LANGIT7.ID, Jakarta - Tata cara
shalat dhuha sama dengan shalat fardhu. Tidak ada perbedaan dalam pelaksanaan ibadah tersebut kecuali pada bilangan rakaatnya, minimal dikerjakan 2 rakaat.
Waktu Shalat Dhuha untuk daerah Jabodetabek pada hari ini dimulai sekitar jam 6-an lewat. Manfaat merutinkan ibadah sunnah saat pagi hari sangat banyak sekali.
Ibadah sunnah saat pagi hari ini diyakini dapat menarik rezeki. Namun hakikatnya shalat merupakan bentuk ketakwaan hamba kepada Rab-nya.
Baca Juga: Keistimewaan Shalat Dhuha, Benarkah untuk Minta Rezeki?Shalat dhuha dikerjakan minimal 2 rakaat dan maksimal 12 rakaat dengan dua rakaat salam, dikerjakan berulang-ulang sampai enam kali. Berikut tata cara shalat dhuha.
1. Niat2. TakbirMengangkat Kedua Tangan Sejajar Telinga
Dari Malik bin al-huwairist: "Ketika bertakbir Rasulullah mengangkat kedua tanganya sejajar dengan kedua telinganya, ketika rukuk mengangkat kedua tanganya sejajar dengan kedua telingnya, dan ketika bangun dari rukuk beliau mengucapka 'Samiallahu liman hamidah' juga melakukan hal seperti itu. (HR. Muslim).
![Tata Cara Shalat Dhuha, Dilengkapi Bacaan dan Doa Minta Rezeki]()
Mengangkat Kedua Tangan Sejajar Pundak
Abdullah bin Umar Berkata: "Aku melihat Rasulullah ketika berdiri di dalam shalat mengangkat kedua tanganya sampai sejajar kedua pundaknya. Beliau melakukan itu ketika takbir untuk rukuk dan ketika bangun dari rukuk, dan beliau mengucapkan 'Samiallahu liman hamidah' dan tidak mengangkat kedua tanganya ketika akan sujud. (HR: Bukhari dan muslim)
3. Doa Iftitah"Allaahumma baa’id bainii wabainaa khotoo yaa ya kamaa baa ‘adta bainal masyriqi wal maghrib. Allaahumma naqqinii minal khotoo yaa kamaa yunqqots tsaubul abyadhuu minaddanas. Allaahummaghsil khotoo yaa ya bil maa i wats tsalji walbarod."Doa ini diajarkan Nabi kepada sahabat Abu Hurairah. Dia sempat bertanya, apa bacaan Rasul ketika diam di antara takbir dan membaca Al-Fatihah. Lalu Rasulullah pun mengajarkan doa iftitah tersebut. Hadist ini diriwayatkan Bukhari dan Muslim.
4. Membaca Ta'awudz dilanjutkan dengan Al-Fatihah5. Membaca Surah Al-Quran6. RukukBerdasarkan hadist yang diriwayatkan Abu Daud, ketika rukuk, Rasulullah meletakkan tangannya di lutut. Lalu dia merenggangkan jari-jemarinya. Kepalanya tidak terlalu menunduk atau tampak mengangkat.
"Subhaanaka allaahuma robbanaa wabihamdika allaahumaghfirlii."Bacaan shalat ini mengacu pada hadist Bukhari dan Muslim. Dari Aisyah: "Nabi shallallahu alaihi wa sallam memperbanyak membaca ketika ruku dan sujud bacaan,
'Subhanakallahumma robbanaa wa bihamdika, allahummaghfir-lii.
7. ItidalSaat itidal Rasulullah mengucapkan 'Samiallahu liman hamidah'. Salah satu doa itidal yakni:
"Rabbana wa laka al-hamdu Hamdan Katsīran Thayyiban Mubārakan Fīhi"Dalam sebuah hadist, Rifaah bin Rafi berkata: "Kami pernah shalat bersama Rasulullah, saat bangun dari rukuk ia membaca,
'Sami’allahu liman hamidah'. Tiba-tiba ada seorang sahabat yang membaca,
'Rabbana wa lalakal hamd hamdan katsiran tayyiban mubarakan fihi'. Setelah selesai shalat, Rasul bertanya, 'Siapa yang mengucapkan kalimat itu?' Sahabat itu berkata, 'Saya Rasulullah.' Kemudian Rasulullah berkata, 'Saya melihat sekitar tiga puluhan malaikat berloma-lomba untuk siapa pertama kali yang mencatat (pahalanya)," (HR Al-Bukhari).
8. SujudAda delapan bagian dari tubuh yang menyentuh tanah ketika bersujud, yaitu dahi, hidung, kedua tangan, kedua lutut dan kedua jari-jari kaki.
"Subhaanaka allaahuma robbanaa wabihamdika allaahumaghfirlii."Bacaan shalat ini mengacu pada hadist Bukhari dan Muslim. Dari Aisyah: "Nabi shallallahu alaihi wa sallam memperbanyak membaca ketika ruku dan sujud bacaan,
'Subhanakallahumma robbanaa wa bihamdika, allahummaghfir-lii.
9. Duduk di Antara 2 Sujud"Nabi Shallallahu alaihi wa sallam jika duduk dalam salat di dua rakaat pertama beliau duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanan. Jika beliau duduk di rakaat terakhir, beliau mengeluarkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya dan duduk di atas lantai." (HR Bukhari dan Muslim)
"Robbighfirlii warahmnii, wajburnii, warzuqnii, warfa'nii" atau
"Allaahummaghfirlii warhamnii wajburnii wahdinii warzuqnii."Untuk shalat dhuha yang dilaksanakan 2 rakaat, setelah duduk di antara dua sujud, Rasulullah kembali bersujud, lalu duduk sesaat, mirip seperti duduk di antara 2 sujud, kemudian bangkit untuk berdiri dengan bertumpu pada kedua tangannya.
Pada rakaat kedua, mengulang kembali seperti rakaat pertama. Namun takbir pada rakaat kedua tidak disertai dengan mengangkat tangan, melainkan langsung bersedekap. Kemudian setelah sujud terakhir, langsung masuk ke tahiyat akhir.
10. Tahiyat AkhirSaat tahiyat isyarat telunjuk diangkat dari sejak awal Tasyahud hingga akhir. (HR. Al-Baihaqi dengan sanad yang shahih)
"Attahiyyaatu lillaahi washsholawaatu waththoyyibaat. Assalaamu alaika ayyuhannabiyyu warohmatullaahi wabarokaatuh. Assalaamu alainaa wa ala ibaadillaahi shshoolihiin. Asyhadu anlaa ilaaha illallaah waasyhadu annamuhammadan abduhu warosuuluh."“Allahumma sholli ala Muhammad wa ala aali Muhammad kamaa shollaita ala Ibroohim wa ala aali Ibrohim, innaka hamidun majiid. Allahumma baarik ala Muhammad wa ala aali Muhammad kamaa baarokta ala Ibrohim wa ala aali Ibrohimm innaka hamidun majiid."Kedua bacaan ini tercantum dalam hadist yang diriwayatkan Buhkari dan Muslim.
"Nabi Shallallahu alaihi wa sallam jika duduk dalam salat di dua rakaat pertama beliau duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki kanan. Jika beliau duduk di rakaat terakhir, beliau mengeluarkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya dan duduk di atas lantai." (HR Bukhari dan Muslim).
Bacaan tahiyat akhir dan awal sama. Namun ada doa yang dianjurkan Rasulullah sebelum salam, yakni:
"Allaahumma innii auudzubika min adzaabi jahannam. Wamin ‘adzaabil qobri. Wamin fitnatil mahyaa walmamaati. Wamin syarri fitnatil masiihiddadjaal." (HR Muslim).
11. SalamKetika salam, ucapakan
"Assalamualaikum warohmatullah" lalu menengok ke arah kanan, diikuti ke arah kiri.
12. Doa Doa-doa setelah Shalat Dhuha yang umum diketahui masyarakat yakni
"Inna dhuha dhuha'uka, wal baha'u baha'uka, wal jamalu jamaluka, wal quwwatu quwwatuka, wal qudratu qudratuka, wal ushmatu ushmatuka.", bukan lah doa dari Nabi.
Doa ini dimunculkan pertama kali oleh ahli hukum (fuqaha) seperti oleh asy-Syarwani dalam Syarh Minhaj dan ad-Dimyati dalam I'anatut-Thalibin.
Melansir Muhammadiyah Online, dari hasil penelusuran kitab-kitab fikih dan kitab-kitab hadis, tidak ditemukan adanya lafal doa khusus setelah Shalat Dhuha. Jadi bisa disimpulkan, kita boleh berdoa apa saja tanpa harus terikat dengan lafal yang dianggap berasal dari Rasul.
(bal)