Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 16 Juli 2026
home masjid detail berita

Hasan al-Banna: Dari Zawiyah Kecil ke Fiqh Prioritas Dunia Islam

miftah yusufpati Ahad, 28 September 2025 - 04:15 WIB
Hasan al-Banna: Dari Zawiyah Kecil ke Fiqh Prioritas Dunia Islam
Di masjid kecil Ismailiyah, Hasan al-Banna menolak perdebatan remeh dan menanamkan skala prioritas: persatuan umat, politik sebagai ibadah, serta Islam sebagai jalan hidup menyeluruh. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Malam-malam di Ismailiyah, Mesir, 1928, menjadi saksi lahirnya sebuah gerakan yang kelak mengguncang dunia Islam: Ikhwanul Muslimin. Dari sebuah sudut masjid kecil, Hasan al-Banna—guru muda berusia 22 tahun—menyampaikan pelajaran agama selepas Magrib. Bukan mimbar megah atau forum akademik, melainkan ruang sederhana yang menjadi titik awal revolusi sosial-keagamaan.

Al-Banna resah dengan fenomena zamannya: umat tercerabut dari nilai Islam akibat kolonialisme, sekularisme, dan arus modernisasi yang menyingkirkan agama ke ruang privat. “Mereka menginginkan aqidah tanpa syari‘ah, agama tanpa negara, kebenaran tanpa kekuatan,” tulisnya dalam catatan harian, sebagaimana dikutip Richard P. Mitchell dalam The Society of the Muslim Brothers (Oxford University Press, 1969).

Namun al-Banna menolak dikotomi itu. Baginya, Islam adalah “aqidah dan syari‘ah, agama dan negara, perdamaian sekaligus perjuangan.” Dari sini lahirlah fiqh prioritas versi al-Banna: mengembalikan Islam sebagai sistem hidup yang menyeluruh.

Menghindari Perdebatan Khilafiyah

Di sebuah pengajian, seseorang bertanya tentang tawassul. Al-Banna menjawab dengan cerdas: persoalan itu hanya akan menyeret pada pertengkaran. “Kamu telah bergelimang fitnah selama delapan puluh tahun, itu sudah cukup,” katanya, sebagaimana dicatat dalam Memoirs of Hasan al-Banna Shaheed (Cairo: Dar al-Tiba‘ah, 1978).

Bagi al-Banna, prioritas bukanlah memperpanjang debat furu‘iyah, melainkan menanamkan akhlak, membangun ukhuwah, dan menyiapkan generasi muda yang militan namun beradab. Syaikh Yusuf al-Qaradawi dalam Fiqh al-Awlawiyyat (Dar al-Shuruq, 1995) menilai pendekatan ini sebagai prototipe fiqh prioritas: mendahulukan yang pokok daripada yang cabang.

Dalam pandangan al-Banna, politik bukan urusan duniawi semata, tapi bagian integral dari agama. “Kemerdekaan adalah salah satu kewajiban,” tegasnya. Pandangan ini menjembatani kritik bahwa Ikhwan hanyalah gerakan spiritual. Ellen Lust dalam The Middle East (SAGE, 2017) mencatat, Ikhwan sejak awal adalah proyek politik sekaligus sosial—membangun sekolah, klinik, dan jaringan dakwah akar rumput.

Konsep “Islam jalan hidup” (Islam as a way of life) yang dipopulerkan al-Banna menolak sekularisasi total. Di sinilah ia berbeda dengan tokoh Mesir sezamannya, seperti Taha Husayn yang menekankan modernisasi pendidikan berbasis Barat.

Menyatukan Umat, Melawan Fragmentasi

Al-Banna memahami benar bahwa kekuatan umat terletak pada persatuan. Karena itu, ia menolak membiarkan perdebatan kecil memecah belah barisan. Albert Hourani dalam Arabic Thought in the Liberal Age (Cambridge University Press, 1962) mencatat bahwa semangat al-Banna sejalan dengan arus Pan-Islamisme, namun lebih membumi: bukan hanya ide besar persatuan, tetapi latihan sehari-hari untuk merawat ukhuwah dalam pengajian-pengajian kecil.

Gerakan yang dirintis al-Banna memang menuai kontroversi. Ikhwan dibubarkan, ia sendiri tewas ditembak pada 1949. Namun gagasannya tentang fiqh prioritas tetap hidup: jangan terjebak dalam perdebatan cabang, tetapi fokus pada agenda besar—mendidik umat, memperjuangkan keadilan, dan menegakkan Islam sebagai sistem hidup.

Syaikh Yusuf al-Qaradawi kemudian memformulasikan semangat itu dalam kerangka teoretis. “Kita sering membesarkan yang kecil, mengecilkan yang besar,” tulisnya. Pesan ini menemukan gaungnya dalam konteks kekinian: ketika umat lebih sibuk memperdebatkan detail fiqh ketimbang menjawab krisis ekologi, ketimpangan ekonomi, atau otoritarianisme.

Pertanyaannya: bila Hasan al-Banna hidup di era media sosial hari ini—saat perdebatan khilafiyah kembali riuh dalam kolom komentar—akankah ia tetap menekankan pentingnya fiqh prioritas: mengutamakan persatuan, bukan perpecahan?

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 16 Juli 2026
Imsak
04:35
Shubuh
04:45
Dhuhur
12:02
Ashar
15:24
Maghrib
17:56
Isya
19:09
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan