Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 20 Juli 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Panduan Al-Quran dalam Menyusun Kurikulum Pesantren

Muhajirin Rabu, 14 Juli 2021 - 10:00 WIB
Panduan Al-Quran dalam Menyusun Kurikulum Pesantren
Ustadz Adi Hidayat dalam wisuda santri Pondok Pesantren Al Amien Prenduan Sumenep (foto: al-amien.ac.id)
LANGIT7.ID - Dai kondang sekaligus pendiri Quantum Akhyar Institute Ustadz Adi Hidayat menjelaskan kiat-kiat dari Al-Qur’an dalam membuat kurikulum pesantren. Beliau menekankan bahwa pesantren merupakan tempat kaderisasi ulama, sehingga untuk membangun karakter rabbani wajib bersumber dari Al-Qur’an dan Sunnah.

Ulama dalam Al-Qur’an memiliki dua ciri utama. Dari dua ciri itu akan menghasilkan definisi ulama. Pertama, ulama disifati oleh Alquran sebagai hamba Allah yang istimewa, memiliki sifat khasyah lillah atau takut kepada Allah SWT. Sifat ini disebutkan dalam surah Al-Fatir ayat 28. Allah SWT berfirman:

“Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Pengampun.”

“Pesantren yang ingin menyediakan kader ulama, maka hal ini yang perlu dibagun dalam kurikulum,” kata Ustadz Adi Hidayat dalam webinar Pesantren Muhammadiyah sebagai Pusat Kaderisasi Ulama yang disiarkan akun Youtube tvMu Channel.

Beliau menegaskan, strategi pesantren dalam membentuk sifat khasyah lillah atau takut kepada Allah itu harus kembali kepada Al-Qur’an. Itu harus menjadi kurikulum, kemudian kurikulum itu memiliki turunan tata-cara membentuk santri agar memiliki sifat khasyah.

“Di dalam Al-Qur’an sifat khasyah ini selalu terkait erat dengan sifat takwa. Implementasi takwa itu adalah amal saleh. Kalau kita bikin persamaan, khasyah = takwa = amal saleh. Misalnya bagaimana orang tua diminta untuk mendidik anak memiliki sifat khasyah agar bertakwa supaya bisa beramal saleh, ini dijelaskan dalam Quran surah keempat ayat kesembilan,” papar Ustadz Adi Hidayat.

Jika ingin membentuk ulama berkarakter khasyah, pesantren harus mendidik santri untuk menguatkan amal saleh yang akan membentuk karakteristik mereka di kemudian hari. Untuk mewujudkan karakter itu dalam kurikulum, pendidik di pesantren pertama kali harus menelaah kata takwa dalam Al Quran. Kata takwa kurang lebih disebutkan 115 kali dalam kitab suci.

Beliau mencontohkan kata takwa pertama dalam Al-Qur’an yang terdapat dalam surah Al-Baqarah ayat kedua. Implementasi amal saleh ayat kedua itu ada pada ayat ketiga dan keempat. Kemudian hasil yang didapat disebutkan dalam ayat kelima.

“Apa kaitan dengan pengetahuan untuk menjadi seorang Ulama? Ternyata amalan saleh yang merupakan pokok takwa korelasinya dibangun dengan dasar keulamaan. Dasar ke-ulamaan itu langsung penegasan dari Allah dalam surah Al Baqarah di ayat 282,” kata beliau.

Dalam penutup ayat, Allah berfirman, “Dan bertakwalah kepada Allah, Allah memberikan pengajaran kepadamu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

“Tingkatkan takwamu kepada Allah, maka Allah akan berkenan mengajarkan kepadamu tambahan pengetahuan,” tutur beliau.

Dia menyebut ada korelasi yang sangat kuat antara peningkatan takwa dengan terbukanya sumber-sumber ilmu pengetahuan. Allah SWT adalah sumber segala ilmu. Allah yang yang memiliki semua ilmu, maka untuk mendapatkan ilmu tentu harus mendekat kepadaNya. Jika sudah mendekat kepadaNya, maka Dia langsung yang akan membukakan pintu-pintu ilmu.

“Allah langsung yang menyampaikan bahwa sepanjang kamu mampu meningkatkan takwa maka akan ditambahkan ilmu pengetahuan, sehingga dipercepat. Itu bisa menghasilkan manusia tipe pertama. Ini nyata sekali,” tutur beliau.

Dia menjelaskan, para ulama membagi manusia ke dalam lima tipe. Ada manusia yang cepat ingat dan sulit lupa, ada orang yang cepat ingat tapi cepat lupa, ada orang yang lambat ingat dan lambat lupa, dan ada orang yang lambat ingat namun cepat lupa.

“Takwa akan menghasilkan tipe manusia pertama, cepat ingat sulit lupa. Mau lupa itu susah kalau sudah bertakwa. Ini apa korelasinya dengan pesantren? Bentuk karakter anak untuk memperkuat amal saleh. Misalnya shalat dan infak yang disebutkan dalam surah Al-Baqarah. Contoh sederhana, bangun kebiasaan shalat berjamaah,” tegas Ustadz Adi Hidayat.

Ibadah sangat berpengaruh pada daya ingat anak. Dampak ibadah tidak hanya membentuk santri yang ber-amar ma'ruf nahi munkar, tapi juga mempercepat mereka mendapat pengetahuan.

Selain memperkuat amal saleh, hal utama yang harus menjadi kurikulum wajib adalah hafalan Al-Quran. Santri wajib hafal 30 juz. Ustadz Adi Hidayat mengaku pernah meneliti kaitan Alquran dengan daya peningkatan daya ingat dan ketajaman berfikir seseorang. Itu ia buktikan sendiri.

Ada pula yang meneliti bahwa kecerdasan penghafal Al-Qur’an akan meningkat tiga kali lipat dibandingkan dengan orang biasa. Sebab semua kosakata dalam Al-Qur’an terprogram untuk meningkatkan daya ingat manusia.

“Jadi, kurikulum itu sesuai dengan Alquran dan Sunnah. Bersamaan dengan menghafal Alquran terjadi lompatan pengetahuan dan ketajaman ingat yang luar biasa. Maka itu saya sarankan di setiap pesantren-pesantren, kalau ingin menjadi ulama itu mutlak wajib 30 juz. Hafalan Al-Qur'an itu memudahkan santri untuk mempelajari ilmu-ilmu lain. Al-Qur’an sumber utama,” kata beliau menjelaskan.

Kedua, santri harus dididik untuk memiliki syahadah ilmiah rabbaniyah atau persaksian Allah atas keilmuan yang Dia berikan kepada mereka. Ulama disifati oleh Al-Qur’an sebagai hamba yang istimewa dan memiliki pengetahuan yang dibenarkan oleh Allah. Sifat kedua ini dijelaskan dalam surah Ali-Imran ayat 18.

“Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa, Maha-bijaksana.”

Dalam ayat tersebut disebutkan bahwa Allah Maha Maha Mengetahui. Setelah itu para malaikat, lalu disusul ulul ilmi, orang yang diberikan pengetahuan. Ulul ilmi ini dijelaskan dalam surah Al-Mujadalah ayat 11.

“Ulul ilmi itu punya derajat tinggi, punya majelis majelis mengajar,” ucap Ustadz Adi Hidayat. Kaitan dalam pembuatan kurikulum, pesantren harus membuat klasifikasi kitab yang harus dipelajari oleh pesantren. Misalnya fikih merujuk ke kitab apa, akhlak mempelajari kitab siapa, begitu seterusnya.

“Poinnya kalau kita ingin mencetak kader ulama kita kembali kepada dua dasar di atas. Pertama, kita harus mendidik santri untuk mendekatkan diri kepada Allah, supaya terbangun kedekatan yang luar biasa untuk memberikan bimbingan dalam kehidupan. Kedua, bagaimana memetakan bidang keilmuan sehingga terukur mereka belajar dari awal sampai mereka lulus. Cara ulama terdahulu saat belajar itu mengerucut pada dua pokok itu,” pungkas Ustadz Adi Hidayat.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 20 Juli 2026
Imsak
04:35
Shubuh
04:45
Dhuhur
12:03
Ashar
15:24
Maghrib
17:57
Isya
19:09
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan