LANGIT7.ID-Kairo, 1260. Di gerbang ibukota, dua kepala manusia tergantung. Kulitnya mulai menghitam, matanya kosong. Mereka adalah utusan Kekaisaran Mongol, datang membawa surat ancaman dari Hulagu Khan, pulang tanpa kepala atas perintah Sultan Mamluk, Sayf ad-Din Qutuz. Bagi Qutuz, pesan itu jelas: Mamluk tidak tunduk.
Sejak jatuhnya Baghdad dua tahun sebelumnya, Timur Tengah berada dalam kepungan sejarah. Mongke Khan di Karakorum memerintahkan Hulagu menyapu sisa-sisa kekuasaan Islam di barat. Aleppo menyerah, Damaskus jatuh tanpa perlawanan berarti. Di peta kekuasaan Mongol, garis penaklukan itu hanya tinggal satu lengkungan terakhir menuju Kairo.
Di sisi lain, dunia Islam tengah pincang.
Perang Salib belum usai. Mesir, Libya, pesisir Suriah, dan Makkah berada di bawah Mamluk—penguasa baru yang menggusur Ayyubiyah. Abbasiyah di Baghdad runtuh tanpa sempat meminta pertolongan tetangga. Kota suci politik Islam pun pindah ke Kairo.
Nasib wilayah Mamluk ditentukan oleh kabar duka dari ribuan kilometer jauhnya: Mongke Khan wafat. Hulagu harus kembali ke Karakorum, meninggalkan hanya 20.000 pasukan di Suriah di bawah komando jenderalnya, Ketbuqa. “Inilah celah yang tak boleh dilewatkan,” pikir Qutuz.
Baca juga: Takbir di Gerbang Konstantinopel: Prediksi Penaklukan Tanpa Peperangan Qutuz segera mengumpulkan pasukan. Ironisnya, jalur menuju medan perang harus melewati wilayah Tentara Salib, musuh lama yang kini bersikap netral. Mereka membiarkan pasukan Mamluk lalu-lalang, mungkin karena berharap dua kekuatan besar itu saling menghabisi.
Lembah yang Mengguncang26 Ramadan 658 H (3 September 1260 M). Lembah Yizreel di Palestina, dikenal sebagai Ain Jalut—Mata Air Jalut. Di sanalah dua arus peradaban bertemu. Qutuz membawa taktik yang dipelajari dari musuhnya sendiri: serangan pura-pura mundur. Sebagian kecil pasukan Mamluk memancing kavaleri Mongol, sebelum pasukan utama menyergap dari bukit.
Senjata api genggam—teknologi awal yang konon dibawa Mongol dari Tiongkok—digunakan Mamluk untuk menakutkan kuda musuh. Riuh ledakan kecil bercampur derap kuda, debu, dan teriakan takbir.
Ketbuqa tertangkap hidup-hidup. “Kematian saya akan membuat Hulagu datang menghancurkan Kairo,” ancamnya. Qutuz tak bergeming. Perintahnya tegas: penggal.
Baca juga: Visinema Garap Film Perang Jawa, Fadli Zon Sebut Proyek Monumental Kemenangan di Ain Jalut menjadi yang pertama membuktikan bahwa Mongol bisa dihentikan. Hulagu, yang kembali pada 1269, mendapati jalan ke Kairo tak pernah lagi terbuka. Perpecahan internal Mongol—terutama dengan Gerombolan Emas pimpinan Berke Khan yang memeluk Islam—menghentikan ambisi global mereka.
“Jika Mongol menang di Ain Jalut, peradaban Islam mungkin hanya tinggal catatan kaki,” tulis seorang sejarawan modern. Namun hari itu, di sebuah mata air kecil di Palestina, sejarah memilih jalan lain.
(mif)