LANGIT7.ID-Jakarta; Arab Saudi dan Prancis bakal menggelar pertemuan besar dengan puluhan pemimpin dunia pada Senin untuk menggalang dukungan terhadap solusi dua negara. Beberapa negara diperkirakan akan secara resmi mengakui negara Palestina—langkah yang kemungkinan memicu reaksi keras dari Israel dan Amerika Serikat.
Israel dan AS sudah memastikan akan memboikot acara itu. “Kami tidak menganggap ini langkah yang membantu. Justru seperti memberi hadiah untuk terorisme,” ujar Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon.
Pemerintah Israel bahkan mempertimbangkan opsi mencaplok sebagian wilayah Tepi Barat sebagai respons, termasuk kemungkinan menjatuhkan sanksi khusus terhadap Prancis. Namun langkah pencaplokan berisiko membuat Israel kehilangan dukungan dari negara kunci seperti Uni Emirat Arab. UEA, yang menormalisasi hubungan dengan Israel lewat Abraham Accords tahun 2020, menegaskan bahwa aneksasi adalah garis merah. “Itu akan merusak inti dari apa yang ingin dicapai Abraham Accords,” kata Lana Nusseibeh, pejabat senior Kementerian Luar Negeri UEA, kepada BBC.
Baca juga: Inggris, Kanada, Australia, dan Portugal Akui Palestina, Israel Marah BesarAS juga mengingatkan bakal ada konsekuensi bagi negara yang mengambil sikap melawan Israel, termasuk Prancis. Presiden Emmanuel Macron sendiri menjadi tuan rumah pertemuan di New York, yang digelar tepat sebelum Sidang Majelis Umum PBB pekan ini.
Pertemuan tersebut berlangsung di tengah serangan darat Israel ke Kota Gaza dan meningkatnya kekerasan di Tepi Barat. Banyak pihak menilai ada urgensi bertindak sekarang sebelum ide dua negara benar-benar hilang dari meja. Sebelumnya, Majelis Umum PBB sudah mengesahkan deklarasi tujuh halaman yang berisi langkah-langkah nyata menuju solusi dua negara, sekaligus mengecam Hamas dan menyerukan kelompok itu untuk menyerah serta melucuti senjata.
Israel dan AS langsung menolak deklarasi itu, menyebutnya sekadar manuver politik. Tapi Menteri Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot menegaskan, “Deklarasi New York bukan janji kosong untuk masa depan, tapi peta jalan yang dimulai dengan prioritas utama: gencatan senjata, pembebasan sandera, dan masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza.”
Setelah gencatan senjata dan pembebasan sandera, Barrot mengatakan diskusi akan berlanjut soal “rencana hari setelah perang,” yang akan dibahas dalam agenda Senin.
Prancis memimpin dorongan ini, apalagi Macron sebelumnya sudah menyatakan siap mengakui negara Palestina. Keputusan Inggris, Kanada, Australia, dan Portugal yang sehari sebelumnya resmi mengakui Palestina juga menambah momentum. Senin ini, Prancis bersama lima negara lain diperkirakan menyusul.
Meski begitu, ada yang memberi syarat, misalnya pengakuan baru akan berlaku penuh jika Otoritas Palestina serius menjalankan reformasi. Israel menolak keras, menyebut Presiden Palestina Mahmoud Abbas yang sudah berusia 89 tahun tidak bisa dipercaya dalam hal komitmen reformasi.
Abbas dan para pejabat Palestina tidak bisa hadir langsung karena AS menolak memberi visa. Mereka hanya akan tampil lewat video, begitu juga Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman.
“Dunia sudah terang-terangan bilang harus ada negara Palestina dan sekarang waktunya diwujudkan. Tinggal ditunggu langkah konkretnya,” ujar Menteri Luar Negeri Palestina Varsen Aghabekian Shahin, Minggu lalu.
(lam)