LANGIT7.ID - Dalam ajaran Islam maupun norma masyarakat, anak dituntut untuk berbakti kepada orang tua. Dalam masyarakat dikenal istilah durhaka yang ditujukan kepada anak yang tidak berbakti kepada orang tua. Tidak semua anak bisa berbakti dengan baik kepada kedua orang tua, namun tidak semua ayah dan ibu bisa menjalankan peran orang tua sebagaimana tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah.
Lalu, adakah konsep orang tua durhaka kepada anak? Istilah orang tua durhaka sebenarnya kurang tepat untuk digunakan, baik dari sisi bahasa Arab maupun bahasa Indonesia. dalam bahasa Indonesia kata durhaka merupakan sikap menolak atau tidak patuh kepada atasan. Sementara orang tua kepada anak bukan dalam kapasitas bawahan dan atasan.
Secara fitrah, posisi orang tua berada di atas anak. Kalau tidak patuh kepada orang tua, bisa disebut durhaka. Tetapi untuk orang tua, lebih tepat menggunakan istilah zalim. Orang tua zalim kepada anak.
Dalam bahasa Arab dikenal istilah
uquuqul waalidaiin (durhaka kepada orang tua). Bentuk durhaka dalam ayat Al-Qur’an disebutkan dalam surah Al-Isra ayat 23. Allah Ta’ala berfirman, “janganlah kalian berkata ‘ah’ kepada orang tua.”
Kata ‘ah’ merupakan simbol keengganan mematuhi orang tua. Memaknai
uffin ini, tidak harus berkata-kata, tetapi ekspresi penolakan secara umum, sudah bisa dikatakan durhaka.
Dalam konteks hubungan, orang tua dan anak memiliki hak dan kewajiban. Anak durhaka kepada orang tua termasuk dosa besar. Begitupun orang tua zalim kepada anak juga dosa besar.
Dalam Islam, perbuatan zalim adalah meletakkan sesuatu atau perkara bukan pada tempatnya. Kata ini juga biasa digunakan untuk melambangkan sifat kejam, bengis, tidak berperikemanusiaan. Dalam QS. Ali Imran Ayat 192, Allah Swt telah memberikan peringatan berupa ancaman bagi orang zalim.
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya orang yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh, Engkau telah menghinakannya, dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang yang zalim”
Baca Juga: Toxic Parenting, Orang Tua Ternyata Bisa Durhaka Pada Anak
Orang tua yang zalim adalah orang tua yang tidak memberikan hak anak namun menuntut banyak kepada anak. Akibatnya orang tua dijauhi sebab anak merasa tidak nyaman bersama orang tuanya. Istilah hari ini adalah orang tua yang toxic. Lalu bagaimana cara menghindari ‘syndrom’ orang tua toxic, agar tidak termasuk orang tua zalim?. Keluarga merupakan lingkungan utama dan pertama yang dikenal oleh anak. Maka dari itu, pola pengasuhan dan pola pendidikan yang diterapkan pada anak menjadi sangat penting, karena akan mempengaruhi perkembangan karakter dan kepribadian anak di kemudian hari.
Orang tua yang tidak pernah menghargai dan selalu menyalahkan anak akan mempengaruhi kondisi psikologis anak. Kondisi itu bisa jadi terus berlanjut hingga dewasa. Hal terpenting adalah nuansa kasih dan sayang antara orang tua dengan anak tercipta dengan baik. Maka komunikasi menjadi hal yang penting dalam membina hubungan baik antara orang tua dan anak. Hal ini diteladankan oleh Luqman Al Hakim kepada anaknya. Juga diteladankan oleh Ibrahim kepada Ismail.
Baca Juga: Saatnya Senda Gurau dengan Keluarga, Rasulullah Juga Lakukan Itu
Dengan begitu, anak akan merasa aman dan nyaman bersama orang tua. ketika anak sudah merasa aman dan nyaman, otomatis akan lebih terbuka. Rasa aman dan nyaman menjadi kunci agar orang tua dan anak mempunyai komunikasi yang enak dan saling terbuka.
Sumber: artikel cariustadz.id(jqf)