LANGIT7.ID, Jakarta,- - Setiap orang tentu mendambakan kehidupan yang bahagia, berkah, dan tenang, baik selama menjalani kehidupan di dunia maupun kelak di akhirat. Di dalam
khazanah Islam, konsep kehidupan yang ideal dan berkualitas ini dikenal dengan istilah
Hayatan Thayyibatan (kehidupan yang baik).
Konsep komprehensif ini dibedah secara mendalam berdasarkan Al-Qur'an dan Sunah oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam (
PP Persis),
Ustaz Jeje Zaenudin. Ia memetakan enam pilar utama yang saling bertautan untuk mewujudkan tatanan hidup yang penuh berkah, dikutip Ahad (5/7/2026).
Baca juga: LPPOM Dorong Sinergi Regulator untuk Wujudkan Kosmetik Halal dan Thayyib1. Kalimah Thayyibah (Tauhid)
Arah hidup yang lurus bermula dari keimanan yang bersih. Ustaz Jeje mengutip
Surah Ibrahim ayat 24, di mana Allah mengibaratkan kalimat tauhid (
Laa ilaaha illallah) laksana pohon yang kokoh—akarnya menghujam kuat ke bumi dan cabangnya menjulang tinggi ke langit.
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِى ٱلسَّمَآءِ
"Tauhid adalah dasar dari segala kebaikan. Tanpa fondasi iman yang kuat, amal perbuatan manusia tidak akan bernilai di sisi Allah dan kehidupan akan mudah goyah saat diterpa badai ujian dunia," jelasnya.
2. Halalan Thayyiban (Rezeki yang Halal dan Baik)
Pilar kedua menyasar pada apa yang dikonsumsi manusia sehari-hari. Merujuk Surah An-Nahl ayat 114, umat Islam diperintahkan untuk hanya mengonsumsi makanan yang halal lagi baik.
فَكُلُوا۟ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُ حَلَٰلًا طَيِّبًا وَٱشْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
Aspek halal menjamin mengalirnya keberkahan yang kelak memengaruhi kebersihan jiwa dan pikiran. Sementara aspek thayyib memastikan makanan tersebut sehat, bergizi, dan aman bagi tubuh sebagai bentuk nyata rasa syukur kepada Sang Pencipta.
Baca juga: Respons Kiai Jeje Zaenudin Soal Penceramah Olok-Olok Bakul Es Teh
3. Kasban Thayyiban (Pekerjaan yang Baik)
Rezeki yang halal tentu harus lahir dari cara menjemput yang benar pula. Sesuai tuntunan Surah Al-Baqarah ayat 267 dan hadis riwayat Al-Bazzar serta Al-Hakim, Rasulullah SAW menegaskan bahwa profesi terbaik di dunia adalah pekerjaan yang dilakukan melalui hasil keringat tangan sendiri serta aktivitas perdagangan yang jujur (mabrur) tanpa penipuan.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَنفِقُوا۟ مِن طَيِّبَٰتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّآ أَخْرَجْنَا لَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ ۖ
سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ ؟ قَالَ عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُوْرٍ – رواه االبزار والحاكم
"Mencari nafkah sesuai syariat menjadi kunci utama keberkahan harta keluarga," ungkapnya.
4. Dzurriyyatan Thayyibatan (Keturunan yang Saleh)
Hayatan Thayyibatan tidak berhenti pada kebahagiaan individu, melainkan harus diwariskan ke generasi berikutnya. Meneladani doa Nabi Zakariya AS dalam Surah Ali Imran ayat 38, memiliki anak cucu yang saleh dan salihah adalah investasi akhirat terbesar yang doanya tidak akan terputus.
رَبِّ هَبْ لِى مِن لَّدُنكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ ٱلدُّعَآءِ
"Hal ini menuntut orang tua untuk aktif mendidik, menanamkan nilai moral, dan menjadi teladan nyata di rumah," urainya.
5. Baldatan Thayyibatan (Negeri yang Baik)
Kehidupan yang baik membutuhkan ekosistem lingkungan yang mendukung. Al-Qur'an menggambarkan lingkungan ideal ini dalam Surah Saba' ayat 15 dengan istilah Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur—negeri yang aman, adil, makmur, dan berada di bawah ampunan Allah.
Baca juga: Persis Dukung Mabes Polri Usut Tuntas Penembakan Siswa SMKN 4 Semarang
"Mewujudkan tatanan ini memerlukan kerja keras kolektif seluruh elemen masyarakat dalam menjaga keadilan, ketertiban, dan mengamalkan nilai agama secara beriringan," katanya.
6. Maskana Thayyibah (Tempat Tinggal di Surga)
Puncak tertinggi dari seluruh perjuangan membangun kehidupan yang baik di dunia adalah meraih Maskana Thayyibah, yaitu tempat tinggal terbaik di surga 'Adn, yang disempurnakan oleh keridaan Allah SWT (QS. At-Taubah: 72).
وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ جَنَّٰتٍ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا وَمَسَٰكِنَ طَيِّبَةً فِى جَنَّٰتِ عَدْنٍ ۚ وَرِضْوَٰنٌ مِّنَ ٱللَّهِ أَكْبَرُ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ
"Mari kita berkomitmen kuat untuk menempatkan diri ke dalam golongan yang terakhir, yaitu menjadi pribadi yang selalu berpacu dalam kebaikan agar mampu merengkuh Hayatan Thayyibatan yang utuh di dunia dan memanen puncaknya di akhirat kelak," pungkasnya.
(est)