Oleh: Anwar Abbas
LANGIT7.ID-Jika Israel, dengan dukungan penuh dari Amerika Serikat, melancarkan serangan terhadap Iran, maka peta geopolitik global menuntut keseimbangan baru. Momentum ini semestinya menjadi titik balik bagi kekuatan Timur, khususnya China dan Rusia, untuk turut campur tangan membantu Iran. Keterlibatan ini bukan sekadar unjuk kekuatan, melainkan langkah krusial untuk mencegah dominasi tunggal AS yang selama ini leluasa menekan negara-negara berdaulat yang menolak tunduk pada hegemoninya.
Sudah saatnya Beijing dan Moskow tampil terang-terangan di panggung global. Sikap diam hanya akan memberikan ruang lingkup yang lebih luas bagi Washington untuk terus menzhalimi negara lain. Dengan menggerakkan armada militer mendekati kawasan strategis seperti Teluk, China dan Rusia dapat menciptakan efek gentar (deterrence) yang signifikan. Manuver strategis semacam ini akan memaksa Amerika Serikat berpikir puluhan kali lipat sebelum memutuskan untuk menginvasi Iran secara langsung.
Sejarah telah berulang kali membuktikan bahwa superioritas militer dan persenjataan canggih bukan jaminan mutlak untuk memenangkan peperangan, terutama jika invasi tersebut berlarut-larut. Keterlibatan AS secara langsung dalam konflik bersenjata jangka panjang di wilayah asing sering kali berujung pada kegagalan strategis.
Tragedi militer di Vietnam dan Afghanistan adalah preseden nyata. Pasukan AS terpaksa mundur di Vietnam setelah kewalahan menghadapi taktik gerilya pasukan Viet Cong. Begitu pula di Afghanistan, di mana seluruh persenjataan modern Washington ternyata tidak mampu mematahkan keteguhan semangat juang Taliban, yang pada akhirnya memaksa AS angkat kaki dari negeri para mujahidin tersebut.
Belajar dari rentetan kegagalan historis tersebut, AS sewajarnya menyadari bahwa terseret terlalu dalam ke wilayah Iran adalah sebuah blunder besar. Menghadapi barisan pertahanan negara Ayatullah, yang didukung oleh semangat pantang mundur para mullah, tentu jauh lebih kompleks dan mematikan daripada sekadar kalkulasi militer di atas kertas.
Dalam eskalasi modern ini, keseimbangan ancaman (balance of threat) menjadi instrumen penting. Menghadapkan moncong rudal balistik strategis ke pusat kekuasaan di Washington DC dan Tel Aviv menjadi langkah penyeimbang bagi Iran. Tujuannya jelas: meruntuhkan arogansi kepemimpinan yang disimbolkan oleh figur-figur seperti Donald Trump dan Benjamin Netanyahu. Dengan adanya ancaman balasan yang nyata dan setimpal, AS dan Israel tidak akan lagi berani bertindak sewenang-wenang dalam mengintervensi atau menghancurkan kedaulatan negara yang tidak sejalan dengan mereka.
Keselarasan langkah antara Iran, China, dan Rusia sangat krusial di era transisi geopolitik saat ini. Pada akhirnya, tatanan dunia yang stabil adalah dambaan seluruh umat manusia—sebuah tatanan yang diyakini akan jauh lebih damai dan harmonis tanpa bayang-bayang intervensi militeristik dari sosok seperti Donald Trump dan Netanyahu. (Pengamat Sosial Ekonomi dan Keagamaan)
