Langit7, Temanggung - Tidak banyak orang mau menjadi petani karena dianggap sebagai pekerjaan kuno. Padahal, peluang di sektor pertanian cukup menjanjikan dan terbukti menjadi salah satu yang mampu bertahan disaat pandemi Covid-19.
Berbeda dengan muslim asal Temanggung, Juwarlan (45), memiliki profesi petani turun-temurun dari keluarga. Bahkan, ia menyebutkan tidak ada satu pun dari sesepuhnya yang berprofesi selain menjadi petani.
Sebagai petani di Desa Petarangan, Kecamatan Kledung, Kabupaten Temanggung, Juwarlan mengaku pengalamannya di bidang pertanian sudah cukup mumpuni. Dengan berbagai jenis tanaman komoditas yang pernah ia lakukan.
Baca juga: Lulusan Pesantren Asal Blitar Ini Sukses Jalankan Usaha Tanaman dan Ikan KoiDi desa yang terletak di lereng Gunung Sumbing itu, ia dibantu istrinya saat ini tengah berfokus mengelola lahan pertanian dengan komoditas bawang putih. Prospek bawang putih sendiri disebutkan memiliki harga dan permintaan yang relatif stabil di pasar.
Selain itu, ia juga mampu memanen bawang dari lahan seluas 1 hektare ini sebanyak 20 ton.
"Sejak 2016, pemerintah yang melakukan swasembada bawang putih, membuat kami menanam bawang putih yang membuat para petani cukup mendapatkan keuntungan," jelasnya dikanal Youtube Kementerian Pertanian RI.
Harga bawang putih, kata dia, mulai mengalami perbaikan sejak 2018 lalu, dengan harga benih mencapai Rp80 ribu. Sementera bawang basah yang mencapai Rp15 ribu.
"Untuk harga bawang kering magel bisa mencapai Rp30 ribu. Jadi dari harga itu mulai memberikan keuntungan bagi para petaninya," jelas dia.
Baca juga: Rintis Usaha Bermodal Sedekah, DN Auto Raup Jutaan Rupiah per PekanMenurutnya, untuk penanaman bawang yang baik, biasanya dilakukan pada bulan November dan Desember. Dengan masa panen sekitar tujuh bulanan.
"Kami bangga karena bawang di daerah kami ini mendapatkan penilaian dengan kualitas baik dari Kementerian Pertanian," jelasnya.
Menurutnya, untuk terus meningkatkan hasil panen dari petani lokal, diperlukan sosialisasi dari dinas terkait. Di mana kualitas bawang dari petani lokal juga tidak kalah dengan impor.
"Jadi ini bisa dinilai dari aroma dan rasa ketika dimasak. Hasil panen kami mampu bersaing dengan produk impor, tapi tetap butuh bantuan sosialisasi dari Dinas Pertanian. Kami juga butuh peran pemerintah dalam hal ini, karena sebagai petani hasil panen kami juga perlu tetap diperhatikan," tambahnya.
(zul)