LANGIT7.ID-Di tengah kecenderungan publik melabeli seseorang sebagai saleh atau sesat, Syaikh Yusuf Al-Qardhawi mengingatkan bahwa manusia tak pernah hidup di kutub ekstrem. Dalam Fatawa Qardhawi, ia menempatkan kondisi keimanan sebagai proses bertahap yang penuh keretakan kecil, sebuah gagasan yang diamini banyak ulama dan pemikir Islam sejak abad-abad awal.
Pandangan itu berangkat dari pengakuan paling manusiawi: tiada Mukmin yang sempurna. Kesalahan bukan anomali, melainkan bagian dari struktur batin manusia. Dunia tidak hanya berwarna putih dan hitam, tulis Qardhawi, tetapi dipenuhi rentang abu-abu yang jarang dilihat orang. Cara pandang biner ini—yang juga menjadi masalah modern—membuat masyarakat mudah menjatuhkan vonis, seakan iman adalah produk final, bukan perjalanan panjang.
Dalam sejumlah riwayat yang ia kutip, Abu Dzar al-Ghifari—sahabat Nabi yang dikenal keras memerangi ketidakadilan—pernah mendapat teguran: masih ada sisa jahiliyah dalam dirinya. Dalam Shahih Bukhari, Nabi menyebut orang yang tidak pernah tergerak untuk berjihad, bahkan hanya di batinnya, memiliki “sedikit nifak”. Penggambaran itu terasa kasar bagi standar modern, tetapi pesan dasarnya jelas: iman bukan status statis, melainkan naik turun sepanjang hidup.
Tradisi klasik sebenarnya kaya dengan metafora ini. Dalam penuturan Abdullah bin al-Mubarak dari Ali bin Abi Thalib, hati Mukmin digambarkan sebagai ruang yang perlahan memutih seiring bertambahnya iman; sebaliknya, kemunafikan menghitamkan hati sedikit demi sedikit. Iman dan nifak bukan tombol on-off, tapi warna yang menebal atau memudar.
Literatur modern turut menguatkan pendekatan spektrum ini. Fazlur Rahman, dalam
Major Themes of the Qur’an, menyebut iman sebagai dinamika moral yang berkelanjutan, bukan formulasi legalistik. Sementara Abdul Kabir al-Baghdadi dalam Etika dalam Islam menegaskan bahwa manusia selalu bernegosiasi dengan kelemahannya, dan syariat bekerja sebagai kompas, bukan palu.
Fenomena hitam-putih ini justru semakin kentara hari ini. Di ruang digital, satu kesalahan dapat membatalkan seratus kebaikan di mata publik. Kebiasaan mengukur orang dari satu potongan tingkah laku membuat ajaran klasik tentang proses spiritual terpinggirkan. Padahal, seperti dicatat Khaled Abou El Fadl dalam Speaking in God's Name, tradisi Islam selalu memberi ruang bagi jatuh bangun manusia tanpa mencabut keimanannya.
Qardhawi seolah menegur budaya penghakiman itu: manusia tidak berubah secara mendadak menjadi suci maupun munafik. Perjalanan rohani adalah akumulasi kadar putih dan hitam yang terus bergerak. Yang penting bukan sempurna, tetapi bergerak ke arah pembersihan batin.
Di balik narasi ini, ada pesan sunyi yang terasa relevan: iman tidak diukur dari tiadanya dosa, tetapi dari arah yang dituju seseorang. Dunia boleh sibuk mencari hitam dan putih, tetapi manusia selalu hidup di wilayah abu-abu—tempat pertumbuhannya justru berlangsung.
(mif)