LANGIT7.ID-, Teheran - Iran balas mengancam akan menghantam fasilitas minyak negara-negara di kawasan Teluk, yang berakibat meningkatkan kekhawatiran gangguan besar terhadap ekonomi global. Hal ini dilontarkan usai serangan udara Tel Aviv menghantam sejumlah fasilitas energi di sekitar ibu kota Teheran.
Akibatnya, konflik antara Iran dan Israel kembali memanas.
Seperti dilaporkan The Guardian, serangan udara yang dilakukan militer Israel menghantam sedikitnya lima lokasi energi di sekitar Teheran pada Minggu (8/3). Ledakan tersebut memicu bola api besar dan kepulan asap hitam yang menyelimuti langit kota.
Serangan tersebut menyebabkan empat pekerja di penyimpanan bahan bakar itu tewas, berdasarkan laporan perusahaan distribusi minyak Iran. Ledakan juga terdengar hingga kota Karaj yang berada di dekat ibu kota.
Baca juga: Trump Sesumbar Perang Segera Berakhir, Iran Balik Ancam Tak Akan Ekspor MinyakJuru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) memperingatkan bahwa Iran siap membalas jika serangan terhadap infrastruktur energi terus berlanjut.
"Jika Anda bisa menoleransi harga minyak lebih dari USD200 per barel (sekirAa Rp3,1 juta per barel), lanjutkan permainan ini," ujar juru bicara IRGC, seperti dikutip media pemerintah Iran, melalui CNBC, Selasa (10/3/2026).
Bukan sembarang ancaman, melainkan bisa memicu kekhawatiran pasar energi global. Seperti diketahui, Iran menyumbang sekira 4% produksi minyak dunia, dengan sebagian besar ekspornya dikirim ke China.
Di tengah meningkatnya ketegangan, pemerintah Amerika Serikat berupaya menenangkan pasar energi. Menteri Energi AS, Chris Wright, menegaskan bahwa Washington tidak akan menargetkan infrastruktur energi Iran.
"Serangan terhadap fasilitas minyak Iran dilakukan oleh Israel. Amerika Serikat tidak akan menargetkan infrastruktur energi Iran," kata Wright kepada CNN International.
Ia menilai potensi gangguan terhadap pasokan minyak dan gas global kemungkinan hanya berlangsung sementara yakni beberapa minggu saja.
Di sisi lain, dinamika politik di Iran juga berubah cepat. Para ulama yang memiliki kewenangan memilih pemimpin tertinggi Iran mengumumkan bahwa Mojtaba Khamenei terpilih sebagai pemimpin tertinggi baru menggantikan ayahnya, Ali Khamenei.
Baca juga: Mojtaba Khamenei Terpilih sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, Menggantikan Mendiang AyahDalam pernyataan yang disiarkan media pemerintah, majelis ulama menyebut keputusan tersebut diambil melalui "pemungutan suara yang menentukan" dan menyerukan rakyat Iran untuk bersatu mendukung kepemimpinan baru.
Pengangkatan Mojtaba Khamenei menjadi momen bersejarah karena untuk pertama kalinya sejak Iranian Revolution, posisi pemimpin tertinggi Iran berpindah dari ayah kepada anak.
Di sisi lain, terpilihnya Mojtaba dapat berpotensi memicu ketegangan lebih lanjut dengan Donald Trump yang sebelumnya menyatakan hasil tersebut tidak dapat diterima.
Trump bahkan memperingatkan bahwa pemimpin tertinggi Iran berikutnya "tidak akan bertahan lama" jika Teheran tidak mendapatkan persetujuannya terlebih dahulu.
(lsi)