LANGIT7.ID-Jakarta; Kehadiran Danantara Indonesia di World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos dipandang sebagai strategi diplomasi ekonomi yang lebih agresif dan terfokus. Menurut Menteri Perdagangan periode 2011-2014, Gita Wirjawan, lembaga pengelola investasi itu bukan sekadar delegasi tambahan, melainkan "senjata strategis" utama untuk menarik modal dan kemitraan global.
"Dalam panggung seperti WEF, kita perlu menunjukkan alat dan kapasitas konkret, bukan hanya janji. Kehadiran Danantara mengirim pesan bahwa Indonesia memiliki mekanisme yang profesional dan berkelas dunia untuk mengelola kolaborasi modal," ujar Gita, Kamis (16/1).
Ia menggarisbawahi bahwa posisi Danantara sebagai alokator modal dapat menggeser pola dialog Indonesia di tingkat global—dari yang semula lebih banyak sebagai penerima investasi, menjadi mitra yang setara dalam distribusi dan pengelolaan dana skala besar.
"Negara-negara seperti Singapura telah lama menggunakan 'kuda troya' investasi seperti Temasek untuk membangun pengaruh ekonomi global. Sekarang, Indonesia memiliki instrumen serupa dengan mandat yang jelas. Ini momentum untuk menunjukkan bahwa kita tak hanya pasar, tetapi juga pemain dengan koneksi dan kapasitas pengelolaan yang sophisticated," jelas Chairman Ancora Group tersebut.
Menurut Gita, Danantara dapat menjadi jembatan utama untuk menjawab dua tantangan persepsi global tentang Indonesia: kerumitan regulasi dan ketidakpastian risiko. Dengan portofolio dan tata kelolanya, lembaga ini dapat "menerjemahkan" peluang Indonesia menjadi produk investasi yang lebih terstruktur dan mudah diakses komunitas keuangan internasional.
"Di Davos, mereka bisa berdialog langsung dengan sovereign wealth fund global, CEO korporasi multinasional, dan pemodal institusional. Ini jaringan yang sangat bernilai untuk menarik bukan hanya uang, tetapi juga teknologi, inovasi, dan akses pasar," tambahnya.
Sepakat dengan pandangan tersebut, Managing Director Global Relations and Governance Danantara Indonesia, Mohamad Al-Arief, mengonfirmasi bahwa WEF 2026 akan menjadi debut strategis lembaganya di panggung ekonomi paling elite dunia.
"Partisipasi kami bukan sekadar formalitas. Kami membawa proposal kemitraan konkret di sektor-sektor yang menjadi prioritas nasional dan global, seperti transisi energi, ketahanan pangan, dan industri bernilai tambah. Ini adalah bentuk engagement terstruktur untuk menjadikan Indonesia hub kolaborasi modal, bukan hanya destinasi investasi pasif," jelas Al-Arief.
Dengan menggandeng Joko Widodo, Prabowo Subianto, serta sejumlah menteri ekonomi, kehadiran Danantara diharapkan dapat menciptakan sinergi antara narasi politik-ekonomi makro dengan penawaran kerja sama yang teknis dan terukur.
WEF 2026, yang dihadiri sekitar 3.000 pemimpin global dari 130 negara, diprediksi menjadi ajang penting bagi Indonesia untuk tidak sekadar "tampil", tetapi juga "mengatur nada" dalam percakapan global tentang masa depan ekonomi, iklim, dan ketahanan. Danantara, dalam hal ini, diharapkan menjadi wajah baru dari kapasitas Indonesia yang lebih matang dalam berhubungan dengan arus modal dunia.
Sudut Pandang Utama:
· Strategi Diplomasi Ekonomi Aktif: Indonesia tak lagi hanya mempromosikan diri sebagai tujuan investasi, tetapi sebagai mitra pengelola modal yang setara.
· Alat untuk Mengubah Persepsi Global: Danantara berperan sebagai "penerjemah" yang mengubah kompleksitas dan risiko Indonesia menjadi peluang investasi terstruktur.
· Belajar dari Model Sukses Global: Posisi Danantara disandingkan dengan keberhasilan GIC dan Temasek (Singapura) sebagai instrumen pengaruh ekonomi.
· Dari Panggung Politik ke Proposal Nyata: Kehadiran Prabowo dan menteri ekonomi diperkuat dengan penawaran kerja sama spesifik dari Danantara.
· Debut Strategis di Panggung Elite: WEF 2026 menjadi ajang perkenalan resmi Danantara kepada ekosistem keuangan global paling berpengaruh.(*/saf/ant)
(lam)