LANGIT7.ID-Jakarta; Indonesia kini menargetkan posisi sebagai pusat rujukan studi Islam global, menyaingi dominasi Timur Tengah. Target ambisius ini dinilai realistis setelah struktur kelembagaan pesantren resmi dinaikkan statusnya menjadi Direktorat Jenderal (Dirjen).
Langkah ini dianggap sebagai mesin penggerak utama untuk mengekspor nilai-nilai Islam moderat ke panggung internasional.
Ketua MUI Bidang Informasi, Komunikasi, dan Digital (Infokomdigi), KH Masduki Baidlowi, menegaskan bahwa perubahan status kelembagaan ini merupakan momentum teknis yang krusial. Regulasi yang sudah ada kini memiliki eksekutor yang kuat untuk menjalankan fungsi strategis negara.
“Yang pertama adalah lahirnya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren. Yang kedua adalah kebijakan Presiden yang menaikkan pesantren menjadi Dirjen. Ini ibarat mobil yang sekarang sudah punya roda,” ujar Kiai Masduki dilansir dari situs Muhammadiyah, dikutip Selasa (30/12/2025).
Tanpa adanya struktur Dirjen, regulasi hanyalah dokumen pasif yang sulit memberikan dampak nyata bagi pengembangan institusi santri.
“Undang-undang itu tanpa kaki dan tangan tidak ada artinya. Dengan adanya Dirjen, Pesantren sekarang punya kendaraan untuk berjalan,” tambahnya.
Ekspor Islam WasathiyahFokus utama dari penguatan ini adalah menjadikan pesantren sebagai agen diplomasi lunak Indonesia melalui promosi Islam moderat. Sistem pendidikan khas Nusantara ini terbukti ampuh menjaga stabilitas sosial di tengah keberagaman, sebuah nilai yang sangat dibutuhkan dunia saat ini.
“Mengapa Islam moderat berkembang baik di Indonesia? Salah satunya karena fungsi dakwah pesantren yang mewariskan Islam wasathiyah dari generasi ke generasi,” jelas Kiai Masduki.
Kekuatan demografi dan kelas menengah Muslim di Indonesia menjadi aset vital. Pesantren didorong untuk tidak lagi hanya bermain di kandang sendiri, melainkan aktif mengambil peran di kancah global.
“Indonesia ini negara dengan jumlah umat Islam terbesar dan kekuatan kelas menengah yang besar. Pesantren punya modal untuk memainkan peran global,” tegasnya.
Merebut Kembali Reputasi Ulama NusantaraSecara historis, ulama Indonesia sebenarnya memiliki rekam jejak kuat di dunia internasional. Reputasi ini yang hendak dibangkitkan kembali melalui dukungan negara.
“Kajian-kajian menunjukkan ulama Nusantara dulu punya peran internasional. Bahkan karya ulama lokal pernah menjadi rujukan di Al-Azhar,” kata Kiai Masduki.
Visi jangka panjangnya adalah membalikkan arus pencari ilmu. Indonesia harus menjadi destinasi, bukan sekadar pengirim pelajar.
“Kedepan, orang tidak hanya belajar Islam ke Al-Azhar atau ke Timur Tengah, tetapi juga datang ke Indonesia,” ucapnya.
Intervensi Negara dan Adaptasi AIUntuk mencapai visi tersebut, Kiai Masduki menekankan perlunya "desain negara". Pemerintah harus aktif memfasilitasi penerjemahan karya-karya pesantren ke bahasa asing agar bisa dikonsumsi masyarakat global.
“Ini harus by design. Negara harus mendesain agar karya-karya pesantren dikenal secara internasional dan diterjemahkan ke bahasa Arab serta bahasa asing lainnya,” paparnya.
Selain itu, modernisasi infrastruktur dakwah menjadi syarat mutlak. Pesantren wajib mengadopsi teknologi terkini untuk memperluas jangkauan pengaruhnya.
“Perubahan zaman harus diikuti. Ada AI, media sosial, dan teknologi digital. Ini semua harus dimanfaatkan pesantren untuk memperkuat jejaring internasional,” tuturnya.
Optimisme ini didasari pada potensi internal pesantren yang sudah mumpuni, yang kini didukung penuh oleh infrastruktur birokrasi yang tepat.
“Pesantren punya modal besar. Tinggal bagaimana potensi itu diaktifkan, dan Dirjen Pesantren ini adalah momentum yang sangat tepat,” pungkasnya.
(lam)