LANGIT7.ID - Korea kini jadi sorotan dunia. Hal itu lantaran keberhasilannya dalam mengekspor budaya pop yang dikembangkan di negeri mereka ke seluruh penjuru dunia. Generasi muda di banyak negara kini menggandrungi budaya pop hingga makanan dari Korea.
Tapi tahukah anda? ternyata Islam juga mulai berkembang di negeri yang jadi salah satu kiblat budaya pop dunia itu.
Imam dari Korean Muslim Federation (KMF), Abdul Rahman Lee Juwa, menyebut, hubungan antara dunia Islam dan Korea dapat ditelusuri kembali pada abad ke-9 atau era sebelumnya. Namun, kini Islam di Korea sudah bisa ditemukan di berbagai tempat.
“Pada 1980-an dan 1990-an, agama Islam hanya benar-benar dapat ditemukan di Korea di lingkungan Itaewon di Seoul. Namun, sekarang kami dapat menemukan fitur dan layanan Islami di bandara, terminal, dan tempat istirahat,” kata Imam A. Rahman Lee Ju Hwa, dikutip laman korea.net, Senin (11/10/2021).
Baca Juga: Dr Atsushi Okuda, Ilmuwan Politik yang Skeptis pada Agama Kini Jadi Pendakwah
Mengutip laman Mvslim.com, kontak pertama Korea dengan muslim terjadi pada abad ke-7, ketika para pedagang dari Arab dan Persia datang ke Dinasti Silla (salah satu dari tiga bekas Kerajaan Korea) melalui Dinasti Tang di Tiongkok (617-907).
Ketika tiga Kerajaan Korea, Silla, Hubaekje, dan Hugoryeo bersatu dan Raja Taejo Wang mendirikan dinasti Goryeo, kehadiran muslim semakin meningkat. Pada abad ke-11, pedagang Arab beberapa kali berlayar ke pelabuhan Korea untuk berdagang bahan-bahan langka yang dibutuhkan sebagai resep pengobatan Tiongkok.
Saat Dinasti Yuan Mongol (1279-1368) mengambil alih Tiongkok, hubungan melalui darat dengan Eurasia semakin terbuka lebar. Ini mengakibatkan umat islam mulai melakukan perjalanan melalui darat daripada laut. Saat itu banyak pejabat muslim dari Mongol yang dikirim ke Korea untuk memastikan apakah instruksi yang diberikan kepada Dinasti Goryeo dipatuhi. Itu menyebabkan banyak pedagang muslim pindah dan membuka toko di Korea.
Kemudian saat Dinasti Joseon (1392-1910) diperintah oleh Sejong, muslim Korea dilarang melakukan ritual Islam dan mengenakan pakaian tradisional. Dinasti Joseon hanya mempertahankan hubungan dengan Tiongkok dan Jepang, yang membuatnya terisolasi dari seluruh dunia. pada 1427, hubungan Korea dengan dunia muslim terhenti.
Islam Kembali DiperkenalkanPada awal 1950, Korea Utara memantik perang saudara selama tiga tahun. PBB mengirim dukungan melalui pasukan Turki yang tiba di Korea Selatan. Namun, prioritas pertama tentara Turki bukan mengenalkan orang Korea pada Islam, tapi tak disangka komunitas muslim kemudian terbentuk.
Masyarakat muslim berkembang sebanyak 200 anggota pada tahun pertama. pada 1960-an, keanggotaannya mencakup 3.000 muslim Korea. Pada 1967, Korean Muslim Federation (KMF) didirikan dan masjid pusat Korea dibuka di Itaewon, Seoul pada 1967. Setahun pembukaan, terdapat 15.000 penganut Islam di Korea, lalu melonjak 35.000.
Kondisi tersebut membuat pendirian beberapa masjid dilakukan. Korea memiliki lima masjid pada 1990. Saat ini, ada sekitar 150.000 muslim di Korea, 50.000 di antaranya merupakan penduduk asli. Selebihnya merupakan imigran, pelajar, pengusaha dari Pakistan, Bangladesh, dan Indonesia.
Komunitas Muslim Korea ModernTerdapat banyak restoran dan toko bahan makanan halal di Korea saat ini. Area paling populer bagi orang asing muslim di Seoul adalah Itaewon. Tak hanya kuliner, terdapat pula lembaga pendidikan Islam seperti Sekolah Dasar Pangeran Sultan Bin Abdul Aziz yang dibuka pada 2009.
Sekolah itu menawarkan pendidikan Islami terbaik. Sekolah itu terbuka untuk muslim Korea, muslim asing, dan anak-anak Korea non muslim sebagai sarana pendidikan dan merupakan bagian dari primadona negeri ginseng tersebut.
Baca Juga: BTS Army Kompak Bantu Palestina, Kumpulkan Donasi Sejak Mei
Islam Masih Sering DisalahpahamiKendati mengalami perkembangan, Islam dan Muslim di Korea kerap mendapatkan stigma negatif sebab pemahaman masyarakat yang masih salah tentang Islam.
Seorang wanita mualaf asal Korea Selatan, Song Bo-Ra (30-an), menceritakan kisah perjalanannya semenjak masuk Islam. dia telah melalui berbagai pandangan dari orang-orang yang tak menyukai Islam.
“Banyak orang Korea memiliki kesalahpahaman besar tentang Islam. Mereka bertanya mengapa saya memakai jilbab. Mereka mengira hijab digunakan untuk mengontrol perempuan dan kebebasan mereka, dan kami dipaksa untuk memakainya,” kata mantan guru Islam yang kini bekerja di Korea-Islam Business & Cultural Centre, dilansir laman Straits times, Senin (11/10/2021).
Song Bo-ra pernah bersembunyi di toilet umum stasiun kereta bawah tanah. Ia berusaha mencari perlindungan dari tatapan orang-orang saat dia pertama kami memakai jilbab. “Semua orang menatap saya, membuat saya merasa sangat sangat malu, jadi saya pergi bersembunyi dan menunggu kerumunan bubar,” katanya.
Pengalaman tak mengenakkan itu membuat dia tiba-tiba merasa asing di kota asalnya, Kota Pelabuhan Busan. Namun pelan-pelan Song Bo-Ra mulai terbiasa dan mendapatkan dukungan serta penguatan dari saudara seimannya.
(jqf)