LANGIT7.ID–Jakarta; Upaya internasionalisasi pendidikan pesantren Indonesia kembali mendapat momentum baru setelah kunjungan Duta Besar Afghanistan untuk Indonesia, Saadyllah Baloch, ke kantor pusat Kementerian Agama. Dalam pertemuan tersebut, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyambut hangat diskusi terkait peluang ekspansi lembaga pendidikan Islam khas Indonesia ke berbagai penjuru dunia.
Kunjungan ini menjadi yang pertama kali dilakukan oleh perwakilan Kedutaan Besar Afghanistan ke Kemenag. Dalam dialog terbuka yang berlangsung hangat, Dubes Saadyllah Baloch menyampaikan kekagumannya terhadap sistem pendidikan Islam di Indonesia yang dinilainya sangat menarik dan berpotensi menjadi model bagi negara lain, termasuk Afghanistan.
Sejak tiba di Indonesia pada awal Ramadan 1446 Hijriah, Baloch mengaku mengamati geliat pendidikan keislaman di Indonesia, terutama madrasah dan pesantren. Dalam kesempatan itu, ia memaparkan rencana pembangunan madrasah berskala besar di Kabul serta ketertarikannya terhadap pengembangan pesantren Indonesia di luar negeri, salah satunya di Washington, Amerika Serikat.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Agama menyampaikan dukungan penuh. Ia menyebut bahwa saat ini Indonesia telah memiliki madrasah di Yordania yang menunjukkan dampak positif dan bisa menjadi rujukan bagi rencana pembangunan serupa di negara lain.
“Indonesia memiliki banyak lembaga pendidikan Islam seperti madrasah dan pesantren. Lebih dari 45 ribu pondok pesantren tersebar di seluruh Indonesia, dengan jumlah santri lebih dari 1 juta orang,” ujar Menag dalam keterangannya, dikutip Rabu (23/7/2025).
Menurutnya, kekuatan pendidikan pesantren di Indonesia juga terlihat dari kemampuan para santri dalam berbahasa Arab serta keberagaman latar belakang para pengajar yang juga datang dari negara-negara Timur Tengah.
Tak hanya menyambut ide besar ekspansi pesantren, Menag juga memanfaatkan momen ini untuk memperkuat hubungan bilateral dengan mengundang pihak Kedutaan Besar Afghanistan dalam acara Musabaqah Qiraatil Kutub Internasional (MQKI) – ajang kompetisi pemahaman kitab-kitab klasik Islam yang akan segera digelar.
“Kami siap berpartisipasi,” sahut Dubes Baloch antusias, sembari menyebut bahwa negaranya memiliki rekam jejak keikutsertaan dalam berbagai kompetisi musabaqah sebelumnya.
Menutup pertemuan, Menag menyampaikan rencana penyusunan nota kesepahaman (MoU) kerja sama di bidang pendidikan keagamaan sebagai tindak lanjut dari pertemuan ini. Ia menegaskan pentingnya kerja sama antarnegara dalam memperkuat jaringan pendidikan Islam yang inklusif dan adaptif terhadap tantangan global.
“Semoga silaturahmi ini membawa keberkahan dan kolaborasi yang lebih baik ke depan,” tutur Menag.
Pertemuan ini menjadi sinyal positif bahwa pesantren Indonesia tak hanya menjadi tulang punggung pendidikan keagamaan di dalam negeri, tapi juga siap melebarkan sayapnya ke panggung global sebagai duta Islam moderat.
(lam)