LANGIT7.ID-Di awal abad ke-19, Universitas Leiden menjelma menjadi gudang pengetahuan kolonial. Di ruang-ruang arsipnya tersimpan ratusan manuskrip Islam dari Hindia Timur. Namun, sebagaimana dicatat Michael Laffan dalam
Sejarah Islam di Nusantara (2015), sejarah koleksi itu “ganjil, seperti sejarah usaha tropis Belanda secara umum.”
Pengetahuan, bagi Belanda, bukan hanya alat memahami Timur—melainkan juga senjata untuk menaklukkannya.
Setelah VOC bubar dan republik Belanda goyah di bawah bayang Napoleon, kekuasaan kolonial berpindah tangan. Di bawah Herman Willem Daendels (1808–1811), kekuasaan mulai disusun ulang. Jalan Raya Pos dibangun, sensus penduduk dilakukan, dan pendidikan Jawa dinilai “perlu diarahkan dengan cara yang lebih Eropa.”
Namun perang di Eropa dan perebutan kuasa di Asia mengacaukan ambisi itu. Inggris datang mengambil alih Jawa, membawa serta semangat baru—dan rezim pengetahuan yang berbeda.
Ketika Inggris menduduki Jawa pada 1811, Thomas Stamford Raffles tiba sebagai Letnan Gubernur. Ia datang bukan hanya dengan pasukan, tapi juga dengan penasaran seorang ilmuwan. Bersama Kolonel Colin Mackenzie, ia mengumpulkan naskah dari istana-istana Jawa, sering kali dengan cara yang oleh Laffan disebut sebagai penjarahan intelektual.
Raffles percaya pengetahuan adalah bentuk kekuasaan baru. Ia menulis
The History of Java, membentuk museum kecil, dan menghidupkan kembali
Bataviaasch Genootschap—masyarakat ilmiah bentukan Belanda. Namun, seperti ditulis Laffan, “semangatnya untuk memahami berkelindan dengan hasrat untuk menguasai.”
Sebagian besar koleksi Raffles akhirnya musnah dalam kebakaran kapal Fame pada 1824. Namun sisa-sisanya, bersama manuskrip Mackenzie dan naskah Islam dari Palembang, menjadi fondasi baru bagi kolonialisme berbasis arsip: pengetahuan sebagai legitimasi kekuasaan.
Marsden dan Pandangan dari BengkuluSebelum Raffles, seorang pegawai Inggris di Bengkulu, William Marsden, telah lebih dulu menulis
History of Sumatra (1783). Ia mengkritik Belanda yang “lebih menyukai keuntungan daripada pencarian ilmiah,” namun pandangannya sendiri tak luput dari bias kolonial.
Marsden menyebut Islam sebagai “pengaruh asing yang menghapus kebudayaan sejati Nusantara.” Ia memandang orang Melayu sebagai “muslim karena sunat dan huruf Arab,” dan menyesalkan bahwa orang Minangkabau “kehilangan karakter Sumatra sejati mereka.”
Laffan mencatat ironi itu dengan getir: “Inggris menganggap diri membawa pencerahan, tapi menolak mengakui bahwa Islam sudah lama menjadi sumber pencerahan bagi penduduk yang mereka jajah.”
Dalam rombongan Raffles ke Jawa, ikut pula John Leyden, orientalis muda asal Skotlandia yang menguasai banyak bahasa Timur. Ia mengagumi karya Melayu klasik
Sulalat al-Salatin (Sejarah Melayu), yang disebutnya “teks paling berharga dalam khazanah Melayu.”
Namun, sebelum sempat mendalami lebih jauh, Leyden meninggal dunia karena tifus di Batavia—setelah menghabiskan malam pertama di perpustakaan lokal.
Bagi Laffan, kematian Leyden menjadi simbol dari paradoks kolonial: pengetahuan dikejar dengan hasrat tinggi, tapi kehilangan arah ketika berhadapan dengan realitas sosial yang hidup. “Mereka ingin memahami Islam sebagai teks, bukan sebagai kehidupan,” tulisnya.
Rezim Baru Ilmu, Rezim Lama KekuasaanSetelah Raffles pergi dan Belanda kembali berkuasa pada 1818, Hindia menjadi laboratorium pengetahuan kolonial.
Koleksi naskah dipindahkan ke Leiden, ahli bahasa dididik untuk memahami Melayu dan Arab, dan penelitian tentang Islam diarahkan bukan untuk dialog, tetapi untuk pengawasan.
Di balik jargon “pengetahuan untuk kemajuan,” tersimpan logika penguasaan. Pengetahuan dijadikan fondasi moral kolonialisme baru: memahami agar bisa mengatur, mencatat agar bisa mengendalikan.
Laffan menulis, “Belanda mempelajari Islam bukan karena ingin mengerti, tapi karena ingin mengukur jarak antara diri mereka dan ‘yang lain’.”
Jadi, dari Daendels hingga Raffles, dari Marsden hingga Leyden, sejarah “rezim pengetahuan” di Hindia menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan tumbuh di bawah bayang-bayang kuasa. Universitas Leiden mungkin menyimpan ribuan manuskrip Islam, tapi manuskrip itu tak pernah dibaca dengan hati.
Seperti ditulis Laffan dalam epilog bukunya: “Mereka membangun kerajaan atas dasar arsip, tapi kehilangan kesempatan memahami ruh yang menggerakkan dunia yang mereka kuasai.”
Dan di antara lembar-lembar tua yang tersimpan di Leiden, sejarah Nusantara tetap berbicara—pelan, tapi tak pernah diam.
(mif)