LANGIT7.ID-, - Presiden
Amerika Serikat Donald Trump tampak begitu gembira dengan adanya kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas. Bahkan Ia mengaku bangga dan mengumumkannya melalui akun Truth Social miliknya.
"Saya dengan sangat bangga mengumumkan bahwa
Israel dan
Hamas keduanya telah menandatangani fase pertama dari rencana perdamaian kami. Ini berarti semua sandera akan segera dibebaskan dan Israel akan menarik pasukannya ke garis yang disepakati," tulis Trump, dikutip Jumat (10/10/2025).
Trump juga menuliskan bahwa semua pihak akan diberlakukan adil. Menurutnya, kesepakatan ini adalah momen terbaik untuk negara Arab, semua muslim di dunia, Israel, seluruh negara di sekitarnya, dan juga Amerika Serikat.
"Kami berterimakasih kepada mediator dari Qatar, Mesir dan Turki yang telah bekerja sama dengan kami untuk mencatat sejarah atas sebuah peristiwa yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tuhan memberkati siapapun yang menciptakan kedamaian," sambung Trump.
Baca juga: Trump Minta Turki Bujuk Hamas Demi Akhiri Perang Gaza, Erdogan: Hamas Siap untuk DamaiPengumuman tersebut menyusul perundingan tidak langsung selama tiga hari antara Hamas dan Israel di kota resor Laut Merah, Sharm el-Sheikh, Mesir.
Para pejabat senior dari Qatar, Turki, Mesir, dan AS telah bergabung dengan delegasi dari Israel dan Hamas pada hari Rabu untuk perundingan tersebut. Sebagaimana melansir Al Jazeera.
Gencatan senjata belum berlaku, tetapi pengumuman kesepakatan tersebut memicu ucapan selamat dan harapan dari para pemimpin regional dan dunia.
Dalam tahap pertama rencana tersebut, Hamas dan faksi-faksi Palestina lainnya diwajibkan membebaskan 20 warga Israel yang ditahan di Gaza, yang diyakini masih hidup, dan jenazah 28 orang lainnya di wilayah Palestina.
Sementara Israel diwajibkan membebaskan lebih dari 1.000 tahanan Palestina yang ditahan di penjara-penjaranya, berdasarkan daftar yang dibagikan oleh Hamas. Ini termasuk ratusan orang dari Gaza yang telah ditangkap Israel sejak dimulainya perang pada Oktober 2023.
Israel dan Hamas kemudian mengonfirmasi perjanjian tersebut, meskipun masih terdapat perbedaan pendapat mengenai interpretasi mereka tentang bagaimana rencana Trump yang lebih luas akan dijalankan.
(lsi)