LANGIT7.ID-, Teheran - Iran telah menunjuk
Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi barunya, dalam waktu satu pekan setelah ayahnya,
Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat-Israel, Sabtu (28/2) lalu.
Pria berusia 56 tahun itu kini akan bertanggung jawab memimpin Republik Islam melewati krisis terbesar dalam sejarahnya selama 47 tahun. Ia ditunjuk oleh para ulama sebagai pengganti ayahnya pada hari Minggu, 8 Maret 2026.
Nama Mojtaba Khamenei sejak awal disebut sebagai kandidat terkuat menduduki posisi tersebut, dibandingkan dengan empat kandidat lainnya yakni Hassan Rouhani, Hassan Khomeini, Ayatollah Mohammed Mehdi Mirbagheri, dan Ayatollah Ali Reza Arafi.
Baca juga: Ini 5 Kandidat Kuat Pemimpin Baru Iran , Salah Satunya Anak Ali KhameneiPara pemimpin kunci, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran yang berpengaruh, dan angkatan bersenjata dengan cepat menyatakan dukungan mereka kepada pemimpin baru tersebut.
Ali Larijani, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, yang telah ditugaskan untuk mengarahkan strategi keamanan
Iran sejak AS dan Israel melancarkan serangan besar-besaran mereka, menyerukan persatuan di sekitar pemimpin tertinggi yang baru.
Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf juga menyambut baik pilihan tersebut, mengatakan bahwa mengikuti pemimpin tertinggi yang baru adalah "kewajiban agama dan nasional".
Fakta menariknya, Mojtaba Khamenei sendiri diketahui tidak pernah mencalonkan diri untuk jabatan publik atau mengikuti pemilihan umum. Namun selama beberapa decade, ia telah menjadi tokoh yang sangat berpengaruh di lingkaran dalam pemimpin tertinggi, dan membina hubungan yang erat dengan IRGC.
Dalam beberapa tahun terakhir, Khamenei semakin disebut-sebut sebagai calon pengganti utama ayahnya. Pemilihannya bisa menjadi pertanda bahwa faksi-faksi garis keras dalam pemerintahan Iran mempertahankan kekuasaan, dan dapat mengindikasikan bahwa pemerintah tidak memiliki keinginan untuk menyetujui kesepakatan atau negosiasi dalam jangka pendek karena perang memasuki minggu kedua.
Ali Hashem dari Al Jazeera menggambarkan Khamenei sebagai "penjaga gerbang ayahnya".
"Ia mengadopsi posisi ayahnya terkait Amerika Serikat, terkait Israel. Jadi kita mengharapkan seorang pemimpin yang konfrontatif. Kita tidak mengharapkan moderasi apa pun," katanya, melansir Aljazeera, Senin (9/3/2026).
Baca juga: Presiden Iran Minta Maaf dan Janji Tak Serang Negara Tetangga, Namun dengan Syarat Tertentu"Namun, jika perang ini berakhir dan ia masih hidup, dan ia mampu terus memimpin negara, akan ada potensi besar… untuk menemukan jalur baru bagi Iran," kata Hashem.
Seorang peneliti kebijakan publik terkemuka di Universitas Amerika Beirut, Rami Khouri, mengatakan bahwa penunjukan Khamenei menandakan "kontinuitas" dan masih harus dilihat apakah pemimpin tertinggi yang baru akan mendorong negosiasi untuk mengakhiri perang.
Bagaimanapun, katanya, penunjukan itu adalah "tindakan pembangkangan". Iran "memberi tahu Amerika dan Israel; Kalian ingin menyingkirkan sistem kami? Nah... ini adalah orang yang lebih radikal daripada ayahnya yang dibunuh,'" ujar dia.
Heidari Alekasir, anggota Majelis Pakar yang bertugas memilih pemimpin tertinggi, mengatakan bahwa kandidat tersebut dipilih berdasarkan nasihat mendiang Khamenei bahwa pemimpin tertinggi Iran harus "dibenci oleh musuh" alih-alih dipuji olehnya.
"Bahkan Setan Besar [AS] pun menyebut namanya," kata ulama senior itu merujuk pada pernyataan Presiden AS Donald Trump sebelumnya bahwa Mojtaba Khamenei akan menjadi pilihan yang "tidak dapat diterima" baginya untuk memimpin Iran.
Militer Israel sebelumnya telah memperingatkan siapa pun yang menjadi penggantinya bahwa "kami tidak akan ragu untuk menargetkan Anda".
Pada hari Minggu, Trump kembali berjanji untuk memberikan pengaruh atas siapa yang dipilih sebagai pemimpin tertinggi Iran berikutnya, dengan mengatakan bahwa, tanpa persetujuan Washington, siapa pun yang dipilih untuk peran tersebut "tidak akan bertahan lama".
Pemilihan putra Khamenei pasti akan membuat Trump marah. (*/lsi/aljazeera)
(lsi)