LANGIT7.ID - Tidak ada yang meragukan jika Rasulullah SAW merupakan manusia paling mulia yang pernah ada di muka bumi. Meski begitu, beliau tetap menempatkan diri sebagai seorang hamba. Ia tak menjadikan segala keistimewaan yang diberikan oleh Allah untuk menyombongkan diri di hadapan manusia.
اِنَّا فَتَحۡنَا لَكَ فَتۡحًا مُّبِيۡنًا لِّيَـغۡفِرَ لَكَ اللّٰهُ مَا تَقَدَّمَ مِنۡ ذَنۡۢبِكَ وَ مَا تَاَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعۡمَتَهٗ عَلَيۡكَ وَيَهۡدِيَكَ صِرَاطًا مُّسۡتَقِيۡمًا
“Sungguh, Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata. Agar Allah memberikan ampunan kepadamu (Muhammad) atas dosamu yang lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan menunjukimu ke jalan yang lurus,” (QS. Al-Fath: 1-2).
Baca Juga: Akhlak Rasulullah kepada Kaum Nasrani, Tetap Bersikap Baik Walau Tak Seakidah
Allah Ta’ala menjamin bahwa Rasulullah telah diampuni segala dosa-dosanya, baik yang telah lalu maupun yang akan datang. Itu sebuah jaminan yang tak bisa diragukan. Beliau adalah manusia yang bersih dari segala bentuk keburukan dan dosa.
“Ketika kita mendapati beliau di posisi ini, kita kemudian bertanya-tanya mengapa orang yang sudah dipastikan dosanya diampuni dan otomatis terjaga dari segala bentuk kesalahan, tapi ibadahnya, kedekatannya dengan Allah melebihi siapapun?” kata pakar Sirah Nabawiyah, Ustadz Asep Sobari, melalui kanal youtube Sirah Community, dikutip Sabtu (16/10/2021).
Baca Juga: Akhlak Rasulullah kepada Tawanan Perang, Memberikan Makan yang Enak
Rasulullah menempatkan diri sebagai hamba Allah yang taat. Beliau hamba yang selalu rindu dengan kekasihnya. Kerinduan beliau itu bisa dilihat saat mengatakan kepada Bilal menjelang adzan dan shalat, “Arihna biha ya Bilal..” (Ya Bilal, jadikalah azan dan shalat untuk mengistirahatkan kita, menenangkan kita).
Baginda Nabi Muhammad SAW menganggap dunia sebagai kesibukan yang selalu membuat gelisah dan galau. Beliau mendapatkan ketenangan saat menghadap Allah Ta’ala dalam shalat. Itulah Rasulullah. Beliau dengan segala kelebihan dan keunggulannya masih menempatkan diri untuk berada di posisi tertinggi manusia yang menghamba kepada-Nya.
Baca Juga: Akhlak Rasulullah Terhadap Musuh, Tidak Membenci dan Menguburkan Jasadnya Saat PerangSuatu ketika, ibunda Sayyidah Aisya, Istri beliau, bertanya, “Ya Rasulullah, mengapa engkau beribadah sekuat ini, bukankah Allah telah mengampuni dosa-dosamu, baik yang telah lalu maupun yang akan datang?
Rasulullah hanya menjawab yang patut menjadi renungan bagi kita semua.
“Tidakkah aku patut menjadi hamba Allah yang pandai bersyukur?”
“Bagi kita dekat kepada Allah adalah kebutuhan untuk meningkatkan kebaikan kita, menghapus dosa kita. Tapi bagi Rasulullah, mendekatkan diri kepada Allah, artinya adalah untuk meningkatkan derajatnya sebagai hamba yang bersyukur,” ucap Ustadz Asep Sobari.
(jqf)