Langit7, Jakarta - Sertifikasi
Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) menjadi penting bagi petani kelapa sawit skala kecil. Salah satu poin dari sertifikasi baik ISPO atau RSPO yakni, dapat mengorganisir petani skala kecil dalam satu kelembagaan.
Ketua Serikat Petani Kelapa Sawit, Manselius Darto mengatakan, para petani kelapa sawit skala kecil biasanya terpencar. Dengan adanya sertifikasi ISPO, diharapkan dapat membuat para petani tergabung dalam satu lembaga, untuk dapat meningkatkan kinerjanya.
“Terkait dengan ISPO seperti ini juga bahwa para petani sawit di daerah skala kecil mereka berpencar-pencar. Penting ada
road map yang jelas. Kelembagaan petaninya juga harus dibuat secara rapi,” kata Darto saat webinar dikanal Youtube Narasi Institute, Selasa (19/10).
Baca juga: Maruf Amin Sebut Pesantren Sebagai Agen Pemberdayaan Ekonomi UmmatSelain itu, Darto juga mendorong adanya kemitraan antara petani kelapa sawit dengan korporasi. Melalui kemitraan, diyakini dapat menjadikan petani kecil lebih terbantu dalam mengolah perkebunan kelapa sawit.
Sementara transformasi dalam pengelolaan kelapa sawit di Indonesia, diharapkan dapat berpihak kepada para petani kecil.
“Penting untuk perbaikan di level pabrik. Saat ini petani menjual ke tengkulak rantai suplai terlalu panjang. Kemudian sistem ini perlu diubah agar ada kemitraan yang lebih baik dan membutuhkan peran pihak perusahaan untuk melakukan pemberdayaan bagi para petani sawit skala kecil di daerah,” ujarnya.
Menanggapi hal itu, Deputi Bidang Pangan dan Agribisnis Kementerian Koordinator Perekonomian, Musdalifah Mahmud menyebutkan pentingnya sertifikasi petani kecil untuk mendukung pengembangan kelapa sawit berkelanjutan di Indonesia.
Kelapa sawit dianggap sebagai komoditas terpenting baik bagi perekonomian maupun kesejahteraan banyak petani kecil
Dari data yang ada, kontribusi minyak sawit terhadap menyerap lebih dari 16,2 juta pekerja. Sementara total ekspor sekitar USD20,38 miliar per Agustus 2021.
Baca juga: Rifan Nurdiansyah, Petani Milenial Sukses Ajak Anak Muda Garap Sektor PertanianDengan total luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia telah mencapai 16,3 juta hektare tersebar di 26 provinsi dan 217 kabupaten.
"Terkait petani sawit, banyak isu mendesak mengenai perkebunan skema plasma, termasuk produktivitas yang rendah karena rendahnya kualitas pupuk, kurangnya pengetahuan tentang praktik pertanian yang baik (GAP), organisasi yang buruk, dan kurangnya akses ke bantuan modal dan keuangan," ujarnya.
Untuk itu, pihaknya meminta agar petani segera mengadaptasi sertifikasi ISPO. Hal itu dilakukan gunamengatasi persoalan produktivitas.
(zul)