Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 07 Desember 2025
home masjid detail berita

CahayaDhuha: Menggali Akar Perilaku Anak yang Tidak Boleh Diabaikan Ayah Bunda

tim langit 7 Selasa, 02 Desember 2025 - 11:30 WIB
CahayaDhuha: Menggali Akar Perilaku Anak yang Tidak Boleh Diabaikan Ayah Bunda
LANGIT7.ID-Memastikan anak tumbuh menjadi individu yang bertanggung jawab dan berempati adalah impian setiap orang tua. Proses ini dimulai dari rumah, dari bagaimana Ayah dan Bunda menanggapi perilaku sehari-hari si Kecil. Ada beberapa perilaku yang, meskipun terlihat sepele, sesungguhnya adalah lampu kuning yang tak boleh diabaikan, melainkan harus ditangani dengan bijak dan konsisten. Mengabaikannya bukan hanya menunda masalah, tetapi juga berpotensi membentuk kebiasaan buruk yang sulit diubah di masa depan.

1. Manipulasi dan 'Pilih Kasih' Emosional
Anak-anak secara naluriah belajar bahwa perilaku tertentu menghasilkan respons tertentu. Salah satu perilaku yang harus diwaspadai adalah manipulasi atau upaya untuk 'memecah' persatuan orang tua. Misalnya, ketika anak dilarang oleh Bunda, ia langsung berlari ke Ayah sambil menangis keras, berharap Ayah akan mengabulkan permintaannya.

Pentingnya Konsistensi: Perilaku ini mengajarkan anak bahwa aturan bersifat fleksibel dan dapat dinegosiasikan dengan tekanan emosional. Ayah dan Bunda harus selalu tampil solid dan konsisten. Jika Bunda sudah berkata "tidak," Ayah wajib mendukung keputusan itu, meskipun Ayah menjelaskannya kembali dengan cara yang lebih lembut. Sampaikan pesan kunci: "Aturan di rumah ini adalah satu, dan kami berdua sepakat."

2. Berbohong atau Menyembunyikan Kesalahan
Berbohong pada anak kecil seringkali muncul dari rasa takut akan hukuman. Namun, jika tidak dikoreksi, kebiasaan ini dapat menjadi mekanisme pertahanan diri yang permanen. Berbohong, tidak peduli seberapa kecil, adalah pengikis kepercayaan.

Fokus pada Solusi, Bukan Hukuman: Daripada langsung menghukum, Ayah Bunda sebaiknya menciptakan lingkungan yang aman di mana anak merasa nyaman mengakui kesalahan. Berikan penekanan pada kejujuran. "Terima kasih sudah jujur mengakui kamu memecahkan vas itu. Kejujuran jauh lebih penting daripada vasnya. Mari kita bereskan bersama." Ini mengajarkan bahwa konsekuensi dari kejujuran lebih ringan daripada konsekuensi dari kebohongan.

3. Kurangnya Empati atau Melukai Orang Lain (Fisik/Verbal)
Menyakiti teman, saudara kandung, atau bahkan binatang peliharaan, baik secara fisik maupun verbal (seperti mengejek atau memanggil nama buruk), adalah perilaku serius yang memerlukan intervensi segera. Ini menunjukkan kurangnya kemampuan melihat dunia dari sudut pandang orang lain.

Ajarkan Perspektif: Setelah memisahkan anak dari situasi konflik, mintalah ia merenungkan. "Coba bayangkan, bagaimana perasaan Adik saat kamu mendorongnya hingga jatuh?" Gunakan bahasa yang sederhana untuk menjelaskan konsep empati. Modelkan empati dalam kehidupan sehari-hari; tunjukkan bagaimana kita peduli terhadap orang lain di sekitar kita. Penting untuk menjelaskan bahwa tubuh dan perasaan setiap orang harus dihormati.

4. Tidak Mau Menerima Kata 'Tidak'
Anak yang selalu merengek, melempar amarah, atau *tantrum* berlebihan setiap kali permintaannya ditolak (mendengar kata 'tidak') perlu dibantu untuk mengembangkan keterampilan menunda kepuasan (*delayed gratification*) dan toleransi terhadap frustrasi.

Batasan Jelas dan Pilihan: Tetapkan batasan dengan tenang dan tegas. Setelah berkata 'tidak' untuk hal yang tidak bisa dikompromikan, Ayah Bunda bisa memberikan anak pilihan lain yang berada dalam batas yang diizinkan. "Kita tidak bisa membeli mainan itu sekarang, tapi kamu boleh memilih, kita pulang sekarang atau kita main perosotan 5 menit lagi." Ini memberikan anak rasa kontrol dalam batasan yang sudah ditetapkan, mengajarkan bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan.

Peran Ayah dan Bunda adalah menjadi kompas, bukan sekadar penonton. Konsistensi, empati, dan komunikasi terbuka adalah kunci untuk mengubah perilaku 'lampu kuning' ini menjadi fondasi yang kuat bagi karakter si Kecil.(*/saf/komunitas QM)

(lam)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 07 Desember 2025
Imsak
03:58
Shubuh
04:08
Dhuhur
11:48
Ashar
15:13
Maghrib
18:01
Isya
19:17
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan