LANGIT7.ID-Ketika ufuk barat mulai memerah, perdebatan klasik mengenai siapa yang paling berhak mengabarkan datangnya sabit muda kembali menghangat. Di dalam khazanah fiqih Islam, penentuan awal Ramadhan bukan sekadar urusan menatap langit, melainkan sebuah proses verifikasi hukum yang melibatkan logika probabilitas dan integritas personal. Salah satu pemikiran yang paling dinamis dalam urusan ini datang dari para pengikut Madzhab Hanafi.
Dalam kitab
Meraih Puasa Sempurna, sebuah karya ilmiah yang diterjemahkan dari naskah Ash Shiyaam, Ahkaam wa Aa daab, Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad ath Thayyar membedah bagaimana para pengikut Imam Abu Hanifah memetakan standar kesaksian berdasarkan kondisi atmosfer. Pandangan ini menawarkan perspektif unik yang membedakan antara kondisi langit yang benderang dan langit yang tertutup jelaga.
Bagi kalangan Hanafi, langit adalah variabel penentu. Jika langit berada dalam keadaan cerah tanpa penghalang, mereka menetapkan standar yang sangat tinggi: hilal harus dilihat oleh sekumpulan orang yang banyak. Logika hukumnya bersifat sosiologis; jika langit bersih dan hilal memang muncul, seharusnya garis perak itu nampak oleh mata banyak orang yang memiliki pandangan sehat dan keinginan kuat untuk mencarinya.
Dalam kondisi cerah ini, kesaksian satu atau dua orang saja dianggap tidak mencukupi. Para ulama Hanafi khawatir akan adanya kekeliruan optik atau imajinasi jika hanya satu orang yang mengaku melihat sementara ribuan orang lainnya di tempat yang sama tidak melihat apapun. Maka, konsensus massa menjadi tameng untuk menghindari kesalahan kolektif dalam memulai ibadah.
Namun, hukum Islam selalu menyediakan ruang bagi kedaruratan. Ketika langit tidak cerah akibat awan, debu, atau polusi, Madzhab Hanafi melonggarkan syarat tersebut. Dr. Ath Thayyar menjelaskan bahwa dalam kondisi berawan, ru’yatul hilal cukup ditetapkan melalui kesaksian satu orang muslim yang adil, berakal, dan baligh. Hal ini dikategorikan sebagai riwayat pengabaran (ikhbar) dalam urusan agama, yang mana integritas seorang individu yang kredibel dapat diterima sebagai dasar hukum.
Landasan dari kepercayaan pada satu saksi adil ini sering kali merujuk pada hadits riwayat Ibnu Umar radhiyallahu anhuma:
أخبرت النبي صلى الله عليه وسلم أني رأيته فصام وأمر الناس بصيامهAku mengabarkan kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa aku melihat hilal, maka beliau berpuasa dan memerintahkan orang-orang untuk berpuasa. (HR. Abu Dawud).
Interpretasi Hanafi atas hadits ini ditempatkan pada konteks hambatan cuaca. Di sinilah letak keseimbangannya: ketat saat sarana tersedia, dan fleksibel saat alam memberikan rintangan. Bagi mereka, kejujuran seorang muslim yang adil adalah kompas ketika mata tak lagi mampu menembus pekatnya mendung.
Ulasan Dr. Ath Thayyar yang diterbitkan Pustaka Ibnu Katsir ini mengingatkan kita bahwa penentuan awal bulan dalam Islam adalah perpaduan antara sains observasi dan kepercayaan hukum. Madzhab Hanafi mengajarkan bahwa kebenaran dalam ibadah bisa dicapai melalui kesepakatan publik yang luas, namun tetap menghargai kesaksian individu yang jujur ketika situasi menjadi sulit. Sebuah metode yang tidak hanya menjaga akurasi ibadah, tapi juga menjaga akal sehat kolektif umat.
(mif)