LANGIT7.ID - , Jakarta - Krisis pangan berdampak pada 14 juta orang di Afghanistan yang tidak memiliki akses air bersih, makanan dan layanan kesehatan. Menyusul konflik dan krisis setelah pengambilalihan pemerintah oleh Taliban, Agustus lalu.
Kondisi tersebut diketahui perwakilan UNICEF Hervé Ludovic De Lys dan Country Director dan perwakilan WFP saat mengunjungi Kota Herat, Afghanistan. Dua perwakilan organisasi dunia tersebut menjelaskan kondisi seorang ibu yang tidak bisa menyusui bayinya yamng berusia 18 bulan. Bayi tersebut tengah dirawat di rumah sakit regional Herat karena kurang gizi.
“Kami tidak punya makanan di rumah. Kami menjual segalanya untuk membeli makanan, bahkan saya hampir tidak makan apa-apa. Saya lemas dan tidak punya susu untuk anak saya," kata Jahan Bibi kepada mereka.
Baca juga : Qatar Kecewa Taliban Atur Pendidikan Anak Perempuan AfghanistanDe Lys menjelaskan saat ini banyak keluarga di Afghanistan yang berjuang untuk mendapatkan makanan dan kesehatan gizi, karena kondisi perempuan dan anak-anak semakin buruk setiap harinya.
“Kondisi anak-anak semakin buruk sedangkan keluarga tidak bisa mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan. Wabah campak dan diare akan memperburuk keadaan," jelas De Lys.
Kunjungan De Lys dan McGroarty ke pusat distribusi makanan di Kota Herat, dimana mereka menjumpai keluarga Afghanistan yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup di tengah kekeringan dan tak ada pekerjaan.
Baca juga : Italia Serukan Bantuan ke Afghanistan Tanpa Melalui TalibanPerwakilan dua badan PBB ini sekaligus juga mengunjungi pemukiman pengungsi. UNICEF dan WFP juga melalui tim kesehatan dan nutrisi menyalurkan layanan keselamatan untuk perempuan dan anak-anak.
Setidaknya ada 168 tim kesehatan dan nutrisi dari dua badan dunia tersebut yang bergerak memberi bantuan bagi perempuan dan anak-anak di daerah yang sulit dijangkau.
Sumber: News UN
(est)