Langit7, Mataram - Sebagian generasi milenial lebih menyukai hidup di perkotaan dengan berharap menjadi karyawan di sebuah perusahaan. Hal itu menyebabkan masih kurangnya generasi milenial yang terjun langsung di sektor pertanian.
Padahal, pertanian Indonesia terbukti menjadi sektor bisnis yang
sustainable. Apalagi kebutuhan pangan masyarakat sangat bergantung dari hasil panen sektor pertanian.
Berbeda dengan milenial asal Nusa Tenggara Barat (NTB), Muhammad Azwar Fuadi, melalui perusahaannya, CV Urip Tani Indonesia dan KPB Azwar Tani.
Baca juga: Berdiri Sejak Indonesia Belum Merdeka, Kwong Tung Tailor Tetap Eksis hingga Saat IniIa berupaya untuk memberikan terobosan di sektor pertanian melalui teknologi, termasuk penangkaran, bibit, pupuk, dan pestisida.
Duta Petani Milenial NTB menyebutkan, di daerahnya sendiri, biaya produksi sektor pertanian masih cukup tinggi. Selain itu, adanya ketergantungan dari petani di daerahnya terhadap pemakaian pupuk kimia juga dikhawatirkan merusak lingkungan.
"Ini berdampak panjang dengan kesuburan tanah. Kami berpikir untuk bisa mengurangi biaya produksi petani dan menerapkan teknologi hayati," ujarnya dikutip dari kanal YouTube Kementerian Pertanian RI.
Untuk bisa menemukan terobosan baru itu, Azwar sempat berkunjung ke berbagai negara hanya untuk mempelajari berbagai kemajuan yang telah berkembang di sektor pertanian. Menurutnya, dengan menggunakan teknologi organik bakal meningkatkan produktivitas para petani.
Dari situ, kini Azwar telah memproduksi pupuk organik hasil ciptaannya sendiri, yakni Bio Az-War. Ia mengaku, keunggulan pupuknya itu, yakni mampu memaksimalkan hara yang tersedia di dalam tanah.
"Kami berupaya untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia, dengan memanfaatkan sumber daya alam yang tersedia di sekitar," ujarnya.
Baca juga: Andil Dewan Rempah India dalam Perdagangan GlobalSelain itu, petani milenial ini juga seringkali memberikan penyuluhan kepada petani terkait pembuatan kompos, dan kebutuhan pertanian lainnya. Ia juga mengajak petani untuk bisa menggunakan teknologi yang cerdas iklim, dan mengurangi biaya produksi dengan meningkatkan produktivitas.
Paling tidak, kata dia, dengan menggunakan Bio Az-War dapat menekan 50 persen penggunaan pupuk kimia dan mampu meningkatkan produktivitas 25-35 persen.
"Ini sangat luar biasa, karena petani cerdas itu memang yang dibutuhkan di Nusa Tenggara Barat.
Melalui hal itu, bersama Kementerian Pertanian ia berharap, agar bisa berkontribusi memajukan pertanian di Tanah Air yang maju, mandiri dan modern.
"Ini adalah tulang punggung kedaulatan Indonesia di masa yang akan datang. Kita perlu memacu semangat dan berkecimpung di dunia pertanian ini, karena saya yakin anak muda dengan sentuhan teknologi bisa membuat pertanian memiliki nilai tambah ekonomi yang lebih layak," tambahnya.
(zul)