LANGIT7.ID-Pada tahun 2025, CEO Meta Mark Zuckerberg melakukan langkah berani dengan menunjuk Alexandr Wang, pendiri Scale AI yang berusia 28 tahun, untuk memimpin seluruh operasi kecerdasan buatan Meta. Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, Meta menginvestasikan sekitar 14,3 miliar dolar AS (sekitar Rp230 triliun) ke Scale AI, menjadikannya salah satu akuisisi terbesar dalam sejarah AI terkini.
Dari Dropout MIT hingga Pendiri Startup AIPerjalanan Alexandr Wang ibarat kisah sukses klasik Silicon Valley. Lahir di New Mexico dari orang tua fisikawan imigran Tionghoa, ia menunjukkan bakat awal dalam matematika dan ilmu komputer. Ia mendaftar di Massachusetts Institute of Technology (MIT), namun memutuskan keluar pada 2016 untuk mendirikan Scale AI. Langkah ini diambil karena ia yakin akan meningkatnya permintaan data anotasi berkualitas untuk melatih model pembelajaran mesin.
Scale AI dengan cepat menjadi penting bagi perusahaan teknologi besar karena menyuplai data berlabel kepada klien seperti NVIDIA, Amazon, dan bahkan Meta sendiri. Pada 2024, startup tersebut telah mencapai valuasi hampir 14 miliar dolar AS, menjadikan Wang salah satu miliarder muda mandiri di industri AI.
Memegang Kendali Lab Superinteligensi MetaDengan investasi besar Meta di Scale AI, Alexandr Wang tidak sekadar bergabung dengan perusahaan. Ia menjadi pemimpin di balik divisi baru yang dibentuk, yaitu Meta Superinteligence Labs (MSL). Di bawah payung ini, Alexandr Wang mengawasi seluruh penelitian, infrastruktur, dan pengembangan produk AI Meta.
Dalam memo yang beredar internal, Alexandr Wang menulis, "Superinteligensi akan datang, dan untuk menanggapinya secara serius, kita perlu mengorganisir diri di sekitar area kunci yang akan sangat penting untuk mencapainya melalui penelitian, produk, dan infrastruktur."
Dengan cepat, ia merestrukturisasi upaya AI luas Meta menjadi empat area fokus berbeda untuk mempercepat pengembangan sistem superinteligen yang serba guna.
Mengapa Langkah Ini Penting dan Apa yang Dipertaruhkan?Investasi Meta di Scale AI bukan sekadar akuisisi perusahaan lain. Nilai intinya terletak pada keahlian Scale dalam alur kerja anotasi data dan sistem pelatihan yang dapat diskalakan—blok bangunan penting untuk model AI generasi berikutnya. Dengan modal ini, Meta mendapatkan keunggulan besar saat bersaing dengan pemain AI terkemuka lain seperti OpenAI dan Google DeepMind.
Di saat bersamaan, pergeseran ini mencerminkan ambisi Meta untuk mencapai "superinteligensi," batas berikutnya dalam kecerdasan buatan. Dengan Wang memimpin dan didukung sumber daya perusahaan, Meta memasang taruhan besar. Namun hasilnya masih belum pasti: menyeimbangkan inovasi AI yang cepat dengan tanggung jawab etika, keselamatan, dan pengawasan regulasi akan menjadi tantangan yang signifikan.(*/saf/financialexpress)
(lam)