFC di bawah Undang-Undang Sinematografi.
Pedoman sertifikasi CBFC mengabadikan kebebasan berbicara dan berekspresi, tetapi hak-hak ini tunduk pada "pembatasan yang wajar" atas berbagai alasan, termasuk "kesopanan atau moralitas."
Pembubaran Pengadilan Banding Sertifikasi Film pada tahun 2021 semakin memperumit masalah, membuat para pembuat film tidak memiliki jalan keluar selain mengajukan banding di pengadilan tinggi India, yang tentunya memakan waktu dan mahal.
Baca juga: Indonesia dan Prancis Perkuat Kolaborasi Budaya melalui Kerja Sama Strategis di Bidang Perfilman(est)