LANGIT7.ID-Dalam buku
Man the Unknown, dokter bedah Prancis pemenang Nobel, Alexis Carrel, menulis dengan getir: manusia belum benar-benar mengenal dirinya. Ia menyebut manusia sebagai “makhluk yang paling misterius di muka bumi.” Ilmu pengetahuan, katanya, telah berhasil menguasai alam, tetapi gagal memahami hakikat manusia—makhluk yang justru menjadi subjek dari semua pengetahuan itu. Prof Dr M Quraish Shihab mengutip pernyataan Carrel ini dalam
Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat (Mizan). Bagi Quraish Shihab, kegagalan manusia modern memahami dirinya adalah konsekuensi dari cara pandang yang hanya berfokus pada materi. “Manusia, dalam unsur penciptaannya, terdapat ruh Ilahi. Dan manusia tidak diberi pengetahuan tentang ruh kecuali sedikit,” tulisnya, merujuk pada QS Al-Isra’ [17]: 85. Carrel menjelaskan tiga sebab mengapa manusia sulit dipahami: pertama, perhatian terhadap diri sendiri datang terlambat karena manusia sibuk menaklukkan alam; kedua, akal cenderung menyukai hal-hal sederhana dan tak sanggup menembus kompleksitas kehidupan; ketiga, karena manusia itu sendiri multikompleks—jasmani, akal, dan ruhani saling berjalin. Quraish Shihab kemudian menimpali dengan pendekatan teologis: pengetahuan tentang manusia tidak mungkin sempurna tanpa wahyu. “Satu-satunya jalan untuk mengenal dengan baik siapa manusia, adalah merujuk kepada wahyu Ilahi,” tulisnya. Dalam pandangannya, Al-Qur’an bukan sekadar kitab ibadah, melainkan juga cermin antropologis yang paling dalam.
Manusia: Antara Basyar dan Insan Al-Qur’an, menurut Quraish Shihab, menggunakan tiga istilah untuk menyebut manusia: basyar, insan, dan Bani Adam. Tiap istilah mengandung lapisan makna yang berbeda. Kata
basyar berasal dari akar kata
basharah—kulit atau penampakan luar. “Manusia dinamai
basyar karena kulitnya tampak jelas, berbeda dari binatang,” tulis Quraish Shihab. Istilah ini menegaskan dimensi biologis manusia. Ia digunakan dalam 36 ayat, termasuk ketika Nabi Muhammad SAW diminta menyatakan, “Aku hanyalah basyar seperti kamu, hanya saja aku menerima wahyu” (QS Al-Kahfi [18]: 110). Dalam konteks ini, basyar menggambarkan manusia yang telah matang dan bertanggung jawab, seperti disebut dalam QS Ar-Rum [30]: 20 tentang manusia yang “bertebaran di bumi”—sebuah simbol kedewasaan sosial dan biologis. Sementara kata insan berasal dari akar kata uns—jinak, harmonis, tampak. Manusia sebagai insan berarti makhluk yang ramah dan dapat hidup bersama, berlawanan dengan jin yang tersembunyi. “Kata ini menunjuk kepada manusia dengan seluruh totalitasnya, jiwa dan raga,” tulis Shihab, mengutip pemikir Mesir Bint al-Syathi’ dalam
Al-Qur’an wa Qadhaya al-Insan. Dengan demikian, Al-Qur’an menampilkan manusia dalam dua wajah: basyar, yang tampak dan biologis; dan insan, yang spiritual dan sosial.
Menemukan Diri Melalui Wahyu Bagi Quraish Shihab, manusia tidak cukup dipahami hanya lewat biologi, psikologi, atau filsafat. Pendekatan saintifik hanya menjelaskan sebagian—kulit dari makna manusia. “Kita hanya mampu mengetahui beberapa segi tertentu dari diri kita,” tulis Carrel. Al-Qur’an, sebaliknya, menuntun manusia untuk mengenal dirinya melalui keseimbangan antara jasmani dan ruhani. Dengan metode
tafsir maudhu’i (tematis), Quraish Shihab mengajak pembaca menelusuri seluruh ayat yang berbicara tentang manusia, lalu menempatkannya dalam konteks yang utuh. Metode ini, menurutnya, memungkinkan kita memahami manusia sebagai makhluk multidimensi: jasad dari tanah, akal dari ilmu, dan ruh dari Ilahi. Pemikiran Quraish Shihab mengingatkan pada pandangan filsuf Islam Al-Ghazali dalam *Ihya Ulumuddin*: “Siapa yang mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya.” Manusia, dengan segala kompleksitasnya, adalah cermin yang memantulkan cahaya Sang Pencipta. Akhir kata, dalam dunia yang kian sibuk meneliti otak tapi melupakan hati, tafsir Quraish Shihab menjadi pengingat lembut: memahami manusia tidak cukup dengan mikroskop, tapi dengan kesadaran spiritual. Seperti sabda Nabi, “Barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.”
(mif)