LANGIT7.ID, Jakarta - Jika membaca buku The 500 Most Influental Muslims oleh John Esposito dan Ibrahim Kalin pada 2009, kita akan menemukan satu nama Syekh Hamza Yusuf, seorang tokoh muslim yang sangat berpengaruh bagi perkembangan Islam di Amerika Serikat. Ia adalah salah satu Ulama Sunni paling otoritatif di Amerika Serikat dalam pengkajian Ilmu Islam dari sumber klasik dan telah mempromosikan ilmu-ilmu dan metode pengajaran tersebut ke seluruh dunia.
Syekh Hamza Yusuf merupakan seorang ulama asal Amerika Serikat dan salah satu pendiri Zaytuna College. Pria yang lahir dengan nama Katolik, Mark Hanson, itu lahir pada 1 Januari 1958 dari pasangan Elizabeth Anne George Hanson dan David Hanson di Walla-Walla, Washington, Amerika Serikat. Pria berusia 63 tahun itu berpasangan dengan Liliana Hanson dan kini tinggal di California Utara, Amerika Serikat.
Lahir dari Keluarga non-MuslimSyekh Hamza lahir dari keluarga non-muslim. Keluarga besarnya ayahnya, David Hanson, penganut Katolik taat. Sementara ibunya, Elizabeth Anne George Hanson, pemeluk Kristen Ortodoks. Kendati begitu, lingkungan tersebut tidak mempengaruhi semangatnya untuk belajar Islam setelah menjadi mualaf.
Pola pikir kritis Syekh Hamza terbentuk dari lingkungan akademisi dan atmosfer asrama Katolik yang sangat kental. Ia tumbuh menjadi sosok pria yang haus ilmu. Pembaca buku yang ulung. Ia tak pernah melewatkan mempelajari ilmu-ilmu sosial.
Tertarik Belajar Islam Saat KuliahSaat remaja, Syekh Hamza masuk di sekoah menengah atas Georgetown Preparatory School. Ia tertarik mempelajari berbagai agama saat memasuki perguruan tinggi. Dari situ dia mengenal Islam secara otodidak. Saat itu Ia berfikir Islam memiliki jumlah pengikut yang bisa menyaingi populasi Kristen.
Perjalanan intelektualitas dan spiritual itu membawa dia semakin tertarik untuk memperdalam Islam sebab dia menemukan Islam sebagai sebuah ajaran yang sangat masuk akal. Ia berfikir mengapa tidak sejak awal dia diperkenalkan dengan agama tersebut. Padahal, Islam memiliki konsep monoteisme, sebagaimana hakikat ajaran Yahudi dan Kristen yang murni.
Kesadaran Syekh Hamza muncul pada 1977. Saat itu ia mengalami peristiwa tragis yang hampir merenggut nyawanya. Ia lalu memdalami dan menelaah Alquran. Pada 1978, ia memutuskan untuk berikrar syahadat.
Tak berhenti sampai di situ, Syekh Hamza terus memperdalam ilmu-ilmu yang berkaitan dengan agama Islam. Ia berkunjung ke berbagai negara untuk mempelajari agama yang baru saja ia peluk. Mulai dari London, pindah ke Granada, Spanyol, selama setahun untuk memulai belajar bahasa Arab dan Al-Quran.
Kemudian, ia memilih menuntut ilmu langsung di kawasan Timur Tengah. Uni Emirat Arab adalah destinasi yang ia pilih setelah mendapat pencerahan dari Syekh Abdullah Ali Mahmoud, pakar fikih Mazhab Maliki yang pernah ia temui di London. Ia menghabiskan waktu di UEA selama limat tahun.
Di UEA, Syekh Hamza belajar di Institut Islam Al-Ain. Dari sini lancar berbahasa Arab dan memperdalam ilmu fikih. Petualangan mencari ilmu terus berlanjut saat bertemu dengan Syekh Abdullah Ould Siddiq asal Mauritania. Ia kemudian ke Mauritania pada 1984. Ada banyak pengalaman baru yang ia dapat saat belajar di negara tersebut, terutama sistem pembelajaran Islam yang tradisional.
Sebelum ke Mauritania, ia sempat pula singgah di Aljazair untuk menghafal Al-Quran di Madrasah Bilal bin Rabah. Setelah 10 tahun mengembara, Hamza pun kembali ke tanah kelahirannya dan memulai dakwahnya yang sarat prestasi tersebut.
Muslim Barat Paling Berpengaruh di AmerikaDilansir dari berbagai sumber, putra kedua dari tujuh bersaudara ini kaya dengan penghargaan dan apresiasi dari dunia internasional. Egypt Today menyematkannya sebagai Muslim Barat, Rockstar dalam bidang teologi. Ia juga berada di peringkat ke-42 dari 500 tokoh muslim paling berpengaruh di dunia versi Pusat Studi Strategis Keislaman Kerajaan Yordania. Bahkan, harian Inggris the Guardian menyebut pula Syekh Hamza Yusuf sebagai tokoh Islam Barat paling berpengaruh di Amerika.
Syekh Hamza aktif memperkenalkan wajah Islam yang cinta damai di ruang publik Amerika Serikat. Aktivitas tersebut semakin intensif setelah tragedi 11 September. Berbagai kesempatan berpidato atau ceramah ilmiah ia gunakan sebagai wadah untuk memperkenalkan Islam. Ia ingin menegaskan bahwa Islam tak seperti yang digambarkan media-media barat usai 11 September.
Kiprah Syekh Hamza sangat signifikan dalam mewujudkan perdamaian antaragama di Barat. Ia menjadi bagian dari tokoh-tokoh yang menandatangani "
A Common Word Bet ween Us and You". Surat tersebut ditulis oleh tokoh muslim sebagai pesan perdamaian dan dikirim ke para pemimpin Krisitiani.
Dia aktif di berbagai organisasi, baik yang diinisiasi Zaituna College maupun lembaga lain dengan visi-misi yang sama. Selain itu, ia tercatat sebagai penasihat Program Studi Keislaman Universitas Stanford dan Pusat Studi Keislaman di Pascasarjana Teologi Berkeley.
Berbagai jalan ia tempuh untuk menampilkan Islam yang cinta damai. Selain aksi di lapangan, ia menuangkan ide dan pemikirannya dalam berbagai ragam karya tulis. Sebagian besar berkutat pada keislaman dan ilmu- ilmu sosial. Di antaranya,
The State We Are In: Identity, Terror, and the Law of Jihad terbit tahun 2003,
Purification of the Heart: Signs, Symptoms and Cures of the Spiritual DIseases of the Heart terbit tahun 2004 dan
The Creed of Imam Al-Tahawi terbit tahun 2007.
Mendirikan Zaytuna CollegePada 1996, Syekh Hamza bersama koleganya Hesham Alalusi mendirikan Zaytuna Institute yang menawarkan program studi Sastra Arab dan Kajian Islam. Zaytuna Institute mengakuisisi sebuah kampus di kota Hayward, CA dan pada tahun 2001. Institute itu melakukan proyek seminari percontohan dengan waktu belajar selama empat tahun dan meluluskan angkatan pertama sebanyak 5 wisudawan. Dari program percontohan itu, Zaytuna Institute kemudian mendirikan Zaytuna College.
Zaytuna Institute mengadakan program intensif bahasa Arab musim panas pada tahun 2008 dan segera setelah secara resmi mengubah namanya dari Zaytuna Institute menjadi Zaytuna College pada tahun 2009, kelas sarjana dimulai pada tahun 2010.
Zaytuna College terletak di fasilitas yang disewa dari
American Baptist Seminary of the West (ABSW) di Berkeley, CA. Pada Juli 2012, Zaytuna membeli fasilitas baru yang terletak di "Bukit Suci" Berkeley. Holy Hill terdiri dari beberapa sekolah teologi dari beberapa denominasi Kristen.
Kampus itu kini tengah mengupayakan akreditasi dari Western Association of School and Colleges. Pendiri berharap, dengan akreditasi tersebut, para lulusan dapat bekerja di profesi apa pun, termasuk melayani komunitas Muslim Amerika sebagai Imam, Manajer NGO, atau Guru Sekolah Islam.
Umat Islam memang sudah ada di Amerika Serikat selama berabad-abad. Akan tetapi, menurut Direktur Riset dan Manajemen Komunitas dari
The Institute for Social Policy and Understanding (ISPU) Farid Senzai, sebagian besar imigran masuk ke negara itu dalam 40 tahun terakhir dengan populasi 80 persen tiba setelah 1080-an.
Selama beberapa dekade, umat Islam di Amerika hanya membangun sejumlah fasilitas umum seperti Masjid, Sekolah dan Lembaga Advokasi. Kehadiaran Zaytuna College tentu menjadi pencapaian baru bagi umat Islam di negera Paman Sam. Kampus itu dapat menjembatani celah antara segmen berbeda di komunitas seperti imigran dan Muslim penduduk AS.
Selain itu, kehadiran kampus tersebut bisa mencetak lulusan dengan kapasitas sebagai Imam di negara yang diperkirakan telah memiliki 2.000 Masjid, sebagai pengganti pimpinan komunitas asal luar yang kerap menghadapi kendala budaya, bahasa dan perbedaan antar generasi..
(jqf)