Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 17 April 2026
home lifestyle muslim detail berita

Ada 8 Adab Makan dalam Islam, Diantaranya Tidak Berlebihan

muhammad rifai akif Kamis, 21 Oktober 2021 - 15:52 WIB
Ada 8 Adab Makan dalam Islam, Diantaranya Tidak Berlebihan
Dalam Islam, makanan itu harus halalan thayyiban. Foto : LANGIT7/iStock
LANGIT7.ID - , Jakarta - Islam adalah agama yang luar biasa. Tak hanya mengatur cara beribadah, melainkan juga memberi petunjuk cara dan aturan hidup yang baik.

Termasuk adab makan juga menjadi perhatian dalam Islam. Sepintas memang aktivitas ini terlihat sederhana, tapi jika tidak mengamalkannya malah bisa berbalik pada buruknya kesehatan.

Apa sajakah yang termasuk adab makan dalam Islam? Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jakarta Utara KH. Ade Purnama Hadi menjelaskan terkait adab makan kepada Langit7, Kamis (21/10/2021).

1. Halalan thayyiban

Dalam Islam, makanan itu harus halalan thayyiban. Halal saja tidak cukup, tapi harus baik juga makanannya. Arti baik di sini adalah menyehatkan dan tidak mengandung penyakit. Dalilnya pun jelas tertera dalam surat Al-Baqarah.

Artinya: “Wahai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kalian” (QS al-Baqarah: 168).

Makna baik itu, jika ada seseorang alergi udang, maka udang tidak thayyib baginya. Makanan thayyiban adalah yang bermanfaat dan tidak berbahaya bagi diri sendiri atau orang lain.

Contohnya seperti rokok, karena ada unsur yang membahayakan bagi diri sendiri, maka rokok termasuk tidak thayyib.

2. Membaca bismillah

Islam mengajarkan untuk memulai sesuatu diawali dengan bismillah, agar hal tersebut tidak menjadi sia-sia.

Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Setiap perkara penting yang tidak dimulai dengan ‘bismillahirrahmanir rahiim’, amalan tersebut terputus berkahnya.”

Begitu juga soal makanan, jelas aturan untuk mengawalinya dengan mengucapkan bismillah yang berarti menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang.

3. Membaca doa sebelum dan sesudah makan

Membaca doa makan baik sebelum atau sesudah hendaknya diucapkan oleh seorang muslim yang baik. Ini sebagai ucapan syukur terhadap makanan yang tersedia dihadapan kita.

Doa ini umum, boleh bahasa Arab, bahasa Indonesia atau bahasa daerah. Doa ini juga boleh di dalam hati atau boleh juga diucapkan secara lantang.

Ada 8 Adab Makan dalam Islam, Diantaranya Tidak Berlebihan

4. Menggunakan tangan kanan

Sudah jelas disebutkan dalam hadits dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Jika seseorang di antara kalian makan, maka hendaknya dia makan dengan tangan kanannya. Jika minum maka hendaknya juga minum dengan tangan kanannya, karena setan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya pula.” (HR. Muslim).

Sehingga salah satu adab makan adalah dengan menggunakan tangan kanan, hal itu bertujuan untuk membedakan dengan cara makan setan yang menggunakan tangan kiri.

5. Makan sambil duduk

Dalam Hadits yang diceritakan Abu Sa'id Al-Khudri RA dijelaskan yang artinya: "Nabi SAW sungguh melarang dari minum sambil berdiri. (HR Muslim).

Menyesuaikan hadits ini para ulama sepakat menyatakan bahwa makan juga dilarang sambil berdiri.

6. Makanan jangan ditiup

Dalam sebuah hadits dijelaskan yang artinya, dari Ibnu Abbas RA bahwa Rasulullah SAW melarang bernafas di bejana atau melarang untuk meniup kepadanya (HR. At-Tirmidzi).

Menyadur dari ilmu kesehatan, larangan meniup tempat makanan dan minuman karena akan timbul bertemunya H2O (air dalam makanan atau minuman) dengan karbondioksida atau CO2 (udara yang ditiupkan dari mulut) akan menghasilkan asam karbonat atau H2CO3 yang bisa menyebabkan penyakit jika masuk ke dalam mulut.

7. Tidak berlebihan

Dalam ayat Al-Quran dijelaskan yang artinya, "Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas." (QS Al-Maidah: 87).

Berdasarkan ayat ini, jelas bahwa makan berlebihan tidak disukai oleh Allah SWT. Selain itu, lebih rinci lagi dijelaskan dalam sebuah hadits yang mengatur makan tidak lebih dari sepertiga saja, karena sisanya dibagi untuk air dan udara.

Ada 8 Adab Makan dalam Islam, Diantaranya Tidak Berlebihan

Dari Miqdam bin Ma’dikarib berkata: saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada bejana yang diisi oleh manusia yang lebih buruk dari perutnya, cukuplah baginya memakan beberapa suapan sekedar dapat menegakkan tulang punggungnya (memberi tenaga), jika tidak bisa demikian, maka hendaklah ia memenuhi sepertiga lambungnya untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk bernafas”. (HR. At-Tirmidzi).

Jika berlebihan dalam makan, yang terjadi tentu perut akan terasa terlalu kenyang, sedangkan jika terlalu kenyang hal ini juga tidak baik untuk tubuh. Berlebihan yang dimaksud di atas bukan hanya dilihat dari segi volume saja, tapi berlebihan juga bisa termasuk dari segi harga.

Sebagai muslim yang baik hendaknya tidak berlebihan dalam harga sebuah makanan, karena lebih baik uangnya dijadikan sedekah.

"Jadi kalau ada rasa bintang lima harga kaki lima, kenapa tidak?" ujar Ade Purnama.

8. Tidak boleh mubazir

Dalam ayat Al-Quran dijelaskan yang artinya: "Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya." (QS. Al-Isra : 27)

Pengertian mubazir dalam adab makan adalah ambil atau membeli makan secukupnya. Mengambil atau membeli makanan yang berlebihan kemudian tidak dihabiskan, jelas bagian dari mubazir.

"Praktik mubazir sering terlihat di acara-acara seperti resepsi, syukuran, dan sebagainya, mengambil banyak padahal berlebih," imbuh Ade Purnama.

(est)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 17 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:04
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)