Langit7, Jakarta -
Global market value atau potensi pasar tanaman hias di dunia diketahui mencapai nilai Rp3 ribu triliun. Nilai itu lebih tinggi dibandingkan kopi dan teh.
Dari angka tersebut, dapat dikatakan tanaman hias memiliki potensi besar untuk dikembangkan di Indonesia. Sayangnya, Indonesia baru memenuhi ceruk pasar dunia sebesar 0,01 persen.
Untuk itu, Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki turut mendukung peningkatan nilai jual pada sektor tersebut. Hal itu dilakukan dengan penandatanganan MoU antara Minaqu Home Nature (Minaqu Indonesia dengan Koperasi Agro Tora Wajasakti.
Baca juga: Andil Dewan Rempah India dalam Perdagangan GlobalMinaquindonesia.com adalah bagian dari strategi pemasaran yang ditujukan untuk menyampaikan peluang besar bagi petani dalam meraih potensi pasar global dan peluang membawa produk pertanian Indonesia
go global.
Adapun fokus pasar ekspor
potted plant dari Minaqu Home Nature antara lain Jerman, Belanda, Inggris (United Kingdom/UK), Korea Selatan, Kanada, Polandia, Florida, Seattle, California (Amerika Serikat), Belgia, Norwegia, Perancis, Nigeria, Hongkong, Malaysia, Singapura, dan Australia.
"Saya sangat mengapresiasi atas apa yang telah dilakukan Minaqu Indonesia sebagai offtaker produk tanaman hias yang telah menggandeng kurang lebih 1.000 petani di Jawa Barat dan telah bermitra dengan 4 koperasi," kata Teten saat meninjau
Green House Minaqu Indonesia, Bogor, Selasa (19/10).
Baca juga: Kualitas dan Produk Turunan Kunci Pemasaran Komoditas RempahTeten berharap petani dapat dikonsolidasikan, sehingga mendapatkan lahan yang lebih layak. Konsolidasi itu bisa dilakukan melalui koperasi.
“Kalau sudah ada koperasi, para petani dapat fokus untuk berproduksi di lahan yang juga dikonsolidasikan menjadi skala ekonomi," kata Teten.
Baca juga: Indonesia Perlu Sasar Pasar China untuk Kebutuhan Ekspor RempahSelain itu, Teten menyebutkan Minaqu mencerminkan terjadinya proses
inclusive close loop. Di mana telah tercipta sebuah ekosistem terintegrasi dari hulu hingga hilir.
"Minaqu tidak hanya bertindak sebagai offtaker dari hasil produksi petani, tapi juga memberikan pendampingan mulai dari pembibitan, proses produksi, hingga pemasarannya untuk pasar ekspor," tambahnya.
(zul)