Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 09 Mei 2026
home masjid detail berita

Pemberontakan Cilegon: Bayang-Bayang Makkah di Cilegon

miftah yusufpati Jum'at, 24 Oktober 2025 - 16:30 WIB
Pemberontakan Cilegon: Bayang-Bayang Makkah di Cilegon
Snouck kemudian bersekutu dengan ulama Hadramaut di Batavia, Sayyid Utsman bin Yahya, untuk menulis pamflet melawan tarekat. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Cilegon, Juli 1888. Asap mengepul dari ladang-ladang tebu yang hangus. Di antara suara takbir yang bergema, ratusan orang bersenjatakan golok dan bambu runcing menyerbu benteng Belanda di Serang. Mereka menyebutnya jihad. Pemerintah kolonial menyebutnya kegilaan.

Peristiwa itu kemudian tercatat dalam arsip kolonial sebagai “pemberontakan Cilegon” — salah satu letupan paling menggelisahkan dalam sejarah kolonial di Jawa bagian barat. Tapi bagi para pejabat Belanda, ini bukan jihad besar seperti perang Diponegoro, melainkan sekadar “bencana kecil”, hasil dari “dzikr berlebihan” yang menjerumuskan santri ke dalam histeria kolektif.

Kecemasan lama Belanda terhadap Mekah mencapai puncaknya setelah peristiwa itu. Dalam laporan resmi, para residen menuding jalur haji sebagai saluran ide berbahaya — sebuah wabah spiritual yang lahir dari koloni “Jâwah” di Tanah Suci.

Residen Surakarta menulis dengan nada waspada: “Dzikir mengantar mereka pada keadaan mabuk... hingga secara sukarela membunuh dirinya sendiri.” Ia menggambarkan pesantren sebagai sarang bagi “pemuda miskin yang terikat dalam jaringan mistik, dari seluruh bagian Jawa”.

Dari sinilah muncul pandangan bahwa Mekah bukan sekadar tempat ibadah, melainkan pusat konspirasi Islam global. Para guru tarekat dianggap agen bawah tanah, para haji menjadi pembawa “benih-benih Arab” yang bisa tumbuh menjadi pemberontakan di Hindia.

Holle dan Bayang-Bayang Guru dari Banten

Seorang pejabat kolonial bernama K.F. Holle tampil sebagai mata tajam pemerintah di Priangan. Kepada Gubernur Jenderal, ia melaporkan seorang tokoh yang dicurigai menggerakkan keresahan di Banten: ‘Abd al-Karim, murid dari Chatib Sambas dan ulama yang telah menetap di Mekah lebih dari empat dekade.

“Dia tidak bermain dalam pertempuran,” tulis Holle, “tetapi pengaruhnya besar bahkan di kalangan moderat.”

Holle mengusulkan agar pemerintah mencari “orang yang tepat untuk mengawasi langkah ‘Abd al-Karim di Mekah.” Dari sinilah muncul gagasan penting dalam politik kolonial: mengawasi Islam dari jantungnya sendiri.

Dalam konteks inilah nama Christiaan Snouck Hurgronje muncul — orientalis muda Belanda yang baru kembali dari penelitian rahasia di Mekah.

Snouck menulis bahwa Mekah adalah “jantung kehidupan agama Kepulauan Hindia Timur”, dan bahwa “tak ada bendungan yang bisa menghentikan aliran darah segar” yang menghubungkan kedua wilayah itu.

Bagi Snouck, tugas pemerintah bukan lagi menutup arus haji, melainkan memahami dan menaklukkannya. Ia menegaskan perlunya Belanda mengetahui apa yang “diimpor dari Mekah setiap tahun” dan bagaimana menjadikannya “dukungan bagi pemerintah atau setidaknya tidak berbahaya.”

Michael Laffan, dalam The Makings of Indonesian Islam (Princeton University Press, 2011) mencatat bahwa bab terakhir dari karya besar Snouck, Mekka (1888), sejatinya adalah surat lamaran terselubung. Di situ, Snouck menyodorkan dirinya sebagai orang yang paling layak memahami dan mengatur Islam di Hindia.

Permintaan dari Menteri Koloni datang setahun kemudian. Pada 1 April 1889, Snouck berlayar dari Brindisi menuju Batavia — membawa misi yang kelak menjadikannya arsitek kebijakan Islam kolonial.

Proyek Menjinakkan Islam

Kedatangan Snouck menandai babak baru dalam strategi kolonial: mengubah Islam dari sumber perlawanan menjadi instrumen stabilitas.
Ia meneliti pesantren, mencatat kitab-kitabnya, dan membagi ulama menjadi dua: “yang mistik dan berbahaya” versus “yang rasional dan bisa diajak bicara.”

Snouck kemudian bersekutu dengan ulama Hadramaut di Batavia, Sayyid ‘Utsman bin Yahya, untuk menulis pamflet melawan tarekat. Islam pun dibingkai ulang sebagai agama moral, bukan politik; ibadah, bukan solidaritas.

Laffan menulis, persekutuan ini menciptakan bentuk awal “Islam jinak” di Nusantara — Islam yang patuh pada hukum dan pemerintah, namun tercerabut dari semangat sosialnya.

Lebih dari seabad kemudian, bayang-bayang Snouck masih terasa dalam relasi negara dan agama di Indonesia. Dari politik birokratisasi Islam hingga pengawasan atas gerakan keagamaan, semua berakar dari strategi yang lahir dari kecemasan kolonial abad ke-19: ketakutan terhadap Islam yang tak bisa dikendalikan.

Cilegon hanyalah awal — sebuah letupan kecil yang membuat kekuasaan Eropa menatap Mekah dengan curiga, dan Islam Nusantara dengan kacamata kuasa.

(mif)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 09 Mei 2026
Imsak
04:25
Shubuh
04:35
Dhuhur
11:53
Ashar
15:13
Maghrib
17:48
Isya
18:59
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)