LANGIT7.ID-, - Kurang lebih 600 pensiunan pejabat keamanan Israel, termasuk mantan kepala badan intelijen telah menulis surat kepada Presiden Amerika Serikat
Donald Trump, untuk mendesak
Israel agar segera mengakhiri
perang di Gaza.
"Menurut penilaian profesional kami, Hamas tidak lagi menjadi ancaman strategis bagi Israel," kata para pejabat tersebut, melansir
bbc.com, Senin (4/8/2025).
"Kredibilitas Anda di mata mayoritas rakyat Israel memperkuat kemampuan Anda untuk mengarahkan Perdana Menteri (Benjamin)
Netanyahu dan pemerintahannya ke arah yang benar: Akhiri perang, kembalikan para sandera, hentikan penderitaan," tulis mereka.
Aksi serta permohonan mereka ini tidka muncul begitu saja, melainkan reaksi atas laporan bahwa Netanyahu tengah berupaya memperluas operasi militer di Gaza, karena perundingan
gencatan senjata tidak langsung dengan Hamas telah terhenti.
Israel melancarkan perang yang menghancurkan di Gaza menyusul serangan Hamas di Israel selatan pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan sekira 1.200 orang dan menyandera 251 orang.
Lebih dari 60.000 orang telah tewas akibat kampanye militer Israel di Gaza sejak saat itu, menurut Kementerian Kesehatan yang dikelola Hamas.
Baca juga: Aksi Pro-Palestina di Sidney, Puluhan Ribu Orang Turun ke JalanWilayah tersebut juga mengalami kemiskinan massal akibat pembatasan ketat yang diberlakukan Israel terhadap apa pun yang diizinkan masuk ke Gaza. Kementerian tersebut menyatakan 180 orang, termasuk 93 anak-anak, telah meninggal dunia akibat malnutrisi sejak dimulainya perang.
Badan-badan yang didukung PBB mengatakan "skenario terburuk kelaparan sedang terjadi" di Gaza.
Intervensi terbaru oleh para mantan pejabat tinggi Israel ini dilakukan setelah video dua sandera Israel yang kurus kering dirilis oleh militan Hamas dan Jihad Islam.
Kemudian video-video tersebut dikecam luas oleh para pemimpin Israel dan Barat.
Baca juga: Hamas Rilis Video Baru Sandera Israel di Gaza, Pesan Menyayat Hati untuk PemerintahSetelah video-video tersebut dirilis, Netanyahu berbicara dengan kedua keluarga sandera, memberi tahu mereka bahwa upaya untuk memulangkan semua sandera "akan terus berlanjut dan tanpa henti".
Namun, seorang pejabat Israel yang banyak dikutip oleh media local mengatakan bahwa Netanyahu berupaya membebaskan para sandera melalui "kekalahan militer Hamas".
Kemungkinan eskalasi baru di Gaza dapat semakin membuat marah sekutu-sekutu Israel yang telah mendesak gencatan senjata segera, karena laporan tentang warga Palestina yang meninggal karena kelaparan atau kekurangan gizi menggemparkan dunia.
Kelompok utama yang mendukung keluarga para sandera mengecam gagasan serangan militer baru dengan mengatakan: "Netanyahu sedang memimpin Israel dan para sandera menuju kehancuran."
Pandangan tersebut secara tegas diutarakan dalam surat kepada Trump oleh mantan kepala Mossad Tamir Pardo, mantan kepala Shin Bet Ami Ayalon, mantan Perdana Menteri Ehud Barak, dan mantan Menteri Pertahanan Moshe Yaalon, di antara yang lainnya.
"Awalnya perang ini adalah perang yang adil, perang defensif, tetapi ketika kita mencapai semua tujuan militer, perang ini bukan lagi perang yang adil," kata Ayalon.
Baca juga: Trump Ancam Gaza: "Kalian Bakal Hancur" Jika Sandera Tidak DibebaskanPara mantan pemimpin tinggi tersebut memimpin kelompok Komandan Keamanan Israel (CIS), yang sebelumnya telah mendesak pemerintah untuk fokus mengamankan pemulangan para sandera.
"Hentikan Perang Gaza! Atas nama CIS, kelompok terbesar mantan jenderal IDF dan Mossad, Shin Bet, Kepolisian, serta Korps Diplomatik Israel, kami mendesak Anda untuk mengakhiri perang Gaza. Anda telah melakukannya di Lebanon. Saatnya melakukannya juga di Gaza," tulis mereka kepada Presiden AS.
(lsi)