LANGIT7.ID, Jakarta - Seorang Dosen mengeluhkan kualitas berbahasa Indonesia mahasiswanya yang buruk saat mengoreksi jawaban dari ujian mereka. Keluhan dalam bentuk pesan singkat tersebut diunggah oleh rekan dari dosen itu yakni Cendekiawan Muslim Ulil Abshar Abdallah di akun Twitternya.
"Yang bikin saya heran: bahasa Inggris mereka cukup bagus, tata bahasanya benar. Mengapa kemudian kalau mereka menulis dalam bahasa Indonesia menjadi sangat buruk ya, dengan tata bahasa yang amburadul?," keluh dosen tersebut sebagaimana diunggah akun Twitter @ulil, Senin (4/10/2021).
Dosen itu heran, dalam mengerjakan ujian pada mahasiswa lebih banyak yang memilih menjawab soal ujian dalam bahasa Inggris ketimbang bahasa Indonesia.
"Ini salahnya di mana? Padahal mereka dibesarkan di Indonesia ini. Apa karena pengajaran bahasa Indonesia mereka tidak benar, tidak pernah diajarkan menulis dalam tata bahasa Indonesia yang baik? Heran saya," ungkapnya.
Ketika tata bahasa Indonesia para mahasiswa buruk, dosen tersebut heran sebab dalam belajar bahasa Inggris juga harus belajar tata bahasa dengan benar.
Baca Juga: K-Pop Makin Marak, Muhammadiyah Minta Pemerintah Perbaiki Pendidikan Budaya
Menanggapi keluhan itu, Sastrawan Okky Madasari, mencuit jika kebanyakan generasi hari ini lebih banyak menggunakan pengantar bahasa Inggris sejak sekolah dasar.
"Mungkin SD-SMP-SMA di sekolah yang bahasa pengantarnya English. Sudah banyak yang seperti ini, utamanya di Jakarta," tutur Okky.
Sementara Dosen Sekolah Tinggi Hukum (STH) Indonesia Jentera, Gita Putri Damayanti, mengafirmasi pernyataan Okky Madasari. Apalagi generasi Z hari ini juga lebih banyak terpapar bahasa Inggris melalui media sosial.
"Setuju dengan kak Okky. Anak yang terpapar bahasa Inggris sejak dini; meskipun bahasa pengantar di sekolahnya bahasa Indonesia pun bisa jadi memilih bertutur dengan teks Inggris juga Apa karena terpapar berbagai model (Tiktok-IG-Youtube-blog dlsb) penggunaan bahasa?," kata Gita.
Lalu
Sociopreneur, Iim Fahima Jachja menyebut hal itu terjadi pada anak-anaknya yang masih usia sekolah.
"Ini kejadian di anak-anakku yang masih
kicik-kicik, disebabkan sekolah yang pake bahasa Inggris, buku bacaan, konten online yang mereka tonton dan baca dan lingkungan pertemanan. Buat
ngimbangi, bapak ibune
ngajari bahasa Indonesia dan Jawa di rumah," ungkap Iim.
Baca Juga: Budaya Bukan Sekadar Seni Tradisional tapi Sarana Mengasah Potensi Kemanusiaan Jadi Insan Kamil(jqf)