LANGIT7.ID-, Jakarta - - Pemerintah memastikan penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M tetap berlangsung sesuai rencana meski ketegangan geopolitik di kawasan
Timur Tengah masih berlangsung. Hingga kini, belum ada perubahan jadwal keberangkatan jemaah Indonesia ke Arab Saudi.
Pemerintah melalui
Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menegaskan, kondisi terkini belum mengganggu pelaksanaan haji, dengan mempertimbangkan aktivitas umrah yang masih berjalan normal.
Kepala Biro Humas Kemenhaj, Hasan Afandi menyatakan bahwa hingga saat ini jadwal keberangkatan tetap mengacu pada rencana awal.
"Hingga saat ini belum ada perubahan jadwal penyelenggaraan haji. Kami berkaca pada pelaksanaan umrah yang masih terus berjalan hingga saat ini," ujarnya dalam keterangan tertulis, dikutip Sabtu (28/3/2026).
Ia berharap kondisi perjalanan jemaah baik saat berangkat maupun kembali ke Indonesia tetap kondusif. Ia berjanji pemerintah tetap melakukan koordinasi intensif dengan Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Perhubungan agar pelaksanaan haji berlangsung aman dan sesuai jadwal.
Baca juga: Keluarga Ungkap Harusnya Vidi Aldiano Ibadah Haji Tahun Ini, Ayah: Visa Sudah TerbitAdapun total kuota haji Indonesia tahun ini mencapai 221.000 jemaah. Rinciannya, sebanyak 203.320 jemaah haji reguler akan diberangkatkan melalui 16 embarkasi, sementara 17.680 lainnya merupakan jemaah haji khusus.
Mengenai penerbangan, jemaah haji reguler relatif dengan menggunakan sistem
direct flight. Sistem ini dinilai pemerintah lebih aman sebab sehingga tidak bergantung pada transit di kawasan yang berpotensi terdampak konflik.
"Penerbangan jemaah haji reguler menggunakan penerbangan direct. Dengan kondisi saat ini, Insya Allah tetap sesuai jadwal. Yang sedang kami perhatikan saat ini, untuk dimitigasi, adalah keberangkatan jemaah haji khusus yang menggunakan penerbangan transit," jelasnya.
Baca juga: Syarat Mahram dalam Haji: Antara Kewajiban Hukum dan Proteksi Bagi Jemaah PerempuanMeski begitu, pemerintah tetap menyiapkan langkah mitigasi atau skenario untuk menghadapi kemungkinan terburuk akibat konflik di Timur Tengah. Yaitu:
1. Arab Saudi tetap membuka layanan dan Indonesia tetap memberangkatkan jemaah dengan penyesuaian jalur penerbangan yang lebih jauh. Konsekuensinya adalah peningkatan biaya operasional penerbangan.
2. Layanan haji tetap dibuka oleh Arab Saudi, namun Indonesia memilih tidak memberangkatkan jemaah.
3. Jika Arab Saudi menutup layanan secara total, maka Indonesia juga akan membatalkan keberangkatan dengan fokus pada penyelamatan anggaran dan pengaturan antrean tahun berikutnya.
(lsi)