Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 05 Juli 2026
home masjid detail berita

Empat Prinsip Hidup Muslim Menurut Imam Abu Dawud

ahmad zuhdi Ahad, 05 Juli 2026 - 17:00 WIB
Empat Prinsip Hidup Muslim Menurut Imam Abu Dawud
Empat Prinsip Hidup Muslim Menurut Imam Abu Dawud. Foto: Pexels/Muhammad Solikin.
LANGIT7.ID, Jakarta,- - ‎Menavigasi kehidupan di dunia yang kian kompleks membutuhkan kompas yang kokoh agar seorang Muslim tidak kehilangan arah. Di dalam khazanah Islam, panduan hidup sesungguhnya telah dirangkum secara luar biasa sejak ratusan tahun lalu oleh para ulama ahli hadis melalui penyaringan yang sangat ketat.

‎Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis) sekaligus ulama kharismatik, Allahu Yarham Al-Ustaz KH Aceng Zakaria, dalam bukunya yang berjudul 'Jabatanku Ibadahku', membagikan sebuah catatan empat prinsip hidup seorang muslim menurut Imam Abu Dawud.

Baca juga: Ajaran tentang Moral, Etika, dan Prinsip Hidup dalam Surat al-Isra

‎Ustaz Aceng menuliskan bagaimana seorang ulama besar, Imam Abu Dawud, mengumpulkan sekitar 500.000 riwayat hadis Nabi Muhammad SAW. Melalui proses sensor dan seleksi yang amat ketat untuk memisahkan mana riwayat yang sahih, hasan, hingga daif, Imam Abu Dawud akhirnya hanya memasukkan 4.800 hadis ke dalam kitab monumentalnya, Sunan Abi Dawud.

‎"Menariknya, dari ribuan hadis pilihan tersebut, beliau memerasnya kembali menjadi hanya empat hadis utama sebagai prinsip dasar hidup seorang muslim," tulis KH Aceng Zakaria dalam bukunya, dikutip Ahad (5/7/2026).

‎Berikut empat prinsip hidup universal yang menjadi pondasi keselamatan seorang Muslim menurut ulasan KH Aceng Zakaria:

‎1. Landasilah Seluruh Aktivitas Hidup dengan Niat Lillahi Ta'ala

‎Prinsip pertama bersandar pada hadis paling populer, yakni Innamal a'malu bin niyyat (Sesungguhnya setiap amalan itu bergantung pada niatnya). KH Aceng Zakaria membedah esensi ini melalui tata bahasa Arab pada ayat Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in (Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan).

‎Secara kaidah bahasa, mendahulukan objek (Iyyaka) sebelum kata kerja (na'budu) berfungsi memberikan penekanan (al-ihtimam) dan pengkhususan (al-hashr). Artinya, ibadah dan ketergantungan manusia sama sekali tidak boleh diduakan.

Baca juga: Kisah Cinta Abdullah bin Mubarak yang Membawanya Menjadi Ahli Hadis

‎"Niat yang lurus adalah syarat mutlak. Namun, niat yang benar harus berjalan beriringan dengan tata cara (kaifiyat) ibadah yang benar demi melahirkan ahsanul amala (amal terbaik) yang diridai Allah," urai beliau.

‎2. Tingkatkan Prestasi Hidup dengan Manajemen Waktu

‎Prinsip kedua diambil dari hadis, min husni islamil mar’i tarkuhu ma la ya’nihi (Di antara tanda kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya). Muslim yang berprestasi adalah mereka yang menghargai waktu.

‎KH Aceng Zakaria mengingatkan bahwa ketika Allah bersumpah menggunakan nama makhluk, seperti dalam Surah Al-Ashr (Demi Masa), artinya manusia diperintahkan untuk menaruh perhatian ekstra pada waktu dan kesempatan.

‎3. Cintailah Orang Lain Seperti Mencintai Diri Sendiri

‎Prinsip ketiga bersumber pada hadis bahwa tidak sempurna iman seseorang sampai ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri, baik dalam urusan agama maupun dunia. Penggunaan kata Na'budu (Kami menyembah) dalam shalat—bukan A'budu (Aku menyembah)—menurut KH Aceng Zakaria menanamkan dua hal.

Baca juga: Pesan Menyentuh dari Ustaz Aceng Zakaria untuk Alumni Persis

‎"Pertama, membangun rasa kebersamaan yang kokoh laksana satu tubuh (kaljasadil wahid). Kedua, menghilangkan keegoisan, di mana seorang muslim tidak akan merasa puas jika hanya dirinya sendiri yang masuk surga dan beribadah," jelasnya.

‎4. Tinggalkan yang Syubhat, Apalagi yang Haram

‎Prinsip terakhir adalah menjaga kesucian diri dengan menjauhi perkara yang samar-samar (syubhat) agar tidak terperosok ke dalam perkara yang haram. Dalam hal mencari nafkah, seorang muslim dituntut untuk mencari rezeki yang baik dan halal (kasban thayyiban), sebagaimana perintah dalam Surah Al-Baqarah ayat 267.

‎Dalam hadis riwayat Al-Bazzar dan Al-Hakim ketika Rasulullah SAW ditanya mengenai pekerjaan apa yang paling baik. Nabi SAW menjawab: Pekerjaan seorang laki-laki dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur (jujur dan tidak menipu).

(est)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 05 Juli 2026
Imsak
04:33
Shubuh
04:43
Dhuhur
12:01
Ashar
15:22
Maghrib
17:54
Isya
19:08
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan