LANGIT7.ID–Jakarta; Di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi halal global, kosmetik halal tampil sebagai sektor yang paling cepat berkembang dan menjadi wajah baru peran perempuan Indonesia dalam ekonomi modern. Tak lagi sekadar pengguna, perempuan kini menjadi motor utama dalam menciptakan produk kecantikan halal yang berdaya saing tinggi dan sesuai prinsip syariah, didukung sertifikasi halal dari LPH LPPOM sebagai jaminan mutu.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia, Arifah Fauzi, menyebut semangat dan ketangguhan perempuan Indonesia menjadi faktor utama dalam mendorong sektor ini tumbuh pesat. “Perempuan, khususnya muslimah, memegang peranan penting dalam menjawab tantangan tersebut. Mereka tidak hanya berjuang untuk mencapai keberhasilan secara individu, tetapi juga turut mendorong kemajuan ekonomi nasional dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” ujar Arifah dalam seminar Indonesia Conference on Women and Sharia Community Empowerment (ICWSCE) X 7th Indonesia International Halal Lifestyle Conference (INHALIFE) di JIExpo, dikutip dalam keterangan resmi, Selasa (14/10/2025).
Menurut Arifah, kunci keberhasilan perempuan di industri halal terletak pada inovasi yang disertai tanggung jawab sosial dan lingkungan. Ia menegaskan bahwa setiap pelaku usaha perempuan perlu mendapat dukungan lintas sektor agar potensi ekonomi mereka dapat berkembang secara berkelanjutan.
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta, menambahkan bahwa kontribusi perempuan pada sektor UMKM menjadi kekuatan besar bagi ekonomi nasional. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UMKM 2024, sekitar 64,5% dari 65,5 juta UMKM di Indonesia dikelola oleh perempuan, dengan kontribusi 61,9% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). “Tiga sektor halal utama yang sangat potensial untuk dikuasai oleh pelaku perempuan adalah makanan dan minuman halal, fashion Muslim, dan kosmetik halal. Melalui inovasi dan kreativitas, perempuan Indonesia dapat mengambil peran strategis sebagai produsen, inovator, sekaligus pemimpin dalam ekonomi halal global,” ungkap Filianingsih.
Sementara itu, Halal Audit Quality Board of LPH LPPOM, Mulyorini Rahayuningsih Hilwan, menjelaskan bahwa sertifikasi halal membuka peluang besar bagi pelaku usaha, termasuk UMKM, untuk menembus pasar global. Ia menilai sektor kecantikan menjadi salah satu industri yang paling prospektif karena tingginya kesadaran konsumen terhadap bahan dan etika produksi. “Dalam hal ini, industri kecantikan menjadi salah satu sektor yang sangat potensial. Banyak konsumen, khususnya generasi muda, kini lebih peduli terhadap ingredient, proses produksi, dan etika bisnis di balik sebuah produk. Ketika sebuah brand mampu menunjukkan bahwa produknya halal secara menyeluruh, maka otomatis brand tersebut akan dipersepsikan sebagai brand yang bertanggung jawab, transparan, dan terpercaya,” jelas Mulyoriningsih.
Ia menegaskan bahwa UMKM di bidang kecantikan dapat membangun keunggulan dari awal melalui prinsip halal. Dengan menerapkan sistem ini, produk-produk kecil sekalipun mampu mendapatkan kepercayaan konsumen dan akses rantai pasok yang lebih luas. “Kami dari LPH LPPOM terus menguatkan ekosistem halal nasional agar UMKM mendapatkan akses, pendampingan, dan peluang seluas-luasnya. Karena kami percaya, dengan konsistensi dan komitmen, UMKM bisa menjadi garda depan industri halal Indonesia, bahkan di kancah global,” pungkasnya.
Peran penting perempuan juga diakui oleh Corporate Affairs Director Program Paragon, Astri Wahyuni. Ia menuturkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap produk halal semakin meningkat, dan bagi Paragon, konsep halal telah menjadi filosofi menyeluruh, bukan sekadar label sertifikasi. “Secara global, kami telah melakukan ekspansi ke beberapa negara seperti Malaysia dan Brunei. Bahkan, kami terus menjajaki pasar baru karena potensi ekspor produk halal dari Indonesia sangat besar. Kami percaya, ketika sebuah bisnis berkomitmen terhadap halal secara konsisten, maka menembus pasar global bukan sekadar mimpi, tetapi hal yang sangat mungkin terwujud,” terang Astri.
Astri menjelaskan bahwa Paragon menerapkan prinsip halal dari bahan baku hingga komunikasi brand, termasuk penggunaan kemasan ramah lingkungan dan etika pemasaran sesuai nilai Islam. Pendekatan menyeluruh ini membuat konsep halal bukan hanya menjadi strategi bisnis, melainkan investasi moral dan sosial bagi keberlanjutan perusahaan.
Sertifikasi halal kini bukan lagi sekadar formalitas administratif, melainkan bentuk investasi kepercayaan jangka panjang. Dengan meningkatnya kesadaran konsumen muslim terhadap kehalalan produk, label halal menjadi simbol integritas dan keandalan. Di sinilah peran perempuan Indonesia semakin menonjol — tidak hanya sebagai pelaku ekonomi, tetapi juga sebagai pembawa nilai-nilai etis dan spiritual yang memperkuat posisi Indonesia dalam ekonomi halal global.
(lam)